Young Guns PKB, Kunci Kemenangan Jatim

waktu baca 5 menit
Muhaimin Iskandar mendaftarkan caleg PKB untuk DPR RI ke KPU Pusat beberapa waktu lalu. (ist)

KEMPALAN: “You have to test yourself every day, gentleman. Once you stop testin’ yourself, you get slow. And when that happens, they kill you” William H. Boney alias Billy The Kid.

Bapak-bapak, Anda harus menguji kemampuanmu setiap hari. Sekali Anda berhenti uji kemampuan, Anda akan menjadi lambat. Dan, ketika itu terjadi mereka akan membunuhmu.

Kalimat itu diucapkan oleh Billy The Kid dalam film ‘’Young Guns’’ yang dirilis pada 1988. Ungkapan ini menunjukkan kerasnya kehidupan jalanan yang dialami Billy dan kawan-kawan mudanya. Sekelompok bintang film muda yang sangat populer membintangi film laris ini. Mereka adalah Emilio Esteves yang berperan sebagai Billy The Kid, lalu ada Charlie Sheen, Kiefer Sutherland, Lou Diamond Phillips, dan Dermot Mulroney.

Billy dijuluki ‘’The Kid’’ karena perawakannya yang kecil dan wajahnya yang imut seperti anak-anak. Tetapi, di balik wajah yang kekanak-kanakan dan senyum lugu ala anak kecil, Billy ternyata punya kemampuan berkelahi yang hebat. Ia bisa membunuh lawannya dengan kecepatan pistolnya sambil tertawa.

William H. Boney alias Billy The Kid ialah anak jalanan yang bertarung memperjuangkan keadilan di kotanya akibat ulah pebisnis tamak Lawrence Murphy yang dimainkan oleh Jack Palance. Anda yang cukup senior pasti ingat wajah licik Jack Palance yang selalu piawai memainkan peran antagonis.

Film ini mengambil setting Amerika pada abad ke-19. Billy The Kid menjadi pahlawan jalanan yang berhasil survive dan mengalahkan pebisnis jahat yang telah membunuh pemilik kebun tempat Billy dan kawan-kawannya bekerja. Billy dan kawan-kawannya disebut sebagai ‘’The Yung Guns’’. Mereka berjuang melawan hegemoni penguasa yang rakus dan tamak.

Ungkapan Billy the Kid itu menggambarkan hidup di jalanan yang keras di Amerika. Hukum seolah-olah tidak jalan. Hanya hukum jalanan yang berlaku. Hidup terasa sangat keras, membunuh atau dibunuh.

Ungkapan Billy The Kid bisa dipakai untuk mencerminkan kehidupan politik yang keras. Seorang politisi harus terus menerus menguji kemampuannya menghadapi persaingan yang keras. Seorang politisi tidak pernah boleh berhenti, karena sekali berhenti ia akan menjadi lemah. Ketika ia lemah maka ia akan tergilas dan terbunuh oleh lawannya.
Politik Indonesia, mungkin tidak sekeras gambaran Billy The Kid. Tetapi, unsur kekerasan itu selalu ada dalam persaingan politik di mana pun, termasuk di Indonesia. Kill or to be killed, membunuh atau dibunuh, menjadi kredo yang umum bagi para politisi.

Beberapa hari terakhir ini lanskap politik Indonesia memunculkan gambaran yang brutal dalam persaingan politik menjelang pilpres 2024. Ada ketidakjujuran, ada pengkhianatan, dan bahkan ada kudeta. Partai Demokrat melihat ada ketidakjujuran dalam koalisi. Bahkan Demokrat merasa ada pengkhianatan.

Muhaimin Iskandar berada pada episentrum heboh politik sekarang ini. Persekutuannya dengan Anies Baswedan disebut-sebut sebagai skenario pengkhianatan oleh Demokrat. Imin menjadi sasaran tembak. Kasus lamanya dibongkar lagi oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

Kasus persengketaan lama dalam perebutan kepemimpinan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) juga diungkit kembali. Imin dituduh melakukan kudeta terhadap Abdrurrahman Wahid alias Gus Dur, yang tidak lain ialah pamannya sendiri. Imin menyatakan bahwa dirinyalah yang dikudeta.

Perawakan Imin yang mungil dan wajahnya yang unyu-unyu, mungkin, bisa disamakan dengan Billy The Kid. Imin memimpin politisi-politisi generasi muda di PKB yang mirip dengan ‘’The Young Guns’’, senapan-senapan muda yang bisa menyalak keras.

PKB menjadi satu-satunya partai besar yang dipimpin oleh politisi-politisi muda generasi kedua. Partai-partai besar mengalami fenomena gerontologi karena dipimpin oleh politisi-politisi yang sudah mulai uzur. Megawati, Surya Paloh, Prabowo Subianto, untuk menyebut beberapa di antara mereka. Tetapi PKB berani memunculkan politisi-politisi muda yang mampu bersaing dengan politisi senior.

Pucuk pimpinan PKB sekarang banyak diisi oleh politisi usia 40-an sampai 50-an. Cukup muda untuk ukuran politisi. Umumnya mereka mempunyai latar belakang aktivisme yang kuat, seperti dari PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), Muslimat atau Fatayat NU, dan beberapa organisasi underbow NU.

PKB mempunyai stronghold di Jawa Timur dengan menguasai 25 kursi di DPRD Jatim. Posisi teratas dikuasai PDIP yang punya 27 kursi. Dua partai besar ini saling mengalahkan di Jawa Timur. Periode sebelumnya PKB menjadi juara di Jawa Timur dengan 20 kursi, dan PDIP menjadi runner up dengan 19 kursi.
Sekarang ini, dari 25 kursi PKB 11 di antaranya diisi oleh politisi perempuan dengan latar belakang Muslimat. Mereka ialah ketua Muslimat di masing-masing kabupaten kota. Ketua Muslimat dan Fatayat lokal juga banyak mengisi kursi di DPRD kabupaten-kota.

Rata-rata mereka adalah generasi yang lahir tahun 1970-an dan banyak yang lahir pada 1980-an. Di antara mereka banyak perempuan dengan latar belakang aktivisme yang kuat. Para politisi perempuan Young Guns ini mempunyai dukungan akar rumput yang sangat kuat.

Mereka merupakan politisi Young Guns hasil binaan Muhaimin Iskandar. Para Young Guns ini mempunyai hubungan yang erat dengan para kiai NU di Jawa Timur, baik para kiai elite dengan pesantren besar maupun kiai dengan pesantren kecil, atau yang lebih dikenal sebagai kiai kampung. Sementara para politisi perempuan PKB mempunyai akar rumput di kalangan Muslimat dan Fatayat yang kokoh. Perpaduan inilah yang membuat PKB kuat di Jawa Timur.

PKB bisa disebut sebagi partai Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di dua provinsi itulah PKB punya pendukung yang kuat. Di Jawa Tengah PKB memperoleh 20 kursi. PDIP menjadi juara dengan 42 kursi. Meski terpaut lebih dari separo, tapi PKB mempunyai potensi suara yang lebih besar di Jawa Tengah.

Pada pemilihan gubernur Jawa Tengah 2019 pasangan Sudirman Said dan Ida Fauziah mendapatkan 42 persen suara melawan petahana Ganjar Pranowo-Taj Yasin Maimoen yang memperoleh 58 persen. Sudirman Said dan Ida Fauziah sekarang bersatu kembali pada pilpres 2024, karena Sudirman menjadi tim sukses Anies Baswedan dan Ida Fauziah menjadi tim Muhaimin Iskandar.

Para Young Guns PKB di Jatim dan Jateng inilah yang menjadi kekuatan utama dan diandalkan bisa memenangkan pasangan Amin, Anies-Imin, di Jateng dan Jatim. Dua provinsi itu merupakan wilayah terlemah bagi Anies. Dengan bergabungnya Cak Imin kelemahan Anies itu bisa ditutupi.

Jateng diperkirakan akan dimenangkan oleh Ganjar. Anies akan berusaha mempertipis kekalahan di Jateng. Jawa Timur akan menjadi ‘’Padang Kurusetra’’ pilpres 2024. Perang Baratayudha akan terjadi di Jatim. Siapa memenangkan Jatim dia akan menjadi juara 2024. Kita tunggu. ()

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *