Erick Thohir, antara Lupa dan Gelak Tawa

waktu baca 4 menit
Prabowo menyopiri Jokowi dan Erick Thohir dalam kunjungan ke Malang. (istimewa)

KEMPALAN: Presiden Jokowi berkunjung ke Malang, Selasa (25/7). Ia mengajak serta Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Menteri BUMN Erick Thohir untuk bersama-sama meninjau pabrik peluru yang dioperasikan oleh Pindad. Kebetulan dua menteri itu membawahi pabrik Pindad. Prabowo sebaga user dan Erick sebagai produser. Menurut Jokowi alasan keduanya diajak karena Prabowo dan Erick memiliki urusan dengan pengadaan senjata di PT Pindad.
Tetapi , tidak ada kebetulan dalam politik. Kunjungan Jokowi adalah kunjungan politik, dan karenannya kebersamaan tiga tokoh itu adalah sebuah even politik. Kata Roosevelt, tidak ada kebetulan dalam politik. Kalau terlihat seperti kebetulan maka hal itu sengaja dirancang supaya terlihat sebagai kebetulan.

Kebersamaan segitiga itu menjadi sebuah kode keras—atau kode lunak—dari Jokowi bahwa ia mengendorse dua orang itu sebagai calon presiden dan wakil presiden. Kebersamaan yang mesra dipamerkan ketika Prabowo menyopiri Erick Thohir serta Jokowi beserta istrinya, Iriana Jokowi, menggunakan mobil Maung Pindad. Prabowo duduk di kursi sopir sementara Erick berada di sebelahnya dengan Jokowi dan Iriana di kursi belakang.

Sinyal dukungan Jokowi agar Prabowo dan Erick bersanding di Pilpres 2024 sudah ditunjukkan dalam berbagi kesempatan. Ahad pekan lalu, Jokowi sengaja mengundang Prabowo dan Erick ke Istana Negara untuk bertemu. Jokowi saat ini sedang mencoba menjodohkan keduanya dengan sesering mungkin mempertemukan pasangan itu dalam satu agenda.

Jokowi mengajak dua protégé itu meninjau Pasar Bululawang. Jurnalis bertanya mengenai kemesraan segitiga itu. Senyum Jokowi merekah saat mendengar pertanyaan tersebut. Begitu pula dengan Prabowo dan Erick Thohir yang ikut tersenyum lebar. Ketiganya terlihat bergelak tawa sambil berlalu.

Hanya beberapa ratus meter dari lokasi pasar terjadi peristiwa yang kontras. Sekelompok ibu yang korban tragedi Kanjuruhan berusaha melakukan protes kepada Jokowi dan Erick Thohir, tapi dihalang-halangi oleh petugas dari TNI dan kepolisian.

Video yang beredar menunjukkan ibu-ibu itu dihalangi aparat TNI saat ingin bertemu dengan Jokowi. Ibu-ibu itu tengah menunggu kehadiran Jokowi dan hendak membentangkan foto anak-anak mereka yang menjadi korban Tragedi Kanjuruhan. Mereka terlihat berdebat dengan aparat yang tengah mengamankan iring-iringan Jokowi. Beberapa ibu terlihat histeris saat dihalang-halangi oleh petugas.

Gambaran yang kontras ini menunjukkan realitas yang kontras. Tragedi Kanjuruhan baru terjadi 10 bulan yang lalu pada 1 Oktober 2022. Tetapi, kisah sedih itu seolah sudah terlupakan dan terkubur lama. Sebanyak 135 korban tewas itu seolah sudah terlupakan oleh publik.

Sorak sorai dan pawai kemenangan ketika tim sepakbola Indonesia bermain mengubur semua kenangan buruk itu. Erick Thohir menjadi ketua PSSI, dan memanfaatkan keterampilan dan jaringan internasionalnya untuk mengatrol perestise sepakbola Indonesia, sekaligus mengatrol popularitas pribadinya.

Hanya dalam beberapa bulan setelah menjadi ketua PSSI popularitas Erick Thohir sebagai calon wakil presiden meroket menjadi yang tertinggi, melewati semua pesaingnya. Survei menunjukkan bahwa popularitas dan elektabilitas Erick naik setelah timnas Indonesia menjadi juara SEA Games, dan timnas Argentina bertanding melawan timnas Indonesia.

Ada ironi yang menyengat. Erick Thohir justru lebih populer dalam jabatannya sebagai ketua PSSI ketimbang sebagai menteri BUMN. Erick juga terkesan mendompleng sukses timnas di SEA Games dengan mengadakan pawai arak-arakan besar-besaran di Jakarta.

Ibarat pepatah ‘’Kerbau punya susu, Bengali punya nama’’. PSSI menjadi kerbau perah untuk mendapatkan susu yang kemudian dinikmati oleh Erick Thohir. Kalau ada kontribusi Erick dalam sukses itu mungkin hanya 20 persen. Tetapi, Erick bisa memonopolinya sebagai sukses pribadi.

Erick Thohir menjadi ketua PSSI setelah Iwan Bule dipaksa mundur pasca-tragedi Kanjuruhan. Erick langsung mengubur tragedi dan membuat publik sepakbola Indonesia melupakannya. Tetapi, tidak bagi para ibu korban dan ratusan korban yang cacat dan luka. Ibu-ibu itu masih terus menangis karena penanganan tragedi yang tidak tuntas.

Mereka yang bertanggung jawab terhadap tragedi ini tidak dihukum secara setimpal. Para operator lapangan dihukum ringan. Ahmad Hadian Lukita, direktur Liga Indonesia Baru yang bertanggung jawab terhadap pertandingan sampai sekarang tidak diadili. Iwan Budianto sebagai owner Arema FC tidak tersentuh hukum.

Ibu-ibu itu pasti mewakili kesedihan dan kepedihan hati ratusan keluarga korban. Mereka menuntut agar tragedi diusut tuntas, dan rencana renovasi terhadap Stadion Kanjuruhan dibatalkan. Mereka tidak ingin nantinya puluhan ribu suporter sepakbola berjingkrak-jingkrak dengan penuh suka cita di atas kuburan 135 nyawa anak-anaknya.

Sayangnya upaya unjuk rasa itu digagalkan aparat, sehingga Jokowi tidak mendengar aspirasi keluarga korban. Betapa pedih hati para ibu itu menyaksikan Jokowi dan Erick Thohir berlalu dengan gelak tawa.

Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa. Itulah yang selalu diingatkan oleh budayawan Cekoslowakia Milan Kundera. Ia menulis novel ‘’The Book of Laugher and Forgetting’’, Kitab Gelak Tawa dan Lupa, yang menggambarkan keangkuhan kekuasaan terhadap penderitaan rakyat.

Setiap kejadian tragis yang memakan korban nyawa akan mudah dilupakan oleh momen-momen kegembiraan gelak tawa yang sengaja diciptakan oleh kekuasaan. Para korban hanya bisa menangis, sementara para penguasa berlalu dengan gelak tawa. ()

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *