Kamis, 12 Februari 2026, pukul : 10:52 WIB
Surabaya
--°C

Menanam Biji-biji Kebaikan

Hamid Abud Attamimi

Aktivis Dakwah dan Pendidikan, tinggal di Cirebon

KEMPALAN: Berbuat baik atau melakukan kebaikan itu tak boleh dibatasi oleh waktu, bahkan tak diukur oleh kondisi subjektif seseorang, misalnya anak atau dewasa, kaya atau miskin, bahkan ketika sakit sekalipun. Bukankah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam menganjurkan si yang sakit pun untuk mendoakan mereka yang menjenguknya.

Karena melakukan hal-hal baik adalah bisikan nurani atau fitrah setiap orang, tentu jika secara rohani memang sehat, artinya bisa membedakan mana baik dan buruk. Maka pada anak-anak harus diberikan teladan, terutama oleh orang tua dan saudaranya yang lebih tua, yaitu membiasakan dan mencintai hal-hal yang baik dan suka membagikannya pada sesama.

Bahkan perlakuan buruk secara psikis yang dilakukan orang terhadap kita, misalnya mencaci, menghina, melecehkan, amatlah indah jika kita tak membalasnya dengan perlakuan serupa. Karena bukankah dengan demikian orang tersebut sedang menampilkan karakter asli dan sesungguhnya dari pribadinya, lalu mengapa kita mesti meniru membalas dengan perlakuan yang sama?

Sebagai Muslim, kita adalah pribadi yang merdeka, penghambaan kita semata terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan teladan kita adalah Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Dalam berhubungan dengan sesama Muslim dan non Muslim, kita wajib saling menghormati, tetapi menghormati berbeda dengan mencampuradukkan prinsip dan keyakinan.

Dalam pergaulan dengan sesama, baik disekitar rumah, tempat kerja maupun ketika aktivitas sosial, sangat mungkin kita bersinggungan dengan aneka macam karakter dan kepribadian. Kita bisa memilih untuk tak bergaul rapat atau menjadikan sahabat pada orang yang bertipikal buruk, tetapi tetap saja tak mungkin bisa mencegah mereka untuk tak memberi komentar atas apa yang kita lakukan, baik langsung atau pun tidak langsung. Maka, tidak memberikan reaksi adalah hal terbaik, apalagi jika kita tau persis tentang kapasitas dan kualitas orang tersebut. Atau, jika pun terpaksa harus menjawab, cukup katakan:”Terima kasih atas masukannya.”

Kebaikan atau Amal Shaleh adalah komitmen moral, karenanya jangan digantungkan pada orang, tetapi hanya pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dia yang menciptakan peluang dan Dia yang menganugerahkan hidayah, maka sungguh indah analog yang diungkapkan Rasulullah:

إن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

Artinya: “Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari dan Ahmad).

Tunas adalah kebaikan…

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.