Menu

Mode Gelap

kempalanggun · 20 Apr 2022 22:14 WIB ·

Surat Untuk Presiden Jokowi dari Kiai NU Sumenep


					Presiden Jokowi saat meresmikan Bindara Trunojoyo Sumenep, Rabu 20 April 2022. Perbesar

Presiden Jokowi saat meresmikan Bindara Trunojoyo Sumenep, Rabu 20 April 2022.

SUMENEP-KEMPALAN-Kedatangan Presiden Jokowi ke Sumenep Rabu 20 April 2022 disambut berbagai respon.

Ada yang merespon dengan aksi demonstrasi yang dilakukan sejumlah mahasiswa yang tergabung BEMSU (Badan Eksekutif Mahasiswa Sumenep).

Juga ada yang merespon dengan surat terbuka yang disampaikan Wakil Ketua PCNU Sumenep, K Dardiri Zubairi.

Surat terbuka untuk Presiden Jokowi itu ditulis dalam postingan beranda Facebooknya.

Tak sedikit netizen merespon postingan Kiai Dardiri hingga jadi viral.

Redaksi kempalan minta ijin ke Kiai Dardiri untuk ikut mempostingnya.

Berikut surat terbuka itu:

Sekapur Sirih Untuk Presiden

Assalamualaikum

Yang Terhormat Pak Presiden

Selamat datang di Sumenep, kabupaten ujung timur Madura.

Sebagai warga negara ijinkan saya melapor pak presiden, meski melalui laman FB yang mungkin pak presiden tak membacanya. Tapi bagi kami menulis surat tertuju kepada Pak Presiden, dalam imaginasi kami, seperti berdialog langsung. Bolehlah dibilang, surat terbuka ini cuma mau menenangkan imaginasi kami.

Tapi gak apa apa, hitung-hitung surat ini sebagai pengimbang dari peresmian Bandara Trunojoyo yang akan dilakukan bapak sendiri, yang mungkin oleh petinggi di Kabupaten ini dianggap sebagai penanda majunya peradaban.

Nah, yang ingin kami sampaikan beda pak presiden, soal sisi “kelam” kabupaten ini.

Pak Presiden

Inilah kabupaten yang nyaris pasisirnya habis selama lebih kurang 6 tahun. Dengan bangga campur ngeri harus saya katakan, bener kabupaten kami memiliki 138 pulau, tapi keluarga nelayan kecil sudah tak leluasa memanfaatkan sumber kehidupan pesisir. Pesisir sudah nyaris sempurna dialihfungsikan.

Pak presiden, di kabupaten kami sudah ada 5 perusahaan migas, 4 Offshore dan 1 Onshore. Yang offshore, karena berada di lepas pantai, pasti memberi dampak bagi eksositem laut. Inilah yang dikeluhkan anak nelayan, dimana tangkapan ikan makin berkurang.

Yang onshore lokasinya berada di selatan kota. Ini satu-satunya perusahaan migas onshore. Yang ingin saya sampaikan sebenarnya satu, stop industri ekstraktif (industri keruk) di kabupaten kami. Baik yang Onshore maupun Offshore tak perlu ditambah lagi. Cukup sudah. Toh kehadiran perusahaan migas tak ada korelasinya dengan kehidupan riil kami. Kecuali daya rusaknya bagi lingkungan seperti yang dirasakan dan dialami oleh penduduk sekitar perusahaan migas, terutama para nelayan yang tak lagi mudah memperoleh ikan.

Bukankah tak ada guna pembangunan apapaun, jika masyarakat kecil tak bisa lagi memanfaatkan sumber-sumber ekonomi pesisir, dan secara bersamaan di laut ekosistemnya rusak akibat industi ekstraktif?

Baik saya perlu menyandingkan data lak presiden. Tahun 2021 ada 25 desa di kabupaten Sumenep yang masuk penanganan prioritas kemiskinan ekstrem yang melibatkan 1929 (KK atau orang?). Itulah mengapa saya mengatakan, pembangunan yang sudah dan sedang berlangsung di kabupaten ini tidak nyambung dengan kondisi riil masyarakatnya.

Pak presiden, saat ini kabupaten kami ramai dengan isu bakal masuknya industri ekstraktif lagi, yaitu penambangan fosfat. Sebenarnya bukan isu, tapi nyata. Saat ini bahkan segenap kebijakan sedang dirancang (termasuk revisi perda RTRW) untuk menyambut investasi di industri ekstraktif ini.

Kami harus menceritakan bahwa posisi para pemangku pesantren sudah tegas soal industri ekstraktif ini, MENOLAK. Fosfat berada di kawasan batu karst. Penambangan batu kasrt sebagai tandon air akan mengakibatkan ancaman krisis air. Pada hal, saat ini saja sudah ada 28 Desa setiap tahunnya yang mengalami krisis air. Pada hal industri ekstraktif belum dilakukan.

Alasan lain, di kawasan batu karst banyak terdapat situs penting, di samping sumber-sumber Air juga terdapat maqbarah para wali (buju’ dalam bahasa Madura). Bahkan di setiap desa ada buju’. Jika konsesi penambangan fosfat di 18 kecamatan disahkan, berapa ratus atau bahkan ribu sumber air dan buju’ yang akan habis?

Sebenarnya banyak yang ingin kami sampaikan. Tapi sudahlah, cukup ini saja Pak Presiden, kami ingin hidup nyaman di pulau kami meski mungkin dari sisi fasilitas infrastruktur fisik tak mentereng kayak kabupaten lain. Soal cari duit banyak itu utusan kami, karena kami bisa berangkat ke Jakarta meski bekerja di sektor informal tapi kami mandiri.

Jadi jika ada pejabat bilang bahwa industi yang akan dibangun di kabupaten kami untuk membuka lapangan kerja itu tak seluruhnya benar. Lapangan kerja buat siapa? Toh tanpa disediakan lapangan kerja kami bisa mencipta sendiri, meski kami harus merantau tapi kami mandiri.

Apalagi industri itu akan merusak lingkungan, wah mending jangan deh pak. Buat apa ada lapangan pekerjaan, duit banyak, tapi kualitas lingkungan yang kita diami buruk misalnya rawan banjir, rawan rob, panas, bau, krisis air, gak bahagia juga bukan?

Pak presiden, terimakasih kunjungannya. Di rundown acara yang tersebar di banyak WAG Pak Presiden akan meresmikan bandara dan bagi-bagi minyak goreng di dua pasar tradisional. Seandainya pak presiden jalan-jalan ke pesisir berdialog dengan buruh garam, nelayan kecil, pasti akan tahu bahwa pembangunan di kabupaten ini tidak sedang baik-baik saja.

Tapi saya tahu Pak Presiden sibuk. Di tengah kesibukan yang super padat, berkunjung ke Sumenep saja kami sudah menyampaikan terimakasih. Apalagi Pak Presiden juga disibukkan oleh wacana 3 periode, sesuatu yang bapak “tidak sukai”, tapi justru diwacanakan oleh orang-orang kesayangan pak Presiden.

Terimakasih

Wassalamu’alaikum

Artikel ini telah dibaca 687 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Pemkot Surabaya Kembali Gelar CFD Pagi Hari

21 Mei 2022 - 02:45 WIB

Tepis Isu Negatif, Relawan Anies P-24 Sumut Gencarkan Kunjungan ke Gereja

21 Mei 2022 - 02:26 WIB

Harkitnas, Ketua DPRD Surabaya: Pandemi Terkendali, Ekonomi Bangkit Kembali

20 Mei 2022 - 17:29 WIB

Senam SICITA, Kader-Kader PDIP Surabaya Pupuk Soliditas, Perkuat Basis di Masyarakat

20 Mei 2022 - 12:29 WIB

Pengentasan Kemiskinan, Ganjar Serahkan Bantuan RTLH dan Kursi Roda Bagi Seorang Nenek di Sukoharjo

19 Mei 2022 - 19:55 WIB

Hari Kebangkitan Nasional, PDIP Surabaya Gelar Senam SICITA di 32 Titik Lokasi dan 3.300 Peserta

19 Mei 2022 - 19:29 WIB

Trending di kempalanggun