Membaca Ekspresi Wajah Gibran

waktu baca 3 menit

KEMPALAN: Gibran Rakabuming Raka, anak sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang juga Wali kota Solo, itu punya kepribadian yang tenang. Bahkan kelewat tenang. Bicaranya dicukupkan sepatah dua patah kata. Jika bicara, mulutnya pun tidak dibuka lebar-lebar. Yang keluar dari mulut suara datar dengan intonasi rendah.

Jika saja kita punya telinga rada kurang normal, sulit bisa mendengar apa yang diomongkan Gibran. Juga jadi kesulitan tersendiri, jika berharap bantuan bisa mendengar lebih jelas dengan membaca gerak bibir, namun yang ada bibir yang cuma terbuka seiris.

Sepertinya Gibran banyak mengambil sifat dari sang bunda, Ibu Iriana, yang jika bicara juga teduh tenang. Bicara juga sepatah dua patah kata. Bisa disebut miskin narasi. Berkebalikan dengan ibu negara sebelumnya, Ibu Ani Yudhoyono, yang jika bicara tegas berkarakter. Keduanya tentu punya kepribadian berbeda satu dengan lainnya. Jadi mestilah maklum untuk tidak coba diperhadapkan.

Gibran juga punya karakter yang berbeda dengan adik bungsunya, Kaesang Pangarep, yang lebih lumayan jika berceloteh, bahkan aktif di sosial media. Meski yang diangkat bukan hal yang serius, bisa jadi pengaruh usianya yang masih muda.

Kaesang memang lebih gaul ketimbang sang kakak. Bisa disebut mirip sang bapak, Jokowi, yang punya kecukupan berbicara walau acap juga kesulitan mencari kata yang pas untuk diucap. Tapi tetap pede tampil bicara, meski terkadang jadi bahan tertawaan. Swear saya tidak termasuk yang suka menertawakannya.

Mari kembali pada Gibran, agar tidak kehilangan fokus. Dan, mari belajar membaca ekspresi wajah Gibran. Memangnya untuk apa?

Pastilah itu akan mendatangkan kesulitan tersendiri. Ekspresi wajah nesu dan riang gembira seorang Gibran, terkesan sama saja. Sulit bisa membedakan. Mungkin yang bisa membaca ekspresi wajahnya dengan tepat, cuma ayah-bundanya, lalu istrinya, dan keluarga inti lainnya. Juru warta yang mewancarainya acap kesulitan membaca gerak bibir dengan suara lirih, ditambah gestur tubuh dengan ekspresi wajah datar-datar saja.

Jadi kesulitan tersendiri bagi juru warta yang ingin mengambil berita darinya. Diberinya sepotong, lalu selanjutnya diminta untuk membaca ekspresi wajahnya. Setidaknya itu yang disampaikan Gibran pada juru warta saat ditanya kemungkinan kesiapan maju Pemilihan Gubernur (Pilgub). Jawabnya, seperti khas Gibran yang aras-arasen menjawab, “Baca sendiri ekspresi wajah saya”.

Jawaban Gibran itu bentuk kesuntukan dalam menjawab pertanyaan. Maka, ia dengan enteng memberi pekerjaan juru warta untuk membaca ekspresi wajahnya, yang pasti itu tidaklah mudah. Fisiognomi atau biasa pula disebut face reading–ilmu membaca ekspresi wajah seseorang–itu pun tidak menjamin mampu membaca ekspresi wajah seorang Gibran dengan tepat.

Disamping gaya Gibran yang rada cuek jika menjawab pertanyaan, itu bisa juga sebenarnya bentuk “pembelaan diri” saat mendapat kesulitan memberi penjelasan sewajarnya. Maka menjawab sekadarnya, itu jadi andalan menutup kekurangannya.

Perjalanan Gibran sampai pada posisi sebagai Wali Kota Solo, itu memang tidak perlu kerja keras, semacam pejabat publik lainnya. Ia maju di Pilkada serentak 2020, disokong semua partai politik, kecuali PKS. Gibran menjadi tidak punya lawan pesaing dalam kontestasi itu. Maka, dimunculkan lawan dari jalur perseorangan atau independen, seperti asal dipasangkan saja. Hasil pilkada menjadi bisa diduga, mutlak kemenangan untuknya.

Buat seorang Gibran nasib jalan hidupnya dibuat seolah menjadi mudah, itu tidak lepas dari “keberadaan” dan “penjagaan” Sang Bapak. Buatnya ditolerir apapun yang disebut sebagai kekurangan. Sebagai pejabat publik, maka semua pihak diminta mafhum, menganggap semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang boleh merasa kurang, mengkoreksinya. Kurang pada orang lain, itu tidak pada Gibran.

Maka pada juru warta khususnya, mulailah belajar dengan sungguh-sungguh membaca ekspresi wajah Gibran, agar bisa membantu menyampaikan pada khalayak luas apa yang tengah dikerjakannya selaku Wali Kota Solo. Sulit memang, dan menjadi pekerjaan tersendiri, tapi mau apa lagi jika itu yang dipintanya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *