Kunjungan Anies ke Jatim dan Respons Jokowi-Mega

waktu baca 4 menit
Anies Baswedan di Madura. (ist)

KEMPALAN: Sepertinya proses dialektika pencapresan PDI-P dan Jokowi bergantung pada seberapa besar respon terhadap kunjungan Anies di daerah – daerah. Namun Jawa Timur nampaknya menjadi perhatian khusus, bukan tidak mungkin juga Jawa Tengah. Karena dikedua daerah ini dianggap sebagai basis pemenangan PDIP utamanya Surabaya.

Kunjungan Anies ke Jawa Timur yang fokus pada Surabaya dan Madura tanggal 17 – 19 Maret 2023, nampaknya mencuri perhatian Hasto, Sekjend PDIP yang memaksanya harus melihat sendiri seperti apa respon masyarakat Jawa Timur, Surabaya dan Madura terhadap kedatangan Anies.

Sambutan Madura dan Surabaya terhadap kedatangan Anies, sangat luar biasa, dimana Madura dianggap basisnya Prabowo, sedangkan Surabaya dianggap sebagai kandangnya banteng. Sambutan yang luar biasa itulah yang disinyalir memaksa Jokowi untuk bertemu Megawati membicarakan sosok capres PDIP dan Jokowi.

Sementara publik juga tahu bahwa rekomendasi rapat kerja nasional PDIP 2022 diberikan kepada ketua umum, Megawati untuk menentukan. Mandat ini seolah menutup keinginan Jokowi mengusulkan capres dukungannya kepada PDIP melalui Megawati. Publik juga paham bahwa Capres Megawati adalah Puan Maharani, sedang Capres pilihan Jokowi Ganjar Pranowo.

Jokowi bukanlah tipe orang yang gampang menyerah untuk masalah ini, karena ada orang yang berada di baliknya yang merasa senasib dan sepenanggungan akibat salah kelola manajemen pemerintahan selama Jokowi berkuasa. Hutang merajalela, korupsi menggurita, pemerintahan tak berpihak pada kepentingan rakyat, oligarki dan China dimanjakan.

Salah kelola itulah yang menyebabkan Jokowi harus mencari skoci baru diluar PDI-P. Maka dibuatlah skoci baru dengan nama Koalisi Indonesia Baru, yang teridiri dari PAN, Golkar dan PPP. Belakangan koalisi terancam pecah dan karam, karena manuver PAN yang memunculkan nama Ganjar Pranowo dan Eric Thohir, Sementara Golkar memasang harga mati Capres adalah Airlangga Hartarto sang ketua umum.

Jokowi juga berharap pada Prabowo untuk bisa menjamin masa depan pemerintahan yang dia bangun, sehingga bisa menyelamatkan masa depan diri dan kroninya dari tuntutan salah kelola pemerintahan. Berharap pada Partai NasDem sangatlah tipis, karena Partai NasDem sudah berada dalam Koalisi perubahan bersama PKS dan Demokrat mencalonkan Anies Baswedan sebagai capresnya.

Tidak hanya kepada KIB yang kini juga mulai rapuh, Jokowi juga berharap pada Prabowo untuk bisa menjamin masa depan pemerintahan yang dia bangun, sehingga bisa menyelamatkan masa depan diri dan kroninya dari tuntutan salah kelola pemerintahan. Berharap pada Partai NasDem sangatlah tipis, karena Partai NasDem sudah berada dalam Koalisi perubahan bersama PKS dan Demokrat mencalonkan Anies Baswedan sebagai capresnya.

Kepada Prabowo, Jokowi juga mulai mengajari bagaimana belajar merakyat ditengah pola hidup yang aristokratik, memakai topi koboy, menunggang kuda dan memakai mobil – mobil mewah. Bahkan saat ini, Jokowi rajin mengajak Prabowo dan Ganjar dalam acara – acara yang berbau kerakyatan, misalkan acara panen raya padi di Desa Lajer, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen. Terhadap Prabowo juga mengajak untuk membajak sawah dan kepasar – pasar di Papua.

Bagi Prabowo apa yang dilakukan kepadanya saat ini adalah bagian dari belajar bagaimana menjadi pemimpin yang bisa dekat dengan rakyat. Oleh karena inilah kemudian Prabowo menyebut Jokowi sebagai guru terbaik bangsa. Ketua Umum Partai Gerindra ini menganggap Jokowi sebagai guru yang sedang menurunkan ilmu dalam memimpin Indonesia.

Ditengah semakin menguatnya dukungan kepada Anies Baswedan dan apalagi Koalisi Perubahan juga semakin mengerucut untuk deklarasi bersama pencalonan Anies Baswedan, Maka Jokowi perlu melakukan upaya “mempengaruhi” Megawati dengan menyodorkan dua nama yang berdasar survey, entah seperti apa survey itu selalu menempatkan Prabowo di posisi nomor 1, Ganjar nomor 2 dan Anies selalu di nomor 3, atau Ganjar nomor 1, Prabowo nomor 2 dan Anies nomor 3. Jokowi ingin mengulang prestasi tahun 2014 dimana saat itu popularitasnya tinggi dan mampu menggeser Megawati dari pencalonan sebagai Capres PDIP. Konon kabarnya dalam pertemuan itu, Jokowi mengajukan pasangan Prabowo – Ganjar untuk menghadapi Anies. Akankah Megawati luluh dengan itu, ataukah akan ada jalan tengah Puan – Ganjar atau Ganjar – Puan?

Kalau yang terjadi pasangan Prabowo – Ganjar, maka tentu akan terjadi konstraksi dan keterbelahan koalisi, kubu intenal PDIP yang mendukung Puan akan bergejolak, begitu juga dengan Koalisi Indonesia Raya yang sudah dibangun oleh Gerindra dengan PKB, tentu PKB akan bergolak merasa dikhianati Prabowo. Bila yang terjadi Ganjar Puan atau Puan Ganjar, maka Prabowo akan merasa ditinggal dan harus berpasangan dengan Cak Imin yang selama ini Prabowo merasa merasa kurang “sreg” Atau bahkan Prabowo akan ditinggal oleh Cak Imin sebagai balasan dari sikap Prabowo yang selama ini seolah akan meninggalkan PKB?

Bila melihat apa yang dilakukan oleh Jokowi dan istana dengan gerak cepatnya bermanuver menemui Megawati dan menyodorkan pasangan Capres yang dikehendaki, hal ini bisa dimaknai sebagai respon dari menguatnya dukungan Anies di Jatim, khususnya Surabaya yang selama ini dijadikan barometer bagi kemenangan. Bukankah ada adagium bahwa bila bisa memenangkan Jawa maka Pilpres bisa dimenangkan, Jawa Timur bagi Anies adalah “real battle”, membuka kuncinya melalui Surabaya dan ternyata sambutan kedatangan Anies disambut oleh puluhan ribu pendukungnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *