Ronaldo, Muhammadiyah, dan Ka’bah Baru

waktu baca 5 menit
Foto: Twitter @TheRonaldoTeam

KEMPALAN: DUA berita trending topic muncul dari Arab Saudi. Satunya soal Cristiano Ronaldo yang menjadi warga Muhammadiyah. Yang kedua adalah pembangunan ‘’Ka’bah Baru’’ oleh penguasa de facto Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman alias MBS.

Kedua berita itu menarik perhatian karena unsur sensasinya yang tinggi. Ronaldo selalu menjadi episentrum berita sejak kepindahannya ke klub Al-Nassr Februari tahun ini. Selama ini tidak ada satu pun stasiun televisi di luar Arab Saudi yang menyiarkan liga sepak bola negara itu. Tapi, sejak Ronaldo bermain di Al-Nassr tercatat ada 30 stasiun televisi regional maupun internasional yang menyiarkan liga Arab Saudi.

Penampilan Ronaldo juga moncer bersama klub barunya. Ia sudah mencetak 5 gol dan 2 assist dalam 4 pertandingan. Ronaldo menjadi ikon dan pujaan publik Arab Saudi, dan sudah menjadi bagian dari elite sosial di Arab Saudi.

Bukan hanya kiprah Ronaldo di lapangan hijau yang menjadi magnet pemberitaan. Kehidupan pribadi Ronaldo dan keluarganya menjadi sumber pemberitaan yang tidak kalah heboh. Pasangan Ronaldo, Georgina Rodriguez, menjadi daya tarik baru bagi perempuan Arab Saudi. Gaya pakaian, gaya make up, dan perilaku sehari-hari Georgina menjadi perhatian dan diikuti dengan antusias oleh jutaan followernya.

Arab Saudi yang menerapkan hukum Islam berdasarkan syariah melarang pasangan hidup tanpa menikah alias kumpul kebo. Tetapi, aturan itu tidak berlaku bagi Ronaldo dan keluarganya. Pemerintah kerajaan Arab Saudi memberi pengecualian khusus kepada Ronaldo untuk tetap tinggal di Arab Saudi bersama keluarga tanpa ikatan pernikahan.

BACA JUGA: Zainudin Amali Membuka Pintu Resafel

Ronaldo mendapatkan dispensasi khusus itu karena dia tinggal di ibukota Riyadh yang menjadi kota internasional. Ronaldo dan keluarga tinggal di Hotel Four Seasons di Kingdom Tower yang merupakan kawasan bintang lima. Disebutkan Ronaldo secara khusus menyewa 17 suites atau kamar yang letaknya terbagi menjadi dua lantai berbeda.

Ronaldo harus mengeluarkan kocek dalam untuk harga sewa 17 kamar tersebut, yang mencapai Rp 4,6 miliar. Harga tersebut termasuk enteng bagi Ronaldo, karena dia mendapat bayaran sekitar Rp 3,2 triliun pertahun.

Yang terbaru, Ronaldo dikabarkan sudah menjadi warga Muhammadiyah. Bukan Muhammadiyah organisasi Islam di Indonesia, tapi Muhammadiyah kawasan hunian super-mewah di Riyadh. Pekan ini Ronaldo dan keluarganya dikabarkan sudah pindah ke kawasan Al Muhammadiyah. Ronaldo punya hunian paling bergengsi di Arab Saudi. Al Muhammadiyah diisi banyak villa dan mansion dengan fasilitas kelas atas. Di area sekitarnya terdapat restoran kelas dunia sampai sekolah internasional. Kawasan tersebut memiliki jarak yang dekat dengan markas Al Nassr, Stadion Internasional Raja Fahd.

Georgina Rodriguez mengunggah foto di instagram sedang bersantai bersama Ronaldo di balkon mansionnya dengan panorama gurun pasir. Al Nassr menjaga privasi Cristiano Ronaldo sehingga tidak banyak berita yang bisa dikulik. Namun kabarnya Ronaldo mengajak sang ibu dan saudara-saudaranya untuk tinggal bersama-sama.

BACA JUGA: Profesor Joki

Sensasi lainnya yang muncul dari Arab Saudi adalah pembangunan ‘’Ka’bah Baru’’ yang kontroversial. Bukan Ka’bah di Mekah yang menjadi kiblat umat Islam seluruh dunia, tetapi sebuah hunian mewah yang arsitekturnya berbentuk kubus yang mirip Ka’bah.

Proyek hunian itu diberi nama The Mukaab yang digagas oleh MBS. Proyek ini menjadi sorotan dan bikin heboh dan disebut dengan istilah Ka’bah baru The Mukaab termasuk dalam proyek New Murabba yang ditargetkan selesai pada tahun 2030.

Proyek The Mukaab ini akan menyulap Kota Riyadh menjadi destinasi wisata megah dengan desain futuristik. The Mukaab memiliki tinggi 400 meter dan panjang 400 meter di setiap sisinya.

Gedung The Mukaab akan menjadi gedung tertinggi di Kota Riyadh. The Mukaab akan menampung dua juta meter persegi pertokoan di samping atraksi budaya dan wisata. The Mukaab didesain untuk menampung 20 kali kapasitas Gedung Empire State di New York, AS.

BACA JUGA: Megawati dan Bayi Kuntet

The Mukaab akan menjadi komplek seluas 19 kilometer persegi. Isi dari bangunan ini nantinya meliputi hotel, wisata, unit hunian, dan tempat komersial. Di dalamnya akan memuat 104.000 unit rumah, 9.000 kamar hotel, 980.000 meter persegi ruang ritel, 1,4 juta meter persegi ruang kantor, 80 tempat hiburan dan program budaya, 1,8 juta meter persegi komunitas lainnya ruang fasilitas bersama dengan universitas yang berfokus pada teknologi dan desain.

The Mukaab akan memiliki sistem transportasi sendiri dan berjarak 20 menit dari bandara dengan mobil. Sementara itu, proyek New Murabba akan memiliki berbagai area mencakup museum, teater serbaguna, dan lebih dari 80 tempat hiburan dan budaya.

Bangunan The Mukaab menuai berbagai kontroversi. The Mukaab yang berbentuk kubus dan akan dibangun di jantung ibu kota Arab Saudi memiliki kemiripan yang terlalu besar dengan Ka’bah.

Tuduhan ini merupakan upaya untuk mendiskreditkan reformasi besar-besaran yang dilakukan Pangeran MBS. Kalangan konservatif tidak ingin nama asing seperti New Murabba diberikan pada proyek itu. Proyek ini dianggap sebagai bagian dari westernisasi yang dijalankan oleh MBS.

Komentar negatif juga datang dari kalangan Islam melalui berbagai platform sosial media. “Apakah Mohamed bin Salman membangun Ka’bah sendiri di Riyadh? Ini adalah desain yang dia pilih untuk proyek terbarunya; sebuah ‘Ka’bah’ hiburan baru’’. Begitu cuit seorang pengritik.

BACA JUGA: PSSI dan Korporatisme Negara

Meski demikian, tak sedikit yang menyambut rencana proyek New Murabba dengan kesan positif. Mereka mengatakan orang-orang yang bereaksi negatif adalah orang yang mudah terprovokasi.

MBS tetap keukeuh dengan proyek-proyek ambisiusnya. Ia kini menjadi penguasa de facto yang menentukan arah kebijakan pembangunan Arab Saudi. Ia sengaja memutus sejarah Arab Saudi dengan Wahabisme yang membuat negara itu dikategorikan sebagai negara konservatif.

MBS dengan terang-terangan mengangkat tema nasionalisme Arab Saudi sebagai karakter baru, dan melepas asosiasinya dengan wahabisme. MBS ingin melepas ketergantungan eknomi negaranya dengan minyak. Karena itu dia mencari alternatif pendapatan baru dengan investasi besar-besaran di bidang teknologi dan pariwisata.

MBS memutus hubungan dengan wahabisme dan kembali kepada akar budaya lokal Arab Saudi pra-Islam. Pengritiknya menyebut MBS sengaja mengembalikan citra Arab Saudi kepada era jahiliyah yang terbelakang. Sebelum kedatangan Islam, jazirah Arab dikenal sebagai wilayah yang terbelakang dan disebut berada ada era kebodohan atau jahiliyah.

MBS ingin kembali kepada indentitas itu untuk menjadi dasar modernisasi Arab Saudi. MBS melakukan liberalisasi ekonomi, tetapi tetap mengendalikan kontrol politik secara ketat. Ia menghukum keras oposisi dan orang-orang yang mengritik melalui media sosial.

Sensasi Ronaldo dan sensasi The Mukaab adalah bagian dari proye-proyek sensasional yang dibesut MBS. Sejarah akan membuktikan apakah modernisasi dan westernisasi Arab Saudi ini bisa mengalahkan konservatifisme yang sudah mengakar ratusan tahun. (*)

Editor: DAD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *