127 Suporter Meninggal, IGK Manila: Sepakbola Indonesia Berkabung

waktu baca 3 menit
IGK Manila, mantan Manajer Timnas Sepakbola SEA Games 1991.

JAKARTA-KEMPALAN: Kerusuhan yang terjadi pasca pertandingan derby Jawa Timur antara Arema Malang vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (1/10) malam, sangat disesalkan oleh IGK Manila. Apalagi kerusuhan tersebut mengakibatkan 127 orang suporter tewas dan ratusan lainnya luka-luka.

“Di medan perang sebenarnya saja dalam sehari tidak sampai sekian banyak yang meninggal dunia. Lho ini sepakbola, kok sampai 127 orang yang meninggal dunia,” kata IGK Manila kepada wartawan di Jakarta, Minggu (2/10).

Mantan manajer Timnas Sepakbola Indonesia di SEA Games 1991 Manila yang sukses merebut medali emas setelah di final mengalahkan Thailand  lewat adu penalti tersebut mengatakan, kejadian ini sangat disayangkan. Apalagi Indonesia telah ditunjuk FIFA sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun 2023.

“FIFA pasti menegur dan melakukan evaluasi kembali penunjukan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Sebab negara yang antre untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 juga sangat banyak,” ujarnya.

Karena itu, menurut Manila, kejadian ini tidak hanya PSSI yang berkabung, tapi suluruh rakyat Indonesia. Apalagi kalau FIFA kemudian membatalkan penunjukan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun 2023, siapa yang rugi.

BACA JUGA: Aremania Rusuh, Iwan Bule Pastikan Beri Hukuman Berat ke Arema

“Boleh dibilang, sepakbola Indonesia sekarang sedang berkabung. Baru sekarang kerusuhan sepakbola menelan banyak korban jiwa dan luka-luka,” tegas Manila.

Dia menduga aparat keamanan kurang mengantisipasi bahwa laga Arema vs Persebaya ini sangat rawan rusuh. “Sejak dulu laga Arema vs Persebaya selalu rusuh. Apalagi main di Malang, suporter Arema tentu tidak mau kalau timnya kalah. Kalau kalah, pasti mereka ngamuk. Ini harusnya diantisipasi oleh aparat,” ujarnya.

Manila juga menyayangkan kenapa aparat keamanan menembakkan gas air mata. Akibatnya, banyak penonton yang panik sehingga kemudian banyak yang tewas dan mengalami luka-luka. “Mestinya tidak perlu sampai menggunakan gas air mata kalau tidak terpaksa. Cukup menggunakan air saja,” tuturnya.

BACA JUGA: “Tragedi Oktober’’ di Kanjuruhan Lebih Mengerikan dari Heysel

Sementara itu, dalam konferensi pers, Minggu (2/10),  Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta mengatakan jika
dalam kejadian tersebut telah meninggal 127 orang, dua di antaranya anggota Polri.

Menurut Nico, ada 34 orang yang meninggal dunia di stadion dan lainnya meninggal dunia di rumah sakit.

Selain itu, kata dia, polisi mencatat ada sekitar 180 orang yang tengah dirawat di sejumlah rumah sakit.

BACA JUGA: Update: 127 Orang jadi Korban Kerusuhan di Kanjuruhan

Sebelumnya diberitakan, kerusuhan suporter pecah dalam laga yang digelar dalam rangkaian laga pekan ke-11 Liga 1 2022-2023 ini.

Dugaan sementara, para korban terinjak-injak supporter lain, serta sesak nafas akibat semprotan gas air mata jajaran keamanan.

BACA JUGA: Ricuh di Kanjuruhan Telan Korban, Persebaya Ucap Belasungkawa

Kericuhan terjadi setelah para suporter turun ke lapangan karena tidak terima atas kekalahan Arema 2-3 saat menjamu Persebaya Surabaya.

Mereka lantas merangsek turun ke lapangan, meloncati pagar. Akibatnya, jajaran aparat keamanan terlihat kewalahan menghalau. Puncaknya, pihak keamanan menembakkan gas air mata ke arah kerumunan suporter tersebut. (Dwi Arifin)

Editor: DAD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *