KEMPALAN: Kasus pembunuhan Yosua sudah usai. Masih ada ekornya. Polemik antara Menko Polhukam Mahfud MD versus Ketua Komisi III DPR RI, Bambang Wuryanto. Saling lontar pendapat. Biarkan publik jadi juri.
***
KASUS pembunuhan Yosua terlalu seru. Trending topic di medsos. Media massa tak habis-habisnya memberitakan. Selama sebulan.
Tak heran, penyidikan perkara sudah tuntas, pun masih berekor. Ekornya bercabang-cabang. Salah satu cabangnya, perang opini itu.
Diawali keheranan Prof Mahfud. Heran yang paling heran. Bahwa di kasus besar ini DPR, khususnya Komisi III yang membidangi Kamtibmas, Polri, dianggap Mahfud: Diam membisu. Sebulan. Ada apa?
Pernyataan Prof Mahfud itu disampaikan dalam wawancara bersama Kompas TV. Mahfud menyenggol DPR, yang disebutnya diam saja.
BACA JUGA: Analisis Motif Bunuh Yosua
Mahfud: “Misalkan saya katakan, psiko-politisnya kasus ini, semua masyarakat heran, kenapa sih ini DPR kok diam? Ini kan kasus besar. Biasanya kan ada apa-apa… paling ramai manggil-manggil. Ini nggak ada sama sekali, tuh.”
Dilanjut: “Ini bagian psiko-politis. Ada mabes di dalam mabes. Itu yang punya aliansi sendiri-sendiri. Kok, DPR diam?”
Luar biasa sengit, Mahfud ‘ngeledek’ anggota DPR. Ledekannya jitu, pula.
Memang, biasanya ada perkara kecil saja, DPR dengan galaknya memanggil menteri, Kapolri, atau siapa pun. Dipanggil DPR, untuk dimintai keterangan. Lalu, yang dipanggil ‘dihujani’ aneka pertanyaan di RDP (Rapat Dengar Pendapat). Yang menunjukkan, wakil rakyat itu bekerja.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi