Anies dan Resafel Rabu Pon

waktu baca 6 menit
Foto: isiimewa

KEMPALAN: IBARAT permainan sepak bola, Koalisi Perubahan melakukan intercept, gerakan mencegat bola, sebelum bola sampai di kaki Joko Widodo. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengumumkan dukungannya terhadap pencalonan Anies Rasyid Baswedan (30/1), dua hari sebelum Jokowi diperkirakan akan melakukan resafel kabinet.

Kabar santer beredar Jokowi akan melakukan kocok ulang kabinet pada 1 Februari bertepatan dengan Rabu Pon dalam penanggalan Jawa. Dalam beberapa resafel dan pengambilan keputusan strategis Jokowi sering mengambil hari Rabu Pon sebagai hari keramat.

Spekulasi mengenai resafel makin kencang setelah Jokowi bertemu dengan Surya Paloh. Setelah mengumumkan pencalonan Anies Baswedan sebagai calon presiden yang diusung Nasdem Oktober lalu, hubungan Surya Paloh dengan Jokowi merenggang. Salah satu indikatornya Jokowi tidak hadir pada acara ulang tahun Nasdem.

Indikator resafel juga menguat setelah Jokowi memanggil Prabowo Subianto ke Istana. Beberapa tokoh politik lain juga sudah dipanggil oleh Jokowi.

BACA JUGA: Jokowi dan ASEAN

Kocok ulang kabinet menjadi penalti terhadap Nasdem. Tiga kader Nasdem di kabinet akan diberhentikan dan Jokowi punya 3 kursi kabinet untuk dibagi-bagikan guna memperkuat koalisinya.

Di tengah isu resafel yang santer, Koalisi Perubahan melakukan manuver cepat. Setelah Partai Demokrat mengumumkan dukungan kepada Anies Baswedan, PKS secara resmi menyusul mengumumkan dukungan kepada Anies Baswedan.

Dukungan PKS ini mengakhiri teka-teki dan spekulasi yang berkembang selama 3 bulan terakhir sejak deklarasi dukungan Nasdem kepada Anies Baswedan. Selama ini muncul berbagai isu mengenai ketidakjelasan masa depan Koalisi Perubahan. Dengan pengumuman dukungan PKS, sah sudah Anies Baswedan menjadi calon presiden Koalisi Perubahan, dan sudah memenuhi ambang batas kepresidenan 20 persen.

Sebelum pengumuman oleh PKS, bola politik ada di kaki Jokowi. Ia menggocek bola untuk menyerang lawan politik. Resafel adalah tendangan penalti mematikan bagi Nasdem. Tetapi, dengan intersep yang tepat waktu, sekarang Jokowi kehilangan bola.

BACA JUGA: Samanhudi Anwar dan Ken Arok

Jika Jokowi tetap melakukan resafel Rabu Pon, dampak serangan terhadap Nasdem tidak akan terlalu terasa. Resafel malah akan memperkuat konsolidasi oposisi yang digalang oleh Koalisi Perubahan di mana Nasdem menjadi episentrumnya.

Jokowi harus berpikir keras untuk memikirkan respons antisipasi terhadap manuver Koalisi Perubahan ini. Jokowi harus membuka lagi kitab primbon politiknya untuk memastikan apakah tetap akan melakukan resafel Rabu Pon atau mencari cara lain.

Presiden Jokowi dikenal sebagai pengamal mistisisme yang setia. Demikian pula dengan presiden-presiden sebelumnya seperti SBY, Megawati, Gus Dur, sampai ke Pak Harto dan Bung Karno, semua dikait-kaitkan dengan kekuatan mistis sebagai pemberi legitimasi.

Kepemimpinan modern mendapatkan legitimasi dari rakyat melalui mekanisme demokrasi seperti pemilihan umum dan sejenisnya. Pemimpin tradisional mendaptkan legitimasi dari wangsit atau pun pulung. Untuk menjadi pemimpin seseorang harus punya pulung wahyu kedaton.

BACA JUGA: Kaesang, dari Bisnis Pisang ke Politik

Dalam legenda Panembahan Senopati tersebutlah kisah Ki Pemanahan yang secara tidak sengaja meminum pulung dalam buah air kelapa milik sahabatnya, Ki Ageng Giring.

Pulung ada di air buah kelapa yang harus diminum habis sekali teguk. Pemanahan yang sedang mampir ke rumah Ki Ageng Giring tidak sengaja meneguk habis air kelapa yang sengaja disimpan oleh Ki Ageng Giring untuk diminum kalau dia haus supaya bisa menghabiskannya sekali teguk.

Ki Pemanahan yang kebetulan mampir ke rumah Ki Ageng Giring melihat kelapa tergeletak dan langsung menenggak airnya sampai tandas. Akhirnya Ki Pemanahan ketiban rezeki nomplok karena mendapatkan pulung gratis yang membuat anak turunnya menjadi penguasa Jawa seperti Panembahan Senopati, Sultan Agung, dan seterusnya.

Dalam tradisi Yunani raja-raja selalu mencari legitimasi dengan menyebut dirinya sebagai anak atau keturunan Dewa Zeus atau dewa-dewa lainnya. Dalam tradisi Mesir kuno juga demikian, malah Firaun mengaku sebagai tuhan itu sendiri.

Dalam tradisi pewayangan para ksatria dan raja adalah keturunan para dewa, mulai dari dewa angin, dewa laut, dewa matahari, dan dewa-dewa lain.

BACA JUGA: Fajar Sadboy dan Pengemis Digital

Tradisi kepemimpinan tradisional Jawa itu sampai sekarang masih tetap dipercaya dalam politik modern Indonesia.

Pemimpin modern Indonesia merasa bahwa selain mendapatkan mandat dari rakyat mereka juga mendapatkan wangsit dan ketiban wahyu kedaton. Karena itu keputusan-keputusan politik yang diambil tidak semuanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan rasional. Ada unsur-unsur irasional yang justru sering menjadi pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan.

Bung Karno dikaitkan dengan Nyi Roro Kidul, penguasa pantai selatan. Di Hotel Indonesia Sukabumi ada satu kamar khusus yang disediakan bagi Bung Karno untuk berkomunikasi dengan Sang Nyai. Ada lukisan besar Nyi Roro Kidul di dinding kamar itu. Suasananya singup dan magis.

Pak Harto punya kekuatan back up spritual dari Bu Tien yang punya trah biru keraton Solo. Konon Bu Tien-lah yang memegang wahyu kedaton.

Habibie tidak bisa lama menjadi presiden karena tidak punya jalur wahyu kedaton. Begitu kata para pemercaya klenik. Apalagi Habibie “gak jowo” bukan orang Jawa, sehingga sulit mendapatkan wangsit wahyu kedaton.

Menurut jangka Jayabaya, penguasa Indonesia dikiaskan dalam sebutan “Notonagoro”. Secara harfiah berarti menata negara. Tapi oleh para pemercaya klenik ditafsirkan sebagai akronim dari nama-nama presiden Indonesia. “No” untuk Sukarno, “To” untuk Suharto, dan seterusnya.

BACA JUGA: Mahfud MD Malu Jadi Orang Indonesia

Makanya ketika Gus Dur, Abdurrahman Wahid, jadi presiden para pemercaya klenik jadi bingung karena nama Abdurrahman tidak masuk dalam skema Notonagoro. Gus Dur sendiri dikenal sebagai penghayat budaya Jawa yang canggih.

Kata Gus Dur, nama Abdurrahman tetap masuk dalam skema akronim Jayabaya, bukan dalam skema Notonagoro tapi “Noto Manconagoro”. Karena itu, setelah Noto (Sukarno dan Suharto) urutan selanjutnya adalah “Man” dan “Co”. Man, adalah Abdurrahman alias Gus Dur.

Ini tentu guyonan khas Gus Dur. Mana ada jangka Jayabaya menyebutkan Noto Manconagoro kalau bukan karangan Gus Dur. Ketika ditanya apakah Gus Dur juga dapat wangsit wahyu kedaton, Gus Dur menjawab dia dapat wangsit mi ayam.

Bagi Gus Dur yang piawai dan menguasai filosofi kekuasaan Jawa, masalah-masalah mistis dan klenik dihadapi dengan guyonan saja, tidak perlu diseriusi atau dibikin repot.

Tapi bagi sebagian orang lain soal klenik dan mistis ini masalah serius dan tidak boleh dibuat main-main. Jokowi punya hari keramat Rabu yang bertepatan dengan weton, hari kelahirannya. Keputusan-keputusan strategis dilakukan pada hari Rabu dengan mempertimbangkan pertimbangan primbon yang rumit.
Ada ritual seperti memelihara jenis hewan tertentu seperti kodok dan sejenisnya. Ada pantangan-pantangan tertentu seperti tidak boleh berkunjung ke Kediri, atau juga isyarat-isyarat alam tertentu seperti gunung meletus atau sejenisnya.

BACA JUGA: Rasmus Paludan

Para presiden Indonesia semua dikaitkan dengan Gunung Lawu yang membawai wilayah Mataraman. Para presiden disebut sebagai Putra Gunung Lawu. Secara kebetulan semua presiden Indonesia sekarang ini adalah Putra Gunung Lawu. Itulah ilmu gutak-gatuk matuk. Diutak-atik sehingga jadi cocok.

Dalam hal tradisi kejawen ini Anies Baswedan adalah antitesa Jokowi. Ketika mengadakan perhelatan MotoGP di Mandalika Jokowi memakai pawang hujan. Ketika menggelar balapan Formula E di Jakarta Anies tidak memakai dukun hujan tapi memakai weather forcast yang ilmiah.

Tapi Anies pun memakai idiom-idiom Jawa untuk memperkuat legitimasi budayanya. Anies memamerkan kegemarannya memelihara ayam dan burung, dan suka menonton pertunjukan wayang.

Rumahnya di Lebak Bulus mempunyai arsitektur joglo khas Jawa. Anies mempunyai rumah joglo di Ponorogo Jawa Timur yang direkonstruksi dari bekas bangunan pesantren legendaris Tegalsari. Anies ingin menunjukkan garis legitimasi kepada Kiai Hasan Besari yang melahirkan tokoh-tokoh Islam Mataram abad ke-18.

Memakai logika slengekan ala Gus Dur dalam menginterpretasikan Jangka Jayabaya, nama Anies Baswedan pun masuk dalam akronim Notonagoro sebagai calon pemimpin Indonesia. Nama Anies masuk pada bunyi terakhir ‘’Ro’’, yaitu Rosyid Baswedan.

Gitu saja kok repot. (*)

Editor: DAD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *