Minggu, 24 Mei 2026, pukul : 10:31 WIB
Surabaya
--°C

Senyum Tenang

@bagus aryo sutikno

Beruntunglah NKRI tak sepenuhnya kapitalis tapi juga tak sepenuhnya sosialis. Food & Energy dikuasai Negara melalui Bulog dan Pertamina/PLN. Tak seperti Amrik yang sektor Food & Energi dikuasai Swasta/Private Company karena menganut kapitalis ekstrem. Minyak goreng dan batubara adalah sektor Food dan Energy yang dikuasai Swasta di NKRI. Mungkin negara perlu mem-BUMN-kan perkebunan sawit dan pertambangan batubara agar Food dan Energy terkendali sehingga dua sektor penyumbang inflasi sebuah negara ini tetap aman terkendali. Tapi BUMN itu penuh resiko korupsi di satu sisi, bisa jadi “pesta pora” partai politik yang berkuasa. Privatisasi food & energy mengurangi resiko korupsi seperti di USA tapi ujung-ujungnya negara USA dikuasai kaum pengusaha/ oligarki/ konglomerat Food & Energy. Tak mudah memang untuk mengatur sebuah negara. Pilihan privatisasi BUMN seperti hobi Partai Konservatif / Kapitalis di Inggris, sebagai contoh, adalah narasi yang dilawan Partai Buruh/Sosialis di Inggris dengan mem-BUMN-kan / Menasionalisasi Big Company. NKRI, hemat saya, harus menerapkan paham Sosialis di sektor yang menguasai hajat hidup orang banyak seperti Food & Energy sebagaimana diamanatkan pasal 33 UUD 1945. Tapi nasionalisasi sawit dan batubara bakal ditentang hebat karena “Anda Sudah Tahu” dua hal ini adalah sumber utama para oligarki baik di pihak yang mendukung pemerintah maupun yang oposisi

BACA JUGA  Akhir BRI Liga 1: Persib Bertahta, Borneo FC Kesatria Tanpa Mahkota

Keturunan Rama di India tak mau membantu keturunan Rahwana di Srilangka/Alengka konon karena bangsa Srilangka bermesraan dengan bangsa berkulit kuning. Demikian pula keturunan Pandawa di sebelah Timur Sungai Punjabi dan/atau Indus, tak mau membantu yang konon adalah keturunan Kurawa di sebelah Barat Sungai Punjab. Punjab adalah bahasa Hindi / Urdu masa kini untuk Panca Jabi atau Lima Sungai. Pan-jab. Versi English Pun-Jab karena Pun dibaca Pan. Lima Sungai ini terkoneksi dengan Sungai Indus. Orang Persia menyebut Hindu yang artinya Sungai untuk Indus. Sedangkan orang Yunani menyebutnya Indos. Indus/Indos adalah asal kata dari “negeri” India, “agama” Hindu, “bahasa” Hindi. Sungai Indus, lokasi kisah Mahabharata, bermuara di Laut Arab sedangkan Sungai Gangga, lokasi kisah Ramayana, bermuara di Teluk Benggala, Bangladesh masa kini. Baik Sungai Indus dan Sungai Gangga memiliki sumber utama yang sama dengan Sungai Kuning (Huanghe) dan Sungai Panjang (Changjiang atau Yangtze) yaitu gletser/ salju yang mencair di Tibet. Bangsa kulit kuning sebagai pemilik provinsi Tibet masa kini mengikuti teladan keturunan Rama Pandawa, menyerahkan nasib keturunan Rahwana Kurawa ke tangan rentenir Amerika yang disebut IMF.

BACA JUGA  Denny Caknan Menggoyang Direktur RS se-Jatim dalam “Gala Dinner with CEO Forum” Persi Wilayah Jatim

bagus aryo sutikno

Batubara panen raya, palm oil juga plus SDA. Semua gembira. Sadari nggak sich Lu kalau ketahanan energi dan pangan kita itu lemah.. Tak satu pena pun berani menulis. Itu sebabnya kepercayaan pada wartawan, rendah.

bagus aryo sutikno

Ada mahar yg harus dibayar Ada perih yg harus ditagih . . . 3 periode itu pedih, Jendral

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.