Vaksin Datang, Wabah PMK Tumbang

waktu baca 13 menit
drh. Anung Wibowo, Koordinator Vaksinator Wilayah Kecamatan Pujon menunjukkan barcode pada telinga sapi yang telah divaksin.

SURABAYA-KEMPALAN: Munculnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak selama periode 2022 hingga 2023 lalu benar-benar membawa kesengsaraan bagi para peternak sapi di Jawa Timur. Saat itu, banyak sapi yang terserang dan mati. Peternak pun merugi. Beruntung vaksin datang, sehingga PMK berhasil disingkirkan.  

PMK memang menjadi momok bagi peternak sapi. Wabah ini bisa menyebabkan luka pada puting susu sapi, sehingga tidak bisa diperah. Mulut sapi luka, sehingga sapi tidak sehat karena jarang makan.  Hal ini tentu berpengaruh pada produksi susu.

PMK juga menyebabkan luka pada kaki sapi, sehingga tidak kuat berdiri karena kondisinya lemah yang mempengaruhi birahinya. Kalau toh ada yang birahi sampai hamil atau bunting, anak sapi atau pedet yang dilahirkan tidak sehat, bahkan rentan mati.

Berdasarkan data Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, tercatat selama kurun waktu 2022 hingga 2023 ada 199.972 kasus PMK yang tersebar di 38 kabupaten/kota di Jatim.

Dari jumlah kasus tersebut, tercatat 4.414 ekor sapi mati dan 2.707 ekor terpaksa dipotong oleh pemiliknya. Ada juga yang dijual murah untuk menghindari kerugian lebih besar. Pasalnya, jika sapi  sampai mati, pemiliknya harus mengeluarkan biaya tambahan yang tidak sedikit untuk penguburan.

Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur Indyah Aryani saat acara Refleksi Pengendalian Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Grand Dafam Hotel Surabaya, Kamis (24/8/2023), mengungkapkan, kasus PMK pertama kali dilaporkan masuk Jatim pada 28 April 2022 di Kabupaten Gresik. Kala itu, 402 ekor sapi diindikasikan PMK dan tersebar di 22 desa di 15 kecamatan. Setelah itu, kasus ini dengan cepat menyebar ke daerah lain.

Pada 1 Mei 2022 pagi, PMK menyerang Kabupaten Lamongan. Sebanyak 102 ekor sapi terjangkit di 6 desa di 3 kecamatan. Malamnya, menyusul Kabupaten Sidoarjo. Sebanyak 595 ekor sapi dan kerbau juga terindikasi PMK. Kasus ini menyerang 14 desa di 11 kecamatan.

Berikutnya, laporan kasus PMK datang dari Kabupaten Mojokerto.  Sebanyak 148 ekor sapi diindikasikan terpapar PMK. Menyerang 19 desa di 9 kecamatan. “Berdasarkan hasil uji laboratorium pada 5 Mei 2022, seluruh sampel yang diambil dari Gresik, Lamongan, Sidoarjo, dan Mojokerto dinyatakan positif PMK,” kata Indyah Aryani.

Melihat kondisi tersebut, Dinas Peternakan Jawa Timur bergerak cepat. Dinas ini langsung mengajukan surat permohon pada Menteri Pertanian supaya empat daerah itu ditetapkan sabagai wilayah terjangkit wabah PMK.

Atas dasar surat itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa lantas mengeluarkan Keputusan Gubernur (Kepgub) No. 188/362/KPTS/013/2022 tentang penetapan status keadaan darurat bencana PMK tertanggal 6 Mei 2022. Kemudian, pada 9 Mei 2022, keluarlah Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) No. 403/2023 tentang penetapan daerah wabah PMK di Gresik, Lamongan, Sidoarjo, dan Mojokerto.

Setelah itu, pada tanggal 25 Juni 2022, keluar Kepmentan No. 500.1/2022 tentang penetapan daerah wabah PMK di seluruh Kabupaten dan Kota di Jatim. “Dari sinilah kemudian kita lakukan berbagai upaya pengendalian dan penanggulangan yang didukung langsung oleh pemerintah pusat. Termasuk bantuan vaksin,” terang wanita yang akrab disapa Indy itu.

Berdasarkan catatan Dinas Peternakan, kondisi terparah atau puncak kasus PMK di Jatim terjadi pada bulan Mei sampai Agustus 2022. Pada masa itu, rata-rata bisa mencapai 6.000 kasus per hari. Saat itulah banyak hewan ternak yang mati sehingga peternak mengalami kerugian cukup besar.

Tak pelak, kondisi ini membuat para peternak panik. Termasuk para peternak sapi perah di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.  Khususnya yang tergabung dalam Koperasi SAE Pujon. Mereka yang sebelumnya bisa meraup keuntungan cukup besar dari usaha sapi perah miliknya, harus merugi setelah munculnya wabah PMK.   

Salah satunya dialami Hariyanto. Peternak asal Desa Pujon Lor, Kecamatan Pujon, ini mengaku mempunyai 17 ekor sapi perah. Saat itu, tujuh ekor di antaranya dalam kondisi bunting. Namun, akibat munculnya wabah PMK pada pertengahan tahun 2022, lima anak sapi atau pedet tidak bisa bertahan lama dan mati.

“Saat itu semua sapi sakit. Kita sudah berupaya mengobati, induknya tidak mati, tapi lima pedet begitu lahir kemudian mati,” ungkap peternak sapi yang juga Ketua I Koperasi SAE Pujon ini saat ditemui di Pujon, Senin (28/8/2023).

Akibat serangan wabah PMK ini pula dua sapi miliknya mengalami keguguran dan tiga lainnya kesulitan bunting, sehingga perlu penanganan. Kondisi itu diperparah dengan menurunnya produksi susu dari sapi-sapinya, sehingga penghasilan dari menjual susu pun turun drastis.

“Normalnya dapat 15 liter per ekor per hari. Akibat terkena wabah PMK, tinggal lima liter karena sapinya tidak mau makan,” ujar Hariyanto seraya menjelaskan bahwa sapi yang terkena PMK dua hari berikutnya rata-rata sudah tidak memproduksi susu. “Bisa produksi, tapi hanya satu liter,” sambungnya.

Tidak hanya peternak yang merugi, tapi juga Koperasi SAE Pujon. Pasalnnya, koperasi yang beranggotakan sekitar 9.000 peternak sapi perah di Pujon ini tetap menerima penjualan susu dari anggotannya. Sebab, jika tidak diterima maka para peternak tidak punya menghasilan lagi.

Padahal, menurut penuturan Hariyanto, susu dari sapi yang terinfeksi PMK tidak layak jual. Apalagi, pihak Industri Pengolah Susu (IPS) yang biasanya membeli susu dari Koperasi SAE banyak yang memutus pembelian. Kalau toh ada yang beli, harganya jauh di bawah harga pasar. ”Koperasi membeli dari peternak dengan harga normal Rp 6.500 per liter, namun terkadang hanya terjual Rp 2.800 per liter,” tutur Hariyanto yang mengaku sudah sejak 1987 menekuni usaha sapi perah.

Sekrataris Koperasi SAE Pujon Nur Kayin menambahkan, pembelian harus dilakukan. Sebab, koperasi besar dari para peternak. Termasuk susu yang terkontaminasi antibiotic. Dibeli dengan harga normal. Susu yang tidak layak dikonsumsi tersebut lantas dikonfersikan untuk diminum pedet. ”Jika tidak habis, terpaksa kita buang,”ucapnya.

Nur Kayin yang memiliki 52 ekor sapi dan lima di antaranya mati akibat terserang wabah PMK ini menjelaskan, dalam sebulan Koperasi SAE Pujon membeli sekitar 20 ton susu per hari atau 600 ton sebulan. Sehingga, koperasi rugi sekitar Rp 11 miliar selama penanganan PMK.  

Kepala Dinas Peternakan Jatim Indyah Aryani

“Padahal 63% warga di Pujon ini tergantung susu. Waktu muncul wabah PMK, ekonomi mereka langsung turun drastis 50%.  Dari 125 ton per hari menjadi 60 ton per hari,” jelasnya. Sampai sekarang kondisi itu masih belum pulih.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Malang Eko Wahyu Widodo menjelaskan, di Kabupaten Malang setidaknya ada 682 ribu ekor hewan ternak yang rentan terserang PMK.

“Ini cukup besar. Memang ada kabupaten kota di Jawa Timur yang lebih besar, tapi khusus sapi perah, kita di Kabupaten Malang cukup banyak. Populasinya kurang lebih 88.000. Karena kemarin ada kasus PMK, kurang lebih 20.000 terdampak,” katanya saat berada di Pujon, Senin (28/8/2023) lalu.

Wabah PMK juga berdampak terhadap perekonomian masyarakat Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Warga dusun yang jumlah populasi sapinya mengalahkan jumlah penduduk ini sangat terpukul. Pasalnya, selama PMK menyerang, jumlah populasi sapi berkurang banyak. Dari 1.500 ekor, 300 ekor mati, sehingga tersisa 1.200 ekor.

Dusun Brau sendiri berada di kaki Gunung Banyak. Jarak dari pusat Kota Batu sekitar 7,5 kilometer. Dusun ini dikenal sebagai sentra penghasil susu sapi karena mayoritas warganya peternak sapi perah. Penduduknya berjumlah sekitar 500-an orang, namun sapi perahnya sekitar 1.200 ekor.

Selain susu cair, susu yang dihasilkan dikembangkan menjadi produk olahan lain. Ada permen susu, stik susu, pia susu, keripik susu, labu susu, dan keju mozarella. Omzet yang dihasilkan mencapai Rp 200 juta per bulan. Ini tentu luar biasa, mengingat Brau hanyalah dusun kecil kecil yang lokasinya terpencil di Kota Batu.

Yang menarik, kini produk olahannya sudah tersebar di kafe-kafe maupun rumah makan di beberapa kota besar. Tidak hanya di Malang Raya, tapi juga Surabaya, Semarang, Bandung, dan Jakarta. Bahkan, diyakini tidak lama lagi akan menembus pasar ekspor.

Di Dusun Brau, salah satu pengelolanya adalah kelompok tani Margo Mulyo yang diketuai Muhammad Munir. Namun, karena wajahnya yang mirip orang India dengan perawakannya yang tinggi besar, warga lebih akrab memanggilnya Munir Khan.

Munir Khan juga menjadi peternak sapi perah di Dusun Brau. Dia menuturkan, selain banyak sapi yang mati, produksi susu juga menurun drastis saat muncul wabah PMK. Jumlah produksi yang awalnya mencapai 7.500 liter per hari, turun jadi 2.500 liter per hari dari seluruh peternak. Selain itu, kualitas susu yang dihasilkan juga tidak terlalu bagus.

Padahal, selama PMK melanda, berbagai upaya dilakukan peternak agar sapi yang terpapar PMK bisa sembuh. Di antaranya dengan menggunakan ramuan tradisional, makanan tambahan, sampai berbagai macam obat-obatan. Termasuk betadine ikut disemprotkan.

“Di sini (Dusun Brau), seluruh sapi terjangkit PMK. Tidak ada yang tidak. Bahkan ada warga yang sudah menutup rapat kandangnya dengan terpal untuk menghalau PMK, tapi tetap saja sapi itu terserang,” jelas Munir Khan ketika ditemui di tempat produksi keju mozarela di Dusun Brau, Rabu (30/8/2023).

Padahal, kata Munir Khan, seluruh warga Dusun Brau mengandalkan penghasilan dari susu. Kampung yang dulunya dikenal sebagai kampung preman (buruh tani), telah berubah menjadi kampung susu. Dan seluruh warganya pun beralih profesi menjadi peternak sapi perah.

Bahkan, di dusun ini susu sudah menjadi industri rumahan karena semua keluarga terlibat. Bapak, ibu, dan anak-anaknya sama-sama menggantungkan hidup dari hasil perahan susu sapi.

Akhirnya Vaksin Datang

Beruntung pemerintah segera tanggap dan melakukan vaksinasi. Hal ini seiring terbitnya Kepmentan No. 500.1/2022 tentang penetapan daerah wabah PMK di seluruh Kabupaten dan Kota di Jatim.

Meskipun vaksin pertama belum menunjukkan dampak signifikan, namun setelah dilakukan vaksin kedua kondisi sapi terlihat mulai membaik. “Alhamdulillah, sekarang di sini (Dusun Brau) sudah tidak ada lagi kasus PMK. Kami berharap, mudah-mudahan setelah ini tidak ada lagi kasus PMK atau sejenisnya,” harap Munir Khan yang kini sudah mulai bisa tersenyum kembali meski usaha sapi susu sapinya belum pulih 100 persen.

Kepala Dinas Peternakan Jatim Indyah Aryani membeberkan, saat ini vaksinasi sudah menjangkau 38 kabupaten dan kota di Jatim. Jatim sendiri mendapatkan alokasi vaksin PMK hingga 7.266.950 dosis. Dari jumlah itu, 6.761.694 dosis atau sekitar 93% sudah terealisasi per Agustus 2023.

Menurut Indy, dari realisasi tersebut mampu memvaksin 2.106.592 ekor sapi potong dari total populasi sebanyak 4,9 juta ekor, 201.995 ekor sapi perah dari total populasi 301.000 ekor, dan 3.717 ekor kerbau dari total populasi 18.982 ekor. Kemudian, 1.515.555 ekor kambing dari total populasi 3,7 juta ekor, 419.538 ekor domba dari total populasi 1,4 juta ekor, dan 32.232 ekor babi dari total populasi 48.780 ekor.

Sementara itu, jumlah vaksinasi PMK di Jatim pada 2022 mencapai 2.532.879 dosis. Vaksinasi ini terbagi menjadi dua tahap. Sedangkan pada tahun 2023 hingga Agustus mencapai 4.113.532 dosis yang terbagi menjadi vaksin pertama, kedua, dan booster.

Vaksinasi yang sudah dilakukan kini hampir menembus 6,8 juta dari target 7,3 juta untuk 2023. Jumlah ini merupakan vaksinasi terbanyak di Indonesia. “Vaksinasi kita bisa tembus 17.600 per hari. Sesuai komitemen bersama, target kita 2003 adalah 7,3 juta dosis,” jelasnya.

Vaksin ini satu-satunya cara untuk mengendalian selain pengobatan. Vaksin ini targetnya 90% dari populasi yang ada. Yakni 10,4 juta ekor sapi, kambing, domba, dan babi. “Targetnya kita vaksin 100%, karena saat ini vaksinya tersedia. Tinggal bagaimana kita me-manage waktu dan menyelesaikan yang 10,4 juta ini,” tandasnya.

Petugas vaksinator sedang bersiap menyuntik sapi agar terhindar dari wabah PMK.

Saat ini kondisi PMK di Jatim dinyatakan sudah membaik. Hal itu berdasarkan penetapan dari POV (Pejabat Otoritas Veteriner) nasional. “Kalau kemarin kita dalam kondisi wabah, saat ini dinyatakan sebagai kondisi tertular, sehingga statusnya sudah menurun,” ujarnya.

Ini karena komitmen dari semua pihak. Termasuk komitmen gubernur, komitmen kepala daerah di kabupaten dan kota, komitmen dari dinas teknis yang menangani, baik dari pemerintah pusat, kabupaten, kota, dan steakholder. Juga support dari TNI dan Polri.

Indy juga mengatakan, vaksinasi yang sudah dilakukan hampir menembut 6,8 juta dari target 7,3 juta untuk 2023. Jumlah ini merupakan vaksinasi terbanyalk di Indonesia, dan sebagai bagian dari keberhasilan Jatim membangun tim besar yang melibatkan semua lini.

Dia menegaskan bahwa dengan penyelesaian vaksinasi PMK ini, maka Jatim bisa bebas tanpa vaksinasi pada 2023 hingga 2035. Dia juga menyampaikan bahwa perkembangan PMK setelah dilakukan vaksinasi selama setahun terakhir menunjukkan adanya penurunan angka PMK sangat signifikan.

Berdasarkan data dari Dinas Peternakan Jatim, sejak Agustus 2023 sudah tidak ditemukan lagi kasus PMK di Jatim. Selain tidak ada kasus baru yang ditemukan, juga sudah tidak ada sapi yang sakit. Termasuk kasus kematian dan potong paksa. Sudah tidak ada lagi atau nol persen.

Sekadar diketahui. Selama PMK, Pemprov Jatim melalui Dinas Peternakan telah memberikan berbagai kompensasi pada peternak. Di antaranya berupa kompensasi kematian ternak dan potong paksa bersyarat akibat PMK, bantuan pakan ternak berupa konsentrat, kawin suntik gratis, hingga Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Untuk kompensasi kematian ternak, jumlahnya mencapai 3.464 ekor hewan, terdiri dari 3.429 ekor sapi dan 35 ekor kambing. Total nilai kompensasi yang dikucurkan sebesar Rp 32,9 miliar.

Bantuan pakan ternak berupa konsentrat diberikan untuk 72.450 ekor sapi perah terdampak PMK. Totalnya mencapai 3.622 ton. Untuk kawin suntik gratis atau inseminasi buatan, diberikan kepada 1,9 juta akseptor.

Sedang bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) diberikan dengan alokasi anggaran hingga Rp 6,2 triliun. Di antaranya diberikan pada 144.646 debitur pada 2022 atau sebanyak Rp 5,2 triliun. Sementara pada 2023 ada 26.098 debitur dengan nilai Rp 1,1 triliun.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Malang Eko Wahyu Widodo mengatakan, dari 20 ribu kasus PMK yang terjadi, tingkat kesembuhan setelah vaksinasi mencapai 96%. Bahkan saat ini sudah tidak ada kasus sama sekali. Kalau kemarin merah itu karena ada satu sapi dekat Pasuruan di Lawang, tapi sekarang sudah sembuh, sudah 0 %.  

Eko mengungkapkan jika vaksinasi di Kabupaten Malang merupakan yang terbanyak di Jatim. Total yang sudah tervaksin mencapai 356.000 ekor hewan ternak dengan prosentase dari populasi mencapai 23 %.  

Namun, kata dia, dalam dua pekan ini akan diupayakan untuk menambahan 30-40 ribu dalan dua bulan. “Kami siap per hari 1.500 vaksinasi khusus sapi perah saja untuk Pujon, Ngatang, dan Kasembon. Ditambah Jabung 50.000 akan kami selesaikan dalam waktu tiga bulan,” janjinya.

Di tempat yang sama, drh. Anung Wibowo, Koordinator Vaksinastor Wilayah Kecamatan Pujon mengatakan, untuk tim di kecamatan Pujon dalam satu hari rata-rata bisa melakukan vaksinasi hingga 1.000 dosis. Dia menyebut ada 10 tim di bawah koordinasinya. Mereka menyebar di 10 desa setiap vaksinasi berlangsung. Satu tim rata-rata terdiri dari lima orang. Targetnya, minimal mampu menginjeksikan 1.000-1.200 dosis per hari.

Dijelaskan, sapi yang sudah mendapatkan vaksin kemudian ditandai dengan kartu barcode tagging berwarna kuning yang ditali pada masing-masing telinga. Barcode tagging ini merupakan inisiasi dari Dinas Peternakan Jatim.

“Barcode ini ibarat untuk sensus agar tidak terjadi penularan wabah antardaerah,” kata Anung Wibowo. Barcode berupa kertas berwarna  kuning itu dipasang menggantung di telinga sapi.

Pada barcode tagging itu tercantum nama pemilik, umur dan jenis kelamin sapi, kota asal, kondisi kesehatan ternak serta data vaksin yang sudah disuntikkan. ”Barcode ini tidak bisa dipalsu. Karena data ini langsung terintegrasi dengan layanan informasi digital Dinas Peternakan Jatim. Ini untuk memudahkan tracking atau pelacakan lalu lintas ternak antarwilayah,” kata Anung. 

Tidak hanya itu. Anung juga menceritakan tantangan yang dialami petugas vaksinator. Selain medan yang licin saat musim hujan, juga adanya penolakan dari peternak pada awal dilakukan vaksinasi. Namun, seiring perjalanan waktu, berkat gencarnya sosialisasi dan edukasi yang dilakukan, pemilik sapi akhirnya meminta sendiri jadwal vaksinasi PMK kepada petugas.

Kini, capaian vaksinasi PMK di Kecamatan Pujon sudah mencapai 52.300 dosis. Dengan rincian, vaksin PMK tahap I yang sudah disuntikkan 24.295 dosis, vaksin PMK tahap II sudah disuntikkan 21.646 dosis, dan vaksin Booster I sudah disuntikkan 6.359 dosis. 

Saat ini tengah berlangsung vaksin Booster PMK tahap II atau vaksinasi keempat. Vaksin Booster PMK tahap II ini merupakan langkah lanjutan dari penanganan wabah yang melanda dunia peternakan ruminansia di Indonesia sejak 2022 lalu. 

Kini vaksinasi di Kecamatan Pujon sudah mencapai 90%. Anung berharap, pemerintah tetap siaga vaksin, sehingga  jika  sewaktu-waktu PMK mewabah kembali sudah ada persiapan. Tidak seperti kemarin, banyak sapi mati karena belum siap.

Selain itu, para peternak juga diminta lebih waspada dalam menjaga kesehatan sapi perah miliknya. Misalnya dengan lebih memperhatikan kebersihan kandang, pola makan, dan lain-lain. Semoga tidak ada lagi kasus serupa di Indonesia, khususnya di Jawa Timur. (Dwi Arifin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *