Ngariung di ITB

waktu baca 5 menit
Anies Baswedan hadiri Ngariung 1000 alumni ITB. (isrimewa)

KEMPALAN: Orang Surabaya menyebut ‘’Cangkruk’an’’. Orang Sunda menyebut ‘’Ngariung’’. Dua istilah itu menggambarkan kumpul-kumpul sesama teman, sambil mengobrol ngalur-ngidul dan minum kopi sambil makan camilan. Cangkruk’an dan Ngariung adalah mekanisme kumpul-kumpul khas masyarakat pedesaan yang bercirikan paguyuban. Kebiasaan ini makin terkikis oleh individualisme masyarakat kota yang bercirikan masyarakat patembayan yang longgar.

Pekan ini para alumni ITB (Institut Teknologi Bandung) mengadakan acara ngariung yang mengumpulkan seribu orang alumni. Acara ini bukan ngariung biasa, karena menghadirkan Anies Baswedan sebagai calon presiden dari Koalisi Perubahan. Dengan hanya mendatangkan Anies sudah bisa diketahui obrolan dalam acara ngariung diarahkan menuju gerakan perubahan.

Acaranya diberi tajuk ‘’Ngariung Seribu Alumni ITB’’ dilaksanakan di Bandung, Ahad (1/10). Meskipun tajuknya menyebut seribu alumni, tapi yang hadir mungkin tidak sampai seribu. Netizen yang kritis mempertanyakan apakah jumlah yang hadir mencapai seribu. Syahganda Nainggolan yang menjadi inisiator mengatakan acara ngariung ini bukan untuk mencari kuantitas, tapi lebih mementingkan kualitas. Seribu orang dengan kualitas Habibie. Begitu kata Nainggolan.

Kata seribu tidak berarti harus diartikan harfiah. Seribu adalah ungkapan untuk menggambarkan jumlah yang banyak. Seribu juga menjadi ungkapan bagi kebesaran dan keterbukaan hati. Orang Jawa menyebut ‘’nyuwun sewu’’, harfiah artinya ‘’minta seribu’’ ketika lewat dan permisi di depan sekerumunan orang. Orang Sunda cukup mengatakan ‘’punten’’, artinya ‘’maaf’’, mirip orag Inggris yang mengatakan ‘’excuse me’’ ketika lewat di depan orang.

Ada juga hewan yang dinamai kaki seribu. Tentu tidak ada yang pernah menghitung apakah kakinya benar-benar berjumlah seribu. Mungkin juga sudah pernah ada ahli biologi yang meneliti dan menghitung jumlah kaki seribu. Nama kaki seribu menjadi kesepakatan sosial untuk menggambarkan hewan melata yang kakinya amat sangat banyak itu. Saking banyaknya sampai ‘’ibu dan bapak kaki seribu’’ pusing ketika anaknya minta dibelikan sepatu baru saat tahun ajaran baru.

Ngariung Seribu Alumni ITB adalah ngariung kualitas yang dihadiri oleh alumni ITB dari berbagai angkatan. Kampus ITB terkenal sebagai salah satu kampus perjuangan yang aktivisnya gigih menentang ketidakadilan rezim di masa silam. ITB menjadi salah satu pusat aktivisme mahasiswa sejak era 70-an sampai sekarang.

Bagi Anies Baswedan, menghadiri acara ngariung ITB ini seperti masuk ke comfort zone. Sebagai mantan aktivis mahasiswa, acara ngariung ini bagi Anies seperti ikan yang dicemplungkan ke dalam kolam air. Anies hidup, berenang dengan gembira, dan memamerkan kontrolnya yang kuat terhadap ide-ide intelektualitas di kampus.

Dibanading dua pesaingnya yang lain Anies jelas paling merasa nyaman berada di lingkungan kampus. Sejak awal Anies sudah ‘’menantang’’ para pesaingnya untuk adu gagasan menjeang pilpres 2024. Bahkan Anies menyindir dengan mengatakan ia akan kalah kalau diajak adu lari atau adu balap sepeda. Tetapi, kalau diajak adu gagasan, Anies tidak bakal mundur.

Dan hal itu sudah terbukti ketika Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto diundang untuk adu gagasan oleh mahasiswa UI (Universitas Indonesia) Jakarta dan UGM (Universitas Gadjah Mada), Yogyakarta. Dalam dua acara itu terlihat jelas bahwa Anies lebih menguasai gagasan-gagasan intelektual ketimbang dua pesaingnya.

Di UI Anies bisa ‘’at home’’ asyik mendiskusikan berbagai hal mengenai paradigma pembangunan ekonomi. Ganjar juga ditanya mengenai pembangunan paradigma ekonomi. Tapi, beda dengan Anies yang bisa menjawab dengan memakai teori-teori makro, Ganjar lebih suka bercerita mengenai pengalaman empirisnya selama menjadi gubernur Jawa Tengah.

Pada acara di UGM Anies seperti pulang kampung. Demikian halnya Ganjar. Dua-duanya adalah alumni UGM pada fakultas yang berbeda. Ganjar dari Fisipol dan Anies dari Fakultas Ekonomi. Di depan presenter Najwa Sihab yang memandu acara Ganjar terlihat cukup pede ketika menjawab berbagai pertanyaan. Tapi akhirnya dia kepeleset ketika memberikan jawaban yang dianggap melecehkan profesi jurnalis dan MC. Alih-alih mendapat pujian Ganjar malah dirujak netizen.

Lagu ‘’Ikan di Dalam Kolam’’ yang lagi viral bisa menggambarkan kiprah Anies di kampus. Dia benar-benar nyaman dana man. Di dua kampus terkemuka itu Anies bisa unggul dari pesaingnya. Dan kalau acara ‘’Ngariung di ITB’’ juga mengundang Ganjar dan Prabowo sangat mungkin Anies akan mencetak hattrick.

Pepatah Inggris mengatakan ‘’Strike while the iron is hot’’, tempalah besi ketika masih panas. Anies benar-benar menempa besi ketika masih panas-panasnya. Sukses di acara UI dan UGM Anies langsung menyerang ITB. Syahganda Nainggolan tahu betul bagaimana caranya memberi kolam kepada Anies.

Gagasan utama dalam ngariung adalah memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pembangunan. Tema utama adalah ‘’pembangunan berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan moralitas’’.

Teknologi sebagai anak kandung sains atau ilmu pengetahuan sering ditempatkan pada posisi diametral yang berseberangan. Sains disebut sebagai bebas nilai dan juga bebas moralitas. Salah satu kontroversi paling ramai adalah penggunaan organ babi untuk cangkok jantung.

Bagi Anies, ilmu pengetahuan, teknologi dan moralitas harus menjadi bagian dari pengambilan keputusan dalam pemerintahan. Scientific decision sangat diperlukan dalam mengambil keputusan-kelutusan penting. Salah satunya adalah ketika terjadi Pandemi Covid-19. Ketika itu, keputusan-keputusan strategis diambil berdasarkan scientific consideration.

Ilmuwan dan pemerintahan mempunyai hubungan yang erat. Sejak era kemerdekaan di bawa Presiden Pertama Sukarno Indonesia dipimpin oleh kalangan intelektual-aktivis. Bung Karno, Hatta, Sjahrir, Supomo, dan para founding fathers Indonesia adalah para politisi cum intelektual.

Presiden kedua Soeharto tidak dikenal sebagai intelektual, tetapi dia menyadari pentingnya paradigma pembangunan yang dirumuskan oleh para intelektual. Pak Harto memutuskan memilih paradigma pembangunan kapitalistik ala ekonom Prof. Widjojo Nitisastro ketimbang paradigma sosialistis yang diajukan oleh Prof. Sarbini Sumawinata. Ini adalah keputusan intelektual oleh Pak Harto.

Kemudian Pak Harto memakai banyak teknokrat dari kampus untuk menjadi menteri. Pilihan ini menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat, meskipun pondasinya tidak kokoh sehingga ambruk tertimpa badai krisis ekonomi 1996.

Anies Baswedan mempunyai basis intelektual yang mumpuni. Ia mempunyai basis intelektual yang cukup di bidang ekonomi, dan dia menguasai teori politik karena mendapatkan gelar doktor di Amerika.

Di tengah situasi geopolitik internasional yang sangat kompleks dan menantang seperti sekarang, dibutuhkan seorang pemimpin yang paham paradigma pembangunan, sekaligus mengerti jerohan politik nasional dan internasional. ()

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *