Rabu, 17 Juni 2026, pukul : 16:48 WIB
Surabaya
--°C

Psikologi UBAYA Luluskan Doktor Pertama, Bahas Isu Pandemi: Konflik Kerja Keluarga

SURABAYA –KEMPALAN: Pagi tadi (21/01/22) Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (FP Ubaya)  selenggarakan Ujian Terbuka Doktor luluskan doktor pertama dari Program Studi Fakultas Psikologi. Dengan judul “Model Konflik Kerja-Keluarga pada Medical Representative dengan Iklim Kerja-Keluarga, Kebermaknaan Kerja, dan Modal Psikologis sebagai Anteseden”, Dr. Rusmalia Dewi, S.Psi., M.Si., Psikolog., Dosen Fakultas Psikologi Universitas Semarang, sukses menjadi lulusan pertama dengan predikat “Cum Laude”.

Konflik kerja-keluarga sendiri membahas mengenai tantangan peran seseorang yang bekerja dan berkeluarga, dimana terdapat peran di tempat kerja dan di keluarga. Hal ini semakin hangat dibahas saat pandemi, pasalnya work from home dan study from home membuat dua peran ini semakin melebur. Rusmalia diteguhkan di penghujung acara Ujian Terbuka Doktor yang dilaksanakan secara hybrid pada Jumat, 21 Januari 2022 pukul 09:00-11:00 melalui zoom dan Perpustakaan lantai 5 Kampus II Ubaya Tenggilis jalan Raya Kalirungkut Surabaya.

Pagi tadi (21/01/22) Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (FP Ubaya)  selenggarakan Ujian Terbuka Doktor luluskan doktor pertama dari Program Studi Fakultas Psikologi. Dengan judul “Model Konflik Kerja-Keluarga pada Medical Representative dengan Iklim Kerja-Keluarga, Kebermaknaan Kerja, dan Modal Psikologis sebagai Anteseden”, Dr. Rusmalia Dewi, S.Psi., M.Si., Psikolog., Dosen Fakultas Psikologi Universitas Semarang, sukses menjadi lulusan pertama dengan predikat “Cum Laude”.

Prodi Doktor Psikologi FP Ubaya dibuka dengan berdasar Keputusan Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia (Menristekdikti) RI No. 22/KPT/I/2018 tanggal 10 Januari 2018 tentang Izin Pembukaan Program Studi Psikologi Program Doktor pada Universitas Surabaya. Prodi yang berusia 4 tahun ini diketuai oleh Prof. Dr. Yusti Probowati R., Guru Besar Psikologi Forensik, Fakultas Psikologi Ubaya sekaligus Dewan Pakar dan Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor) Indonesia. Prodi ini juga diasuh oleh 21 Doktor Psikologi dan 3 Profesor bidang Psikologi, dan disupport oleh seluruh Doktor dan Profesor di UBAYA dengan bidang terkait topik penelitian.

“Ini ujian terbuka yang pertama kali,” ucap Prof Yusti. Beliau mengapresiasi Dr. Rusmalia, pasalnya ia adalah angkatan pertama dan memasuki semester ketujuh. “Rusmalia pun telah mempresentasikan disertasi pada seminar nasional, internasional, serta publikasi pada jurnal internasional bereputasi,” terang Yusti. Acara sidang terbuka ini diawali dengan penjelasan dari Dr. Rusmalia terkait disertasi, disusul dengan pertanyaan oleh Promotor, ko-Promotor, dan penguji.

BACA JUGA  Mundur Selangkah, Maju Seribu Langkah

Rusmalia pun menjelaskan fenomena konflik kerja keluarga yang hangat di masa pandemi. “Data pasangan bekerja dari tahun 2010 pasangan yang sama-sama bekerja selain meningkat. Ini penting untuk diamati, terlebih lagi bila satu domain bermasalah maka akan memengaruhi domain lainnya,” terang Rusmalia. Ia pun menuturkan bahwa hal ini penting untuk diamati karena pandemi meleburkan peran kerja dan keluarga, khususnya karena ombak work from home ataupun study from home yang marak diterapkan karena menjadi satu solusi mencegah penyebaran penyakit Covid-19.

“Semakin meningkatknya pasangan bekerja ini semakin meningkat pula kompleksitas baik di pekerjaan ataupun keluarga. Sehingga dapat pula meningkatkan konflik kerja pada mereka. Pasangan bekerja tingkat konflik kerja lebih besar daripada pasangan yang bekerja,” terang Rusmalia. Karena itu hal ini penting untuk dibahas untuk menambah kesejahteraan keluarga di masa pandemi, khususnya supaya pasangan muda bekerja yang menikah di masa pandemi tidak terancam perceraian karena konflik yang berkepanjangan. Faktor-faktor yang mempengaruhi konflik pun beragam, mulai dari faktor individu, keluarga, dan pekerja. Dari faktor individu ada status pernikahan, jumlah anak, status pekerjaan, gaji, kepribadian, gender, tingkat pendidikan, modal psikologis. Faktor kerja meliputi karakteristik kerja, stress kerja, program ramah keluarga, sistem kerja dengan komitmen tinggi, iklim kerja, kebermaknaan kerja. Sementara faktor keluarga meliputi tanggung jawab pengasuhan anak, dukungan sosial keluarga, dan iklim kerja keluarga.

Melalui penelitian ini Rusmalia pun menemukan bahwa individu yang mampu berbagi kepedulian dengan lingkungan kerja dan keluarganya, memiliki pemaknaan terhadap pekerjaan, dan modal psikologis tinggi dapat menurunkan konflik kerja-keluarga. “Sehingga perusahaan perlu juga membuat kebijakan atau aturan kerja yang lebih manusiawi untuk mengurangi beban kerja,” terang Rusmalia.

BACA JUGA  Catatkan 71 Pukulan, Aji Pradana Menangi Series 3 Metro Golf League 2026
Pagi tadi (21/01/22) Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (FP Ubaya)  selenggarakan Ujian Terbuka Doktor luluskan doktor pertama dari Program Studi Fakultas Psikologi. Dengan judul “Model Konflik Kerja-Keluarga pada Medical Representative dengan Iklim Kerja-Keluarga, Kebermaknaan Kerja, dan Modal Psikologis sebagai Anteseden”, Dr. Rusmalia Dewi, S.Psi., M.Si., Psikolog., Dosen Fakultas Psikologi Universitas Semarang, sukses menjadi lulusan pertama dengan predikat “Cum Laude”.

Dr. Rini Sugiarti, S.Psi., M.Si., Psikolog., sebagai salah satu penguji pun menanyakan, “Apa saran praktis yang bisa saudara sarankan sebagai seorang medrep sehingga dalam keseharian bisa seimbang?” Rusmalia pun menjawab bahwa iklim saling mendukung perlu ditumbuhkan. “Sederhananya, ketika ada permasalahan dalam keluarga, maka keluarga mampu mendengarkan permasalahan. Dengan menjaga komunikasi, menjaga kerjasama baik dengan pasangan ataupun keluarga inti diharapkan semua konflik yang terjadi di keluarga pun dapat turun,” jelas Rusmalia.

Prof. Ir. Joniarto Parung, MMBAT, PhD., IPU, Guru Besar Fakultas Teknik Ubaya sekaligus adalah promotor Rusmalia pun bertanya, kenapa topik ini harus diangkat—khususnya pada pekerjaan medical representative. “Karena beban kerja dan target yang cukup besar, dan target setiap tahun yang meningkat, juga waktu dan kerja yang banyak. Supaya ada masukan terhadap sistem dan pada individu untuk memberi masukan kerja keluarga,” ungkap Rusmalia.

Pada kesempatan yang sama, Dr. Ir. Benny Lianto MMBAT., Rektor Universitas Surabaya pun menuturkan rasa terima kasihnya. “Ini hadiah untuk Universitas Surabaya dan Universitas Semarang,” jelasnya. Ia pun menyampaikan apresiasi dan rasa bangga kepada seluruh pengelola prodi doktor Psikologi dan seluruh jajaran pimpinan fakultas. Benny pun menuturkan bahwa apa yang dihasilkan oleh Prodi Doktor Psikologi Ubaya merupakan langkah awal. “Menghasilkan doktor yang berkualifikasi tinggi untuk berkiprah pada bidangnya untuk memberi kontribusi pada masyarakat,” imbuhnya. (*)

Editor: Freddy Mutiara

 

 

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.