Panjang Umur Batubara

waktu baca 5 menit
ILUSTRASI: Manfaat batu bara untuk kehidupan sehari-hari (Foto: Dziobek/shutterstock)

KEMPALAN: DALAM sebuah acara di Jakarta bulan Juni lalu, Presiden Jokowi mengatakan bahwa ada 5 (lima) kepala pemerintahan yang berminat agar Indonesia secepatnya memasok batubara ke negara mereka. Permintaan batubara dalam format politik oleh beberapa kepala pemerintahan ini sebetulnya agak ganjil mengingat batubara adalah komoditas yang diperdagangkan secara bebas dan cukup transparan, baik terkait sumber asal maupun harganya. Fluktuasi harga batubara yang kini terjadi pun merupakan bagian dari mekanisme pasar yang berlaku.

Permintaan ekspor batubara ternyata tidak hanya diarahkan dari Indonesia. Rusia juga berencana meningkatkan ekspor batubara ke pasar global dari 18 persen menjadi 25 persen pada tahun 2050. Mengingat jalur transportasi kapal Rusia kini agak terganggu akibat perang Rusia-Ukraina yang belum jelas kapan berakhirnya, Rusia kini sedang merencanakan rute-rute alternatif bagi distribusi batubaranya ke negara-negara pembeli.

Di sisi lain, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan terjadinya kenaikan permintaan batubara sebesar 10 persen pada tahun ini, khususnya peningkatan permintaan dari India dan Cina. Di samping itu, Jerman, Prancis, Austria dan beberapa negara lainnya mulai mengaktifkan kembali pembangkit listrik  yang menggunakan batubara. Hal ini juga menjadi pemicu utama naiknya harga batubara di seluruh dunia saat ini.

Permintaan pasokan batubara dari Indonesia, salah satunya, adalah dari Jerman. Pada awal bulan Mei tahun ini, Menteri ESDM Arifin Tasrif sudah membicarakan terms and conditions ekspor batubara Indonesia ke Jerman dengan ketua Asosiasi Perusahaan Batubara Jerman (VDKI). Permintaan dari Jerman ini menjadi paradoks mengingat Jerman adalah salah satu negara yang mengkampanyekan penghentian penggunaan batubara untuk beralih ke energi bersih (clean energy).

Komitmen ini bahkan masih ditunjukkan di bulan yang sama (Mei 2022) pada pertemuan antara utusan khusus Pemerintah Jerman untuk Special Envoy for International Climatte Action at the Federal Foreign Office, Jennifer Lee Morgan dengan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, Mahendra Siregar guna kerjasama transisi energi dan membahas isu perubahan iklim. Pertemuan tersebut bertujuan untuk mengakselerasi transisi energi dengan mengurangi penggunaan energi yang berasal dari batubara. Jerman sendiri berencana menghentikan penggunaan energi dari batubara pada tahun 2030.

Bagi Indonesia, permintaan ekspor batubara, yang selama ini dianggap biang keladi perubahan iklim dunia, sungguh sangat menyakitkan. Eropa butuh batubara Indonesia, namun di sisi lain Eropa menolak ekspor biodiesel dari Indonesia – yang merupakan tumpuan kehidupan ekonomi bagi jutaan petani – lantaran dianggap “tidak bersih lingkungan”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *