Benang Ruwet Penanganan Kasus Ferdy Sambo

waktu baca 5 menit
Mantan Kadiv Propam Irjen Pol Ferdy Sambo (Foto: SINDOnews)

KEMPALAN: Perkara tindak pidana pembunuhan yang berencana (Pasal 340 KUHP), maupun yang tidak berencana (Pasal 338 KUHP), adalah perkara sehari-hari bagi penyidik kepolisian.

Pembuktiannya mudah. Bila visum et repertum (VeR) dari kedokteran forensik sudah menyimpulan korban mati karena akibat penembakan atau tusukan benda tajam, tinggal membuktikan perbuatan siapa yang menyebabkan matinya korban (adequate causaliet).

Bila pembunuhan berencana tinggal membuktikan antara niat membunuh pelaku dan pelaksanaan pembunuhan korban, ada jeda waktu untuk pelaku menyiapkan kebutuhan eksekusi niatnya membunuh korban, serta dapat dikaji dari motif yang melatari pembunuhan.

Bila pembunuhan tidak direncanakan, kesengajaan membunuh tidak diawali perbuatan persiapan, hanya karena peristiwa atau motif yang tiba-tiba terjadi yang menghantarkan pelaku untuk membunuh korbannya.

Misalnya dua pengendara mobil yang bertabrakan di jalan raya, lalu keduanya emosi saling menyalahkan dan akhirnya berkelahi, yang akibatnya salah satu mati. Tidak ada desain untuk membunuh korban sebelumnya.

Namun, mengapa dalam penanganan perkara pembunuhan berencana Brigadir Joshua yang didalangi Irjen Fredy Sambo, begitu butuh waktu sebulan untuk mengungkapkannya dan terkesan begitu pelik?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *