Patsy, Jokowi, dan Biden

waktu baca 4 menit
Patsy Widakuswara jurnalis VoA Gedung Putih. (istimewa)

KEMPALAN: Ada insiden kecil yang terjadi saat pelaksanaan KTT ASEAN di Jakarta pekan ini (6/9). Seorang wartawan Amerika peliput acara itu dicekal masuk ke ruang pertemuan para kepala negara ASEAN dan Amerika Serikat. Peristiwa itu hanya insiden kecil, tetapi Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris yang menghadiri acara itu ikut campur untuk menyelesaikan masalah.

Reporter itu, Patsy Widakuswara, dari jaringan VOA (Voice of America). Dia warga negara Amerika yang lahir di Gunung Kidul, DIY, dan memulai karir jurnalistiknya di Indonesia, sebelum bekerja di Amerika dan kemudian mengambil kewarganegaraan Amerika.

Patsy yang menjabat sebagai Kepala Biro Gedung Putih VOA dikepung oleh petugas keamanan Indonesia setelah melontarkan pertanyaan kepada Jokowi dan Kamala Harris dengan berteriak. Dalam standar praktik jurnalistik di Amerika—dan di seluruh dunia—melontarkan pertanyaan ‘’shouting questions’’ sambil berteriak adalah hal yang biasa.

Tetapi, dalam standar keamanan di Indonesia hal itu tidak diperkenankan karena mengganggu. Ketika itu Jokowi dan Kamala Harris baru selesai mengadakan pertemuan ‘’join session’’ membalas masalah bilateral. Keduanya kemudian hendak berjalan masuk ke ruang tempat pertemuan para pemimpin ASEAN.

Ketika melewati sejumlah jurnalis itulah Patsy meneriakkan dua pertanyaan. Kepada Wapres Harris Patsy bertanya dalam Bahasa Inggris apakah AS hampir mencapai kesepakatan terkait investasi pengelolaan nikel dengan Indonesia. Kepada Presiden Jokowi Patsy bertanya dalam bahasa Indonesia, apakah dia kecewa karena Presiden AS Joe Biden tidak hadir di KTT tersebut.

Tidak ada jurnalis lain yang berteriak ke arah dua pemimpin itu. Karena itu teriakan itu terasa aneh dan mengagetkan. Petugas keamanan langsung mengepung Patsy dan membawanya keluar ruangan. Setelah berada di luar ruang pertemuan, sejumlah petugas keamanan menyuruhnya pergi karena dia telah mengganggu dengan teriakannya.

Para petugas itu juga melarangnya untuk mengikuti agenda lain selama KTT ASEAN. Para pejabat Amerika pun turun tangan dan meminta pihak Indonesia untuk mengizinkan Patsy masuk ke ruang pertemuan. Wapres Harris tidak akan memasuki ruang pertemuan KTT sampai seluruh jurnalis, termasuk Patsy Widakuswara, diizinkan masuk. Akhirnya pihak keamanan Indonesia mengalah dan mengizinkan Patsy masuk ke ruang acara.

Inisiden ini memantik reaksi keras dari banyak kalangan. Pihak keamanan Indonesia dianggap telah menghalang-halangi jurnalis untuk menjalankan tugasnya. Indonesia merasa bahwa standar yang dipakai oleh jurnalis Amerika tidak sesuai dengan standar etika di Indonesia.

Di balik insiden ini muncul spekulasi mengenai ketidakhadiran Presiden AS Joe Biden ke acara ini. Sebagai tuan rumah yang memegang kepemimpinan ASEAN, mangkirnya Joe Biden tentu mengecewakan karena bisa menurunkan wibawa Indonesia, karena pada saat yang hampir bersamaan Biden lebih memilih hadir dalam konferensi internasional di India, dan kemudian melanjutkan kunjungan ke Vietnam.

Indonesia dan ASEAN kalah kelas dari India. Untuk urusan Indonesia Biden merasa cukup mengirim wakilnya. Hal itu tentu mengecewakan Indonesia. Belum lagi Presiden China Xi Jinpin juga ikut mangkir dan memilih untuk mendatangi acara di India. Hal ini yang membuat Indonesia ‘’sensi’’ oleh sikap Amerika dan China.

Pengamat menyebut perhelatan Jakarta menjadi ‘’second class’’ dan tidak menjadi prioritas utama Gedung Putih. Pakar Keamanan Asia dari American Enterprise Institute Zack Cooper mengatakan, ketidakhadiran Joe Biden menunjukkan bahwa prioritasnya ada di tempat lain.

Ketidakhadiran Biden sejalan dengan minimnya kerangka kerjasama ekonomi dua negara. Pada saat bersamaan Indonesia lebih banyak membangun kerjasama ekonomi dengan China. Bukan hanya Amerika yang menganggap perhelatan ini bukan prioritas. China pun hanya mengirim Perdana Menteri China Li Qiang dan Rusia hanya mengirim Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov.

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto memperkirakan ketidakhadiran itu lantaran kedua pimpinan negara itu memiliki banyak kesibukan. Absennya Biden kali ini tidak menjadi masalah, karena Biden sudah pernah hadir pada acara G-20 di Bali.

Mengenai sinyalemen yang mengatakan bahwa Indonesia lebih condong ke China, Prabowo mengatakan bahwa Indonesia memiliki kebijakan bebas aktif dan non blok. Indonesia tidak memihak siapapun. Indonesia bersikap bebas aktif, non blok, tidak mau terlibat dalam blok manapun. Semua negara dianggap sahabat yang dihormati. Amerika Serikat, China, Rusia, India, Jepang, semua dihormati.

Kolumnis Bloomberg, Karishma Vaswani, dalam artikel bertajuk “Biden skipping the ASEAN Summit is a mistake”, menganggap Biden melakukan kesalahan. Di tengah upaya AS untuk melawan pengaruh China, harusnya ASEAN menjadi fokus Washington. Terlebih saat ini ASEAN dipimpin oleh Indonesia yang diyakini banyak pihak memiliki kedekatan yang lebih kepada China ketimbang Amerika.

Biden bukan hanya tidak hadir, tapi dia juga mengabaikan kekuatan besar di kawasan ASEAN. Amerika sering mengatakan ingin membangun hubungan yang lebih kuat dengan Asia, tetapi dengan mengabaikan Indonesia hal ini terasa seperti bunuh diri. Begitu tulis Vaswani.

Dengan gencarnya upaya AS untuk melawan pengaruh China, Vaswani menyebut seharusnya Indonesia menjadi mitra terdekat Washington. Sebagai negara demokrasi yang besar dengan hubungan militer yang kuat secara historis dengan Amerika, harusnya Indonesia menjadi prioritas.

Insiden Patsy semakin membuka mata dunia, bahwa hubungan bilateral Indonesia-Amerika tidak sedang baik-baik saja, karena ada China yang menjadi orang ketiga. ()

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *