
Oleh: Dr. Imam Syafii, M.Kes (Unesa/Indonesia Soccer Academy)
KEMPALAN: Kesabaran dan ketelatenan menjadi syarat yang tidak tertulis bagi seorang coach teacher. Pada usia dini, anak masih sangat labil konsentrasinya, sehingga belum bisa sepenuhnya fokus ketika terlibat dalam proses pembelajaran. Belum lagi perbedaan karakteristik di antara mereka, yang menuntut kemampuan lebih para coach teacher untuk memberi perhatian terhadap perilaku setiap anak.
Coach teacher harus bisa menjadi role model atau panutan dalam berperilaku di dalam dan di luar lapangan. Anak-usia dini sangat suka mencontoh tetapi belum bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk.
Oleh karena itu, perilaku dan pilihan kata dihadapan anak bagi pelatih harus benar-benar mendidik. Jika pelatih sudah menjadi idola, maka apa yang menjadi kebiasaan pelatih akan mudah ditiru oleh asuhannya. Sering dijumpai di lapangan, penggunaan kata dan perilaku yang kurang tepat. Perkataan yang semestinya tidak pantas diucapkan tanpa disadari tersampaikan kepada anak-anak dan tidak sedikit para coach teacher sering merokok seenaknya di hadapan anak didiknya.
Lalu apa tugas coach teacher secara khusus yang harus dilakukan saat melatih di lapangan?
Uraian berikut ini adalah bebepa hal penting yang penulis rangkum dari buku Grassroots FIFA untuk dipatuhi oleh para coach teacher.
Bertanggung jawab atas keselamatan dan pertolongan pertama pada anak-anak.
Penulis teringat ketika mengikuti pelatihan membangun keterampilan olahraga, yang saat itu instrukturnya dari Jepang. Sebelum praktik dimulai, sang instruktur mengecek semua fasilitas dan perlengkapan latihan. Tujuannya memastikan seluruh peralatan yang digunakan tidak berpotensi membahayakan penggunanya.
Persoalan ini harus menjadi perhatian utama, dan coach teacher juga harus belajar bagaimana memberi pertolongan pertama ketika terjadi kecelakaan yang menyebabkan cedera di lapangan.
Menggunakan pendekatan pengajaran dan pelatihan sesuai dengan tumbuh kembang anak. Perlakukan anak sebagai anak, bukan sebagai orang dewasa. Berikan model latihan yang sesuai dengan kebutuhan mereka dan merangsang mereka agar berminat datang kembali pada pertemuan berikutnya. Jangan hanya karena alasan persiapan untuk mengikuti turnamen, anak-anak latihannya diperlakukan seperti pemain senior.
Fokus membangkitkan semangat bermain dan membangun semangat tim. Jangat terlalu risau dengan kesalahan anak-anak, mereka belum bisa memenuhi sepenuhnya apa yang diinginkan pelatih.
Model latihan yang memperagakan persaingan antar teman, baik secara individu ataupun tim perlu sering diberikan. Tujuannya agar mereka terpacu untuk cepat menguasai dan berupaya untuk lebih baik dari yang lainnya. Ini merupakan hakikat membangun semangat tim dan kompetisi yang nanti akan dibawa terus oleh mereka pada tahap selanjutnya.
Menggunakan instruksi sesuai dengan tingkat usia anak. Penggunakan kosa kata yang mudah dipahami oleh anak menjadi bagian penting tersampainya pesan coach teacher. Gunakan kata-kata yang sudah lazim di kalangan anak-anak sehingga mereka tidak sulit menterjemahkan instruksi yang diberikan oleh pelatih. Intruksi yang tepat sasaranya akan menghasilkan produk pembelajaran yang baik pul kepada anak-anak.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi