Hedonisme dan Korupsi

waktu baca 4 menit
Mario Dandy Satriyo, anak Rafael Alun Trisambodo, dengan Jeep Rubicon (Foto: dok. Istimewa)

KEMPALAN: Setiap orang boleh saja menikmati hidup dengan membeli barang-barang mewah. Secara naluriah manusia ingin menikmati hidup dan menghindari kesulitan dan penderitaan dalam hidup. Persoalan akan muncul ketika seseorang bergaya hidup mewah melalui caya yang dianggap tidak wajar.

Gaya hidup mewah atau hedonisme sekarang menjadi labeling yang negatif, terutama karena mereka bergaya hedon hidup dari gaji pemerintah. Ketika para selebritas bergaya hidup mewah dengan pamer kekayaan yang berlebihan, mereka disebut sebagai ‘’sultan’’. Tetapi, ketika pegawai pemerintah pamer gaya hidup mewah, mereka disebut sebagai hedon.

Para sultan dipuja-puja. Terbukti dari junmlah follower mereka yang belasan juta. Sementara para hedon dicaci-maki dan langsung dipecat oleh atasannya. Para netizen marah terhadap pamer kekayaan para pegawai pemerintah itu, dan mereka melakukan witch hunt, perburuan para tukang tenung.

Dulu di zaman kuno para penenung dan tukang sihir diburu dan dibunuh beramai-ramai, karena mereka dianggap sebagai penyebar bencana. Di beberapa daerah di Jawa orang-orang kaya yang tidak terlihat bekerja dicurigai memelihara pesugihan seperti tuyul dan semacamnya. Banyak di antara mereka yang diburu dan kemudian dianiaya sampai mati.

Sekarang perburuan orang-orang kaya itu dilakukan melalui pelacak digital. Seorang pejabat dan keluarganya yang pamer barang-barang mewah di akun media sosialnya, akan dihajar habis oleh netizen yang menelanjanginya dengan mengungkap harga barang-barang mewah itu. Netizen yang makin canggih tidak mengalami kesulitan apa pun untuk mengungkap harga barang-barang mewah itu.

Sejak muncul kasus pegawai pajak Rafael Alun Trisambodo, perburuan terhadap gaya hidup hedonisme sudah mirip dengan perburuan para tukang tenung di abad pertengahan Eropa. Gaya hidup hedon dibenci sekaligus dirindukan. Masyarakat yang sudah lelah oleh kesulitan hidup merasa gerah oleh gaya hidup pejabat yang pamer barang mewah tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Hedonisme adalah pilihan. Setiap manusia hidup dengan pandangan dan ideologi mereka masing-masing. Dan mereka menunjukkan apa yang mereka yakini melalui sikap dan gaya hidup yang mereka jalani. Dengan semakin kuatnya arus materialisme dan kapitalisme maka hedonisme manjadi filosofi yang banyak diadopsi.
Hedonisme sering dikaitkan dengan sifat boros, suka menghamburkan uang, dan hanya berpikir tentang kebahagiaan dunia. Hedonisme diambil dari bahasa Yunani, yaitu ‘hedone’, yang berarti kesenangan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian hedonisme adalah pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup.

Hedonisme adalah sebuah doktrin yang menyatakan bahwa kesenangan merupakan hal yang paling penting di dalam hidup. Dengan kata lain, hedonisme merupakan suatu paham yang dianut oleh orang-orang yang mencari kesenangan hidup semata-mata.

Hedonisme muncul karena faktor internal atau dari dalam diri sendiri. Setiap manusia sudah pasti memiliki sifat dasar yang ingin memiliki banyak kesenangan dan kebahagiaan. Ditambah lagi dengan sifat lain dari manusia, yaitu rasa tidak pernah puas yang mereka miliki. Sifat-sifat inilah yang pada akhirnya mengantarkan seseorang pada perilaku dan gaya hidup yang hedonisme.

Penyebab lain seseorang memilih paham hedonisme adalah faktor eksternal atau faktor dari luar. Faktor eksternal ini bisa berasal dari informasi atau juga globalisasi. Apalagi saat ini internet dan media sosial membuat masyarakat bisa melihat bagaimana kehidupan orang lain. Kebiasaan-kebiasaan serta paham yang di dapat di dunia maya atau di lingkungannya, dianggap menjadi penyebab orang-orang tertarik untuk mengadaptasi gaya hidup hedonisme.

Akar dari hedonisme adalah filsafat utilitarianisme yang merupakan gagasan filsafat yang diusung oleh Jeremy Bentham. Pengertian utilitarianisme, secara sederhana, adalah aliran filsafat yang menekankan maksimalisasi nilai guna dari keseluruhan tindakan. Maksimalisasi nilai guna ini secara spesifik merujuk pada pencapaian kebahagiaan terbesar dalam hidup.

Bentham memandang bahwa kebaikan dan kenikmatan adalah kebajikan dasar manusia. Sedangkan penderitaan adalah bernilai buruk. Kondisi yang disebut bajik dan ideal adalah ketika keadaan yang mencakup kesenangan yang lebih besar dari penderitaan, atau penderitaan yang kecil dibanding kesenangan yang lebih besar.
Bentham mengungkapkan bahwa setiap manusia selalu berburu kebahagiaan. Tidak jarang, perburuan kebahagiaan bagi satu orang bisa mengganggu kebahagiaan bagi orang lain dan membuat yang lain menderita.

Di sini kemudian muncul bagaimana menyelaraskan kepentingan publik dengan kepentingan pribadi. Tugas pemerintah, utamanya legislator, adalah merumuskan peraturan untuk menjaga kepentingan publik melalui mekanisme hukum tertentu.

Hukum pidana bagi kriminal tujuannya adalah menyelaraskan agar kepentingan pribadi tidak mengganggu kepentingan publik. Hukum pidana berarti memiliki semangat mencegah kejahatan, bukan karena kita membenci kriminal.
Sedangkan hukum perdata memiliki empat fungsi, menjaga keberlanjutan hidup, kecukupan, keamanan, dan kesetaraan. Aturan hukum ini ditujukan untuk membentuk struktur sosial agar mencapai keharmonisan hidup yang mengekspresikan prinsip kebahagiaan tertinggi.

Bagaimana cara menjamin para legislator benar-benar mengedepankan pentingan publik, dan bukannya kepentingan pribadi atau kepentingan golongan mereka sendiri? Jawabnya adalah praktik demokrasi yang dibarengi dengan pengawasan publik yang ketat agar mampu menghasilkan stimulus, supaya setiap kepentingan pembuat undang-undang sejalan dengan kepentingan publik.

Dalam praktik di Indonesia, para pejabat publik itu justru yang banyak melakukan pelanggaran etik dengan pamer kekayaan yang tidak jelas sumbernya. Mekanisme demokrasi yang lemah di Indonesia menyebabkan gaya hidup hedon sulit diberantas.

Parade pamer kekayaan para pejabat publik itu menimbulkan kecurigaan yang meluas, bahwa para hedonis plat merah itu mendapatkan kekayaannya melalui korupsi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *