Kehidupan Dunia

waktu baca 4 menit
Foto: istimewa

KEMPALAN: Dalam perspektif Islam, dunia bukanlah tujuan akhir dari perjalanan manusia. Karena itulah dunia ini tidaklah kekal, karena akan selalu ada kematian sebagai akhir dari kehidupan di dunia ini. Akan tetapi, dunia adalah ladang untuk kehidupan yang abadi dan kekal. Yaitu di akhirat kelak.

Rasulullah SAW bersabda, “Dunia itu laksana surga bagi orang yang kafir dan penjara bagi orang mukmin.” (HR. Muslim). Mengapa ? Karena di dunia ini dipenuhi aturan-aturan yang sama sekali tidak boleh dilanggar. Ada halal-haram, ada perintah-larangan, ada ini dan itu. Kerap kali untuk menjalankan suatu perintah, harus meninggalkan beberapa perkara yang nampak indah dan di saat tertentu harus menelan pil pahit.

Dunia memang laksana fatamorgana. Sepertinya megah, namun pada hakekatnya lemah. Menurut bahasa Arab, dunia berarti hina dan dekat. Hina karena harganya tidak ada apa-apanya dibanding akhirat. Dekat karena kedekatannya dengan kampung akhirat.

BACA JUGA: Barokah

Kehidupan di dunia ini tiada lain kecuali kesenangan yang memperdayakan. Kesenangan yang dirasakan di dunia ini berupa makanan, minuman, pangkat, kedudukan dan sebagainya, pada umumnya itu semua memperdayakan manusia. Disangkanya itulah kebahagiaan, maka tenggelamlah manusia karena asyik dengan kenikmatan dunia.

Rasulullah SAW menyuruh umatnya agar mengejar akhirat sebagai tujuan akhir. Dengan mengejar akhirat, maka dunia akan mengikuti dengan mudah. Setiap urusan dunia akan di permudah oleh Allah SWT sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

“Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan cerai beraikan urusannya, lalu Allah jadikan kefakiran selalu menghantuinya, dan rezeki duniawi tak akan datang kepadanya kecuali hanya sesuai yang telah ditakdirkannya saja. Sedangkan barang siapa yang menjadikan akhirat sebagi puncak cita-citanya, maka Allah akan ringankan urusannya, lalu Allah isi hatinya dengan kecukupan, dan rezeki duniawi mendatanginya padahal dia tak minta.” (HR.Al-Bahihaqi dan Ibnu Hibban).

Kehidupan manusia harus seimbang. Islam tidak mengajarkan umatnya melalaikan akhirat dan mengejar dunia, begitu pun dengan mengutamakan akhirat dan melupakan kehidupan dunia. Dunia akhirat harus selaras dan saling berkesinambungan. Allah SWT menciptakan dunia dan seisinya adalah untuk manusia, sebagai sarana menuju akhirat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *