Menu

Mode Gelap

Kempalanda · 15 Mei 2022 07:43 WIB ·

Demo Mahasiswa dan Reproklamasi Republik


					ILUSTRASI: Demo mahasiswa (Foto: goodnewsfromindonesia.id)) Perbesar

ILUSTRASI: Demo mahasiswa (Foto: goodnewsfromindonesia.id))

KEMPALAN: Deformasi kehidupan berbangsa dan bernegara selama lima tahun lebih terakhir terjadi semakin membahayakan Republik melalui pembuatan undang2 dan tafsirnya yang semakin diabdikan bagi kepentingan oligarki, bukan publik. Oligarki semakin brutal merampas masa depan publik berusia produktif, terutama mahasiswa, sebagai komponen yang seharusnya paling tercerahkan itu. Oligarki hampir berhasil menumbangkan Republik menjadi semacam Romawi di tangan Nero.

Pada saat sindrom profesionalisasi melanda kampus2, demonstrasi dinilai sebagai tindakan yang close minded, dan tidak profesional, nyaris proses negara ini perlahan runtuh sebagai failed state luput dari perhatian mahasiswa. Template lulus tepat waktu, cum laude, lalu bekerja pada BUMN atau MNC dengan gaji besar dan tunjangan yang menggiurkan, sambil asyik masyuk di dunia maya benar-benar telah mengerdilkan mereka menjadi robot 2-dimensi dengan imajinasi dan visi yang menyedihkan serta dengan mudah remotely controlled. Sebagian lagi bermimpi menjadi Youtuber wannabes semacam DC.

Sambil khusyu’ dalam pemberhalaan Science, Technology, Engineering and Maths, mahasiswa dan kampusnya makin mati rasa. Rasa dianggap fitur kompetensi yang buruk karena tidak rasional, sumber kecengengan, dan tidak profesional. Banyak yang tidak memahami bahwa pemujaan STEM, penelantaran liberal arts seperti seni dan sejarah adalah strategi kekuatan nekolim dan oligarki untuk menjongoskan bangsa ini. Bangsa ini perlahan tapi pasti menjadi buruh yang cukup trampil untuk menjalankan mesin2, sekaligus cukup dungu untuk setia bekerja bagi kepentingan oligarki.

BACA JUGA: Oligarki Merampas Masa Depan Mahasiswa

Adalah rasa yang menggerakkan dan mengubah, bukan pikiran rasional. Adalah rasa merdeka sebagai pengalaman jiwa yang paling penting. Narasi Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka adalah narasi bak gonggongan srigala sementara kafilah penjongosan tetap berlalu. Rancangan dasar sistem pendidikan nasional yang didominasi oleh persekolahan massal tidak berubah sejak Orde Baru membuka kran investasi asing untuk program pembangunan ala Wijoyo Nitisastro dkk hingga hari ini. Persekolahan dan perkampusan kita masih tetap menjadi instrumen teknokratik untuk menyiapkan negeri ini sebagai bangsa buruh bagi kepentingan Dunia Pertama. Seharusnya, sistem pendidikan kita menjadi strategi budaya untuk mengenali dan mengembangan rasa, karsa dan cipta bagi bangsa ini untuk belajar merdeka.

Di tengah kemerosotan demokrasi, desentralisasi dan pemberantasan korupsi, kita menghadapi sebuah prospek negara gagal karena mekanisme self-correction nya lumpuh dibajak oleh oligarki. Hukum besi sejarah membuktikan, bahwa oligarki akan perlahan menjadi anarki. Oleh karena itu penting bagi gerakan mahasiswa untuk mencegah agar jangan sampai deformasi permanen kehidupan berbangsa dan bernegara oleh full-fledged oligarch terlanjur terjadi.

Waktunya telah tiba untuk menunjukkan sikap. Periksa hati nurani. Dengan jaminan konstitusi, ekspresikan perasaan di manapun berada dengan bergerak mereproklamasikan kembali kemerdekaan negeri yang sudah dikangkangi para oligarki ini. Baiklah diingat bahwa jika Bung Karno dan Bung Hatta hanya kuliah melulu, keduanya tidak mungkin menjadi proklamator dan Republik ini tidak pernah ada. (*)

Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Oligarki Digital dan Zombie Metaverse

18 Mei 2022 - 06:44 WIB

Untung Ada Vina Panduwinata & Reza Artamevia Menemani Keliling Melbourne

17 Mei 2022 - 20:06 WIB

Kunci Ketenangan

17 Mei 2022 - 07:50 WIB

Oligarki Merampas Masa Depan Mahasiswa

14 Mei 2022 - 09:38 WIB

Melbourne Kota Ternyaman Dunia namun Kejam bagi Perokok

12 Mei 2022 - 10:46 WIB

Dari Peringatan Seabad Rosihan Anwar: Wartawan Sekaligus Pelaku Sejarah

11 Mei 2022 - 13:00 WIB

Trending di Kempalanda