Koalisi Besar Cermin Kecemasan Rezim terhadap Anies Baswedan

waktu baca 7 menit
Anies Baswedan

Oleh: Isa Ansori (Kolumnis, Akademisi)

KEMPALAN: Logika akal sehat harus berusaha keras memahami mengapa harus ada koalisi besar? Padahal kalau menurut berbagai survey yang ada selalu muncul nama Prabowo di posisi pertama atau kedua, hal yang sama juga berlaku pada Ganjar kadang di posisi kedua atau diposisi pertama dan Anies Baswedan selalu ditempatkan diposisi ketiga, tidak boleh diposisi pertama atau kedua, kecuali terpaksa.

Kalau memang hasil survey itu benar adanya, logika akal sehat kita tentu akan mengatakan tidak diperlukan adanya koalisi besar, karena hanya dihadapkan pada Prabowo saja atau Ganjar saja Anies sudah bisa dikalahkan, nah inilah yang menjadi pertanyaan besar kita semua.

Dalam sebuah buku psikologi, “the power of positive thinking” yang ditulis oleh Norman Vincent Pale bila Anda mengalami ketakutan maka mulai berpikirlah apa yang bisa membuatmu percaya diri dan menghilangkan perasaan takutmu.

Kalau merujuk pada pernyataan tersebut maka bisa dipahami bahwa pembentukan koalisi kebangsaan adalah salah satu cara untuk mengatasi kecemasan dan ketakutan terhadap elektabilitas Anies yang semakin hari semakin tak bisa dibendung. Karena memang capres diluar mereka sampai saat ini hanyalah Anies Baswedan.

Lalu ini sebetulnya ketakutan dan kecemasan siapa? Pertanyaan ini juga sejatinya bisa ditebak, bahwa ini adalah ketakutan Jokowi setelah tak sanggup dengan siksa waktu yang ada untuk menyelesaikan komitmen – komitmen yang sudah dijanjikan kepada rakyat, apalagi komitmen yang sudah dibangun berkaitan dengan pihak lain, terutama oligarki dan investasi asing yang sudah masuk, misalkan Cina. Bahkan tersiar kabar bahwa Cina saat ini sedang berusaha meminta jaminan utang pemerintahan Jokowi agar bisa dibayar lewat APBN.

Sebagai presiden dua periode ternyata Jokowi tak mampu membuktikan janji – janji politik yang pernah dia janjikan, dalam prakteknya justru lebih banyak bertindak atas nama oligarki. Inilah yang kemudian Jokowi butuh waktu lagi untuk bisa menuntaskan apa yang pernah dia janjikan.

Nasi sudah menjadi bubur, pandemi Covid menghancurkan semua rencana – rencana Jokowi, sehingga melalui Luhut, Bahlil dan partai politik sekutunya, melempar isu pemunduran pemilu, namun sayangnya isu ini gagal dan bahkan ditentang oleh PDIP yang merupakan partai pengusungnya. Gagal di isu ini, lalu diembuskan isu perpanjangan masa tugasnya, dengan alasan yang sama, namun sayangnya isu ini kandas dan sempat berhenti, meski ambisinya juga tak pernah berhenti. Di dua isu ini nampaknya Jokowi mengalami kegagalan, karena ditolak juga, maka dicarilah alasan yang lebih masuk akal, maka dibuatlah isu pemilu sela. Namun sayangnya apapun isu yang ada, ternyata dilapangan rakyat sudah semakin merindukan kehadiran Anies.

Fakta – fakta di lapangan yang coba dikaburkan oleh lawan politik Anies, ternyata berbanding terbalik. Kedatangan Anies dibanyak tempat ternyata sambutannya luar biasa, bahkan Jatim dan Jateng yang katanya kandang banteng, ternyata sambutan terhadap Anies sangat luar biasa.

Harapan Jokowi awalnya tertambat pada KIB, namun sayangnya lawan tanding Anies tak kunjung dimunculkan, karena syarat berbagai kepentingan dari masing – masing parpol. Golkar memasang harga mati, agar Airlangga Hartarto dicalonkan sebagai capres, sementara Jokowi berharap Ganjar – Eric Thohir, yang kemudian dimunculkan oleh PAN. PPP sifatnya pasif dan mengikuti saja. Koalisi ini terancam bubar di tengah jalan.

Tak kunjung selesainya dinamika capres di KIB, membuat Jokowi semakin mengalami kecemasan dan ketakutan akan masa depan dia dan proyek proyek ambisiusnya, lalu mendekatlah ke Prabowo yang lebih jinak dan bisa menerimanya. Maka di ajaklah Prabowo dalam setiap kesempatan acara yang ada bersamanya. Rupanya cara ini dapat mengubah pandangan Prabowo terhadapnya, bahkan Prabowo saat ini menganggapnya sebagai mentor terbaiknya dan memuja muji bahwa Jokowi adalah presiden terbaik.

Koalisi Gerindra dan PKB, yang juga menjadi salah satu harapan Jokowi juga mengalami masalah yang sama, dua duanya sudah memasang harga mati, kalau Prabowo capres maka cak Imin adalah wakilnya, tapi ternyata sikap Prabowo tak juga mendeklarasikan pasangan tersebut, bahkan Prabowo nampak sibuk berkeling terutama ke Jatim mendekati Khofifah agar bisa menjadi pendampingnya sebagai cawapres. Koalisi inipun juga terancam bubar jalan.

Harapan Jokowi agar bisa memasangkan Prabowo dan Ganjar juga gagal, sikap Ganjar yang menolak kedatangan timnas Israel berlaga di Piala Dunia U – 20, membuyarkan semua skenario yang dibangunnya. Apalagi sikap Ganjar juga didukung oleh PDIP. Maka semakin.l menambah kegelisahan Jokowi.

Sikap Megawati yang tak kunjung merespon keinginan Jokowi agar sepaham dengan capres yang diinginkan juga menambah kecemasan dan kegelisahannya. Sikap Megawati tetap bergeming bahwa capresnya adalah Puan.

Sikap Megawati yang bergeming bahwa capres adalah urusannya dan yang digadang adalah Puan, membuat inilah yang kemudian muncul silaturahmi Ramadhan di markas PAN yang dihadiri oleh semua parpol pemerintahan minus PDIP dan Partai Nasdem. Megawati tak hadir karena ada kegiatan di luar negeri tanpa ada yang mewakili, Partai NasDem tidak diundang karena dianggap sudah tak sejalan.

Koalisi besar yang direstui Jokowi dan akan berubah menjadi Koalisi Kebangsaan diharapkan bisa menjadi lawan tanding bagi Anies dan Koalisi Perubahan untuk Persatuan. Namun sayangnya Koalisi itupun masih menyusahkan masalah. PDIP yang siap menjadi tuan rumah pertemuan selajutnya, ternyata juga memasang harga bahwa kadernya harus jadi capres dan itu mengarah pada nama Puan. Ini juga menjadi kegundahan Jokowi, padahal Jokowi sangat berharap melalui Koalisi yang direstui ini muncul nama Prabowo dan Ganjar.

Isu dimainkanlah lewat FX Rudiyanto yang merupakan karib Jokowi di Solo seolah mendengar kabar dari DPP bahwa Ganjar adalah calon yang direstui, namun buru buru dibantah oleh Hasto, sekjen PDIP.

Sikap PDIP yang tetap keukeuh bahwa kadernya harus jadi capres memantik respon Golkar melalui Nurdin Halid, waketum nya, bahwa mempersilahkan PDI-P tak usah bergabung kalau memaksakan kadernya untuk jadi capres di koalisi besar ini, bisa jadi akan mengancam terwujudnya koalisi kebangsaan. Golkar juga punya kepentingan agar kadernya, Airlangga Hartarto, bisa muncul menjadi kandidat selain Prabowo.

Nurdin mengatakan Koalisi Besar akan menjadi lebih susah menentukan capres jika PDIP bergabung. Menurutnya, beberapa partai sejauh ini telah menetapkan jagoan masing-masing untuk menjadi capres.

“Udah diputuskan secara tidak langsung Ibu Mega sudah ‘PDIP tetap mencalonkan kadernya’. Nah, kalau itu jangan masuk ke sini,” kata Nudin dikutip dari CNN Indonesia TV, Senin (10/4).

Menanggapi hal itu Politikus PDIP Hendrawan Supratikno menegaskan partainya menjadi satu-satunya partai politik yang memiliki tiket untuk mengusung pasangan capres dan cawapres tanpa harus berkoalisi di Pilpres 2024.

Hal tersebut Hendrawan sampaikan merespons Waketum Golkar Nurdin Halid yang menolak PDIP masuk ke dalam Koalisi Besar apabila tetap ngotot ingin kadernya menjadi capres.

“Loh, kami sudah punya tiket. Memang ada yang ngebet mau pakai atau merebut tiket kami tersebut? Inilah dunia politik kita, masih ada saja yang over percaya diri, nggak ngukur diri,” kata Hendrawan saat dihubungi CNN Indonesia.com, Selasa (11/4).

Tarik menarik kepentingan didalam koalisi kebangsaan juga akan mengancam gagalnya koalisi ini sehingga dibutuhkan kepastian.

Untuk meredam apa yang menjadi sikap Golkar dikirimlah partai gurem yang genit, PSI untuk menjalin kerjasama dengan Golkar yang dikemas dalam balutan nama sister party, sebuah kerjasama partai politk untuk mencalonkan di parlemen, kita semua tahu bahwa PSI adalah kendaraan Jokowi yang gagal masuk parlemen.

Sikap PSI yang merapat ke Golkar bukan ke PDIP yang katanya adalah partai yang senafas, senior dan junior, bisa diduga karena sikap PDIP yang tak kunjung sepaham dengan Jokowi dalam pencapresan.

Seiring adanya dinamika dan konflik kepentingan didalam koalisi kebangsaan, ditambah lagi dengan semakin dekatnya masa pendaftaran capres dan cawapres, harus bisa dipastikan siapa yang akan dimunculkan. Sikap PDIP yang keukeuh kadernya harus jadi capres, penolakan Golkar terhadap sikap PDIP dan semakin meningkatnya elektabilitas Anies, memaksa Jokowi harus membuat kepastian kepastian untuk melawan ketakutan dan kecemasannya.

Koalisi besar yang bernama Koalisi kebangsaan adalah harapan Jokowi agar bisa menjadi obat penenang yang bisa memunculkan lawan tanding bagi Anies Baswedan. Meski masih juga ada upaya upaya lain sedang terjadi untuk menghadang pencalonan Anies. ()

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *