Sayonara TV Analog, Mencaritemukan Nilai Keekonomian TV Digital     

waktu baca 3 menit
Ilustrasi TV digital
Catatan Ekonomi Bambang Budiarto

KEMPALAN: Diciptakan dan diperkenalkan pertama kali di Inggris di 1926 oleh John Lagie, Stasiun TV pertama adalah W2XB. Di Indonesia sendiri TV mulai ada dan beroperasi 17 tahun setelah kemerdekaan, tepatrnya 17 Agustus 1962 bertepatan dengan Peringatan HUT Kemerdekaan RI. Berdirinya Stasiun Televisi Republik Indonesia (TVRI) disemangati oleh momentum Indonesia sebagai Tuan Rumah Asian Games ke-IV yang pelaksanaannya terpusat di Stadion Utama Senayan Jakarta. Menjangkau 27 provinsi dengan ditandai terdistribusinya TV Merk Sanyo yang tentu saja dari namanya ini adalah pabrikan Jepang. Sedikit merisaukan pasar saat itu, karena produsen televisi pertama kali sebenarnya adalah RCA – Amerika.

Berawal dengan tampilan hitam putih selama berpuluh tahun dengan siaran yang dimulai sore hari dan berakhir menjelang tengah malam. Iklan-iklan dalam format slideshow mengawali sarana niaga di televisi untuk pertama kalinya; iklan Hotel Tjipajung, produk alat berat dan truk PT Masayu,  Susu Indomilk, Susu Sedap, Bir Anker, juga Rokok Mascot. Meskipun TV sudah masuk Indonesia sejak 1940 namun baru mampu menjelma menjadi tayangan berwarna dalam edisi uji coba di 1975, sementara RCTI adalah TV Swasta pertama yang mengudara di tanah air.

Setelahnya perjalanan pertelevisian menjadi semakin cepat dan semakin baik. Begitulah perjalanan panjang media audio visual ini dalam format analog, dan yang terkini tentu saja adalah per 2 Nopember 2022 tepat di pukul 24:00 wib format analog telah tiada. Jabodetabek sebagai representasi wilayah dengan pemanfaatan teknologi kekinian telah mendapati dimulainya switch on ke TV Digital mulai Pukul 00:01 wib. TV Analog telah disuntik mati. Sayonara TV Analog, terima kasih telah menemani selama ini, Analog  Switch Off (ASO).

Sesuai dan atas nama Undang-Undang No. 11/2020 tentang Cipta Kerja, pemerintah memiliki kewajiban untuk mengalihkan siaran televisi di wilayah NKRI dari sistem analog ke sistem digital pada 2 November 2022. Dengan sosok boneka MODI si Maskot Digital Indonesia, coba untuk dilakukan sosialisasi dan edukasi ke masyarakat  atas penting dan perlunya ber-migrasi ke TV Digital.

Dengan iming-iming tanpa kuota internet, berkualitas gambar lebih jernih dan canggih, tanpa “semut”, bagus di segala cuaca, tidak ada kepyur dan cling serta mampu menjadi media peringatan dini terjadinya bencana alam. Di luar kemampuan layanan kualitas atas TV Digital tersebut, ada beberapa keunggulan yang lain bisa disebut yang diharapkan memberikan manfaat lebih bagi masyarakat.

Pemahaman umum, tentu saja yang dimaksud dengan manfaat lebih adalah memberikan kebermanfaatan ekonomi masyarakat banyak. Melalui identifikasi dalam beberapa bentuk dan format pencariannya, pada gilirannya akan ditemukan; lebih banyak konten yang dapat dinikmati, juga frekuensi yang lebih efisien, dan untuk kepentingan ekonomi digital,  industri 4.0 dan 5G menjadi alasan memberdayakan TV Digital ini.

Mencermati situasi yang demikian maka migrasi siaran televisi teresterial dari analog ke digital sejatinya sudah menjadi sebuah kebutuhan, sebab didalamnya mampu menyuguhkan internet lebih cepat. Dengan menggunakan TV Digital makin banyak frekuensi yang digunakan untuk internet yang lebih cepat. Di sinilah poin pentingnya, menjadikan kemampuan internet yang lebih cepat.

Sangat mudah dipahami, apabila terdapat kecepatan lebih atas jaringan internet tentu saja mobilitas berbagai aktivitas ekonomi akan menjadi lebih mudah dilakukan. Konfirmasi atas produksi, distribusi, juga konsumsi semakin cepat diterima dan semakin cepat dinikmati. Nilai ke-ekonomian inilah yang perlu menjadi penyadaraan diri masyarakat banyak bahwa di balik kemampuan layanan tayangan TV Digital ternyata memiliki eksternalitas positif atas beberapa bentuk aktivitas ekonomi yang mampu meningkatkan multiplier income tidak hanya pelaku unit kegiatan ekonomi di tingkat menengah ke atas tapi juga di level perusahaan dan unit kegiatan ekonomi dalam skala mikro kecil dan menengah.

Pertanyaannya sekarang adalah, adakah eksternalitas negatif atas kehadiran dan keberadaan TV Digital ini? Salam.  (Bambang Budiarto – Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya, Redaktur Tamu Kempalan.com)

Editor: Freddy Mutiara

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *