Asa Masyarakat Pesisir Tumpang Pitu

waktu baca 6 menit
Musim paceklik ikan. Nelayan Psncer tidak berani melaut

KEMPALAN: Setidaknya terdapat tiga dusun pesisir di kaki gunung Tumpang Pintu, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Warga dusun Pancer, Ringinsari dan Rajegwesi Sarongan mayoritas dihuni oleh nelayan, pengolah ikan tradisional, pedagang dan pembudidaya ikan sebagian lainnya petani dan berkebun. Diberi anugerah hasil laut selatan yang melimpah akan tetapi warga di ketiga daerah tersebut belum mampu memaksimalkan produksi perikanannya, maupun memanfaatkan potensi sumber daya alam lainnya karena keterbatasan sarana dan teknologi.

Nelayan di ketiga desa tersebut tidak dapat berbuat banyak ketika paceklik ikan tiba bersamaan dengan datangnya musim angin barat yang berlangsung selama 5-6 bulan (Oktober-Maret). Mereka harus bekerja serabutan di darat. Sebagai catatan waktu efektif nelayan melaut hanya 181 hari dalam setahun. Gelombang tinggi, angin besar dibungkus dalam cuaca tak bersahabat memaksa mereka meninggalkan ranahnya sebagai insan bahari.
Apa saja dikerjakan untuk dapat menghidupi keluarganya termasuk alih profesi menjadi pekerja bangunan di Kota Banyuwangi.

BACA JUGA: Jangan Ada Dusta Solar Nelayan

Jumlah nelayan yang tercatat di Pelabuhan Perikanan Pancer tahun 2022 sebanyak 2.597 orang. Jenis kapal dari berbagai ukuran 4-30 GT memadati kolam labuh, antara lain pakisan, payang, jukung, cantrang, purse seine untuk menangkap ikan pelagis kecil seperti tongkol, cakalang, baby tuna, selar, lemuru, kakap, lemadang dan gurita menggunakan jaring gillnet, jaring insang hanyut, bagan perahu dan lainnya. Jumlah kapal berukuran 10-30 GT tercatat 48 unit, kapal di bawah 10 GT kurang lebih 700 unit.

Produksi perikanan Pancer tahun 2020 sebesar 1.449.929 Kg dan tahun 2021 sebesar 1.869.442 Kg.

Hasil tersebut tergolong minim tidak sebanding dengan potensi perikanan laut selatan. Terdapat pula kapal sekoci untuk memancing (handline) ikan tuna selama 3-4 hari melaut sejauh 30-40 mil. Pancer sebagaimana halnya Pelabuhan Perikanan Pondokdadap (Malang selatan), Tamperan (Pacitan) adalah penghasil ikan bernilai ekonomi, tuna, cakalang, tongkol (TCT). Di Pelabuhan Pancer tercatat pula sekitar 700 perahu jukung yang digunakan nelayan setempat untuk menangkap benur atau yang biasa disebut benih bening lobster (BBL).

Hambatan utama yang dihadapi nelayan Pancer adalah tidak tersedianya Stasiun Pompa Bahan Bakar Nelayan (SPBN) sehingga armada kapal nelayan tidak mendapat jatah solar subsidi dan membeli di SPBU, jaraknya 17 Km dari Pancer. Kebutuhan solar per hari di Pancer sekitar 8 ton. Faktanya walaupun harga lebih mahal, nelayan memilih membeli bensin atau solar eceran di kios kios, sementara Perta Shop atau Perta Mini juga belum ada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *