Sabrot D Malioboro, Penyair Ledek Pasar Turi

waktu baca 4 menit
Sabrot D Malioboro (*)

KEMPALAN: Mengenang Sabrot D. Malioboro, saya jadi ingat saat dimintai esai pendek tentang sosok beliaunya, yang akan dibukukan. Tapi ternyata, entah kenapa buku itu tak jadi dicetak. 

Sabrot, punya julukan penyair ledek pasar Turi karena puisinya yang terkenal berjudul “Wartini, Ledek Pasar Turi” itu, dan dulu selalu dibacakan di berbagai acara-acara sastra.

Sedangkan esai pendek itu kembali saya bongkar, dan saya ubah beberapa kalimat untuk bisa melihat sosok tokoh sastra kita Sabrot D Malioboro seperti berikut ini:

Jika kita bicara tokoh kita yang satu ini, maka tak lepas dari ujaran khas Suroboyo-an, “Dancuk, koen neng endi ae?” Suaranya dengan nada tinggi dan lantang, selanjutnya akan disambung kalimat “Suwe gak ketok tambah perlente, koen! Syukurlah tambah ketok tahes!”

Sebuah sapaan yang khas Suroboyo, yang terasa renyah dan enak didengar bagi yang disapanya. Sabrot, memang lagak-lagunya kayak begitu. Ceplas-ceplos dan agak terasa kasar bagi lawan bicaranya. Apa lagi bagi orang-orang Jawa Tengah, setidaknya bagi orang Jawa Mataraman, seperti saya yang berasal dari Ngawi. 

Tapi saya tidak kaget! Lantaran saya sudah lama kenal beliau sejak kantor Dewan Kesenian Surabaya (DKS), menghadap ke selatan (dengan ada pohon keres di depannya) itu. Persisnya lupa, tapi mungkin tahun 1985-1986-an. 

Sebab setiap datang dan temu kawan-kawan seniman, bicaranya selalu keras meledak-ledak. Dan itulah yang kemudian saya selalu ingat, tokoh kita yang satu ini, gaya bicaranya yang khas Suroboyo-an itu. Tegas dan lugas!. 

Ciri khasnya yang berbicara keras dan nada tinggi ini, bukan berarti orangnya juga tinggi hati. Tidak! Sekali lagi tidak! Ini terbukti, meski dengan nada tinggi setiap saat setiap jumpa, selalu mengajak salaman. Begitu juga selalu memuji dan berdoa bagi lawan bicaranya, seperti ilustrasi di awal tulisan ini.

Sabrot juga orang yang suka mengapresiasi seniman lain, terbukti sering selalu hadir ketika ada bukaan pameran lukisan, pentas baca sastra (cerpen/puisi), pentas teater, tari, dan banyak lagi. Begitu juga kepada saya, pernah bilang terima kasih masih diikutkan pentas puisi. 

“Malsasa” atau “Malam Sastra Surabaya.” Saya seperti dapat sanjung-puji apresiasi dari beliau, padahal Sabrot memang layak sebagai penyair Surabaya.

Sabrot D. Malioboro, penyair yang terkenal dengan puisinya berjudul “Wartini Ledek Pasar Turi” termuat di “Antologi Puisi 2 Penyair Surabaya” (hal. 97), lantas juga termuat lagi di kumpulan “Doa Tangan-Tangan” (hal 154).

Beliau lahir di Surabaya, 14 Agustus 1945, seangkatan dengan penyair: Sian Dhys alias Pocek, Akhudiat, Amang Rachman, Basuki Rahmat, Yudho Herbeno, Hardjono WS, Dhik Munthalib, Kuntjoro Suhadi, Krishna Mustajab, Suripan Sadi Hutomo, Muhammad Ali, Rudi Isbandi, dan banyak lagi.

Sabrot yang punya nama asli Sanusi Broto ini, berpulang meninggal dunia, 4 Juli 2000 yang lalu. Semoga saja segala amal baiknya diterima Allah SWT, dan ditempatkan surga-Nya. Aamiin YRA.

Terakhir saya masih dapat buku kumpulan puisinya “Goa Emas” (2011) dari tangannya Sabrot sendiri.  Bukunya ini juga dilengkapi ulasan dari Afrizal Malna. Puisi-puisi Sabrot pernah ikut dalam kumpulan puisi lain seperti: Malsasa X, Omonga Apa Wae, Doa Tangan-Tangan, Surabaya 714 Malsasa, dan banyak lagi.

Kembali bicara tokoh kita yang satu ini (Sabrot D. Malioboro), beliau ini, baik hati. Betapa tidak? Berkali-kali dibujuki teman seniman lain, beliau tetap tanpa marah. Tetap sabar, meski omongannya terkadang kasar dan gak enak didengar. 

Tapi yang dibicarakan adalah benar, baik hati yang lain, bersangkutan dengan diri saya, adalah ketika saya buat kumpulan buku puisi para guru bertajuk “Malsabaru” dengan cara patungan. Saya tidak lagi punya uang guna menggelar pentaskannya. Lantas saya sambat saya sama Sabrot, yang waktu itu ketua DKS,

untuk bisa membantu dana guna gelaran “Malsabaru.” Ternyata, dengan senang hati, beliau mau membantu saya atas prakarsa mulia ini.

Padahal waktu itu, saya sudah bukan termasuk pengurus DKS, hanya saja memang pernah jadi pengurus. Tapi itulah sosok Sabrot yang baik hati. Sungguh, waktu itu Sabrot sangat berbaik hati dengan saya. Bahkan beliau juga menyarankan untuk minta juga bantuan dana Aribowo, melalui FIB Unair Surabaya. Ternyata juga berhasil! Alhamdulillah!. 

Dari ilustrasi ini, menjelaskan sosok tokoh kita Sabrot D. Malioboro itu memang baik hati. Setidaknya, ketika saya mintai bantuan dan beliau membantu dengan setulus hati. Tapi percayalah, saya punya keyakinan, banyak kawan seniman juga dibantu Sabrot dalam berkesenian. Hanya saja mereka tak mau mencatat dalam tulisan. Sayang-disayang!.

Yang pasti harus disyukuri, bahwa tokoh kita itu bernama Sabrot D. Malioboro tetap konsisten dalam berkesenian (khususnya puisi), dan tetap baik hati, dan bukan tinggi hati. Meski mungkin bicaranya tetap tinggi dan lantang bersuara, tapi itu memang wis gawan bayi. Mau apa?. 

Selamat jalan, kawan! Semoga kebaikanmu akan jadi jalan terang bertemu Ilahi Rabbi, serta mendapat tempat nan indah di surga-Nya Allah SWT. Aamiin YRA.

(Aming Aminoedhin)***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *