KEMPALAN: Sarah Gilbert bukan atlet tenis juara Wimbledon, tapi kehadirannya di stadion tenis Center Court Wimbledon, Minggu (18/7) mengundang tepuk tangan meriah dari seisi stadion. Ribuan orang bertepuk tangan ketika namanya diumumkan oleh announcer. Ribuan orang seisi stadion kemudian berdiri sambil bertepuk tangan memberikan standing ovation.
Gilbert adalah profesor ahli vaksin dari Universitas Oxford, Inggris. Dia adalah penemu vaksin anti-Covid 19 Astra Zenica yang merupakan hasil kerja bareng pemerintah Inggris dengan Universitas Oxford, tempat Gilbert bekerja.
Gilbert yang berusia 59 tahun tercengang ketika mendengar namanya diumumkan. Ia mendapat undangan khusus untuk menyaksikan pertandingan juara bertahan Novak Djokovic lawan Jack Draper, dan mendapat kehormatan untuk duduk di Royal Box, yang disediakan khusus untuk keluarga kerajaan dan tamu-tamu VVIP (very very important person).

Ketika orang mulai bertepuk tangan, Gilbert masih belum sepenuhnya menyadari apa yang terjadi. Ia tersipu menahan malu. Beberapa saat kemudian seisi stadion berdiri, termasuk anggota keluarga Istana yang ada di Royal Box, memberinya standing ovation. Gilbert ikut berdiri dan tersenyum melambaikan tangan, lalu duduk kembali.
Bagi masyarakat Inggris Gilbert adalah pahlawan kemanusiaan. Bagi warga seluruh dunia, Gilbert juga layak dijadikan sebagai pahlawan penyelamat kemanusiaan. Hasil kerjanya yang tidak kenal lelah menghasilkan vaksin Astra Zeneca yang sekarang sudah diedarkan ke seluruh dunia. Dari hasil kerja Gilbert, minggu ini seluruh rakyat Inggris dinyatakan bebas dari Covid 19, setelah pemerintah mengumumkannya pada Freedom Day, Hari Pembebasan, Senin (19/7).
Sarah Gilbert menjadi pahlawan kemanusiaan, karena dia tidak mau menerima bayaran dari hak cipta dan hak paten vaksin ciptaannya. Gilbert menggratiskan karya ciptanya dan membebaskan Astra Zenica untuk memproduksinya tanpa membayar royalti.
Itulah sebabnya mengapa vaksin Astra Zenica sekarang menjadi vaksin paling murah di dunia. Tingkat efikasi dan keamanan Astra Zenica bisa bersaing dengan semua vaksin yang ada, tetapi harga Astra Zenica paling murah di antara semua vaksin yang sekarang beredar.
Harga jual Astra Zenica dalam kurs rupiah sekitar Rp 58 ribu perdosis. Johnson & Johnson dan Sputnik V buatan Rusia dan Amerika Serikat dijual Rp 141 ribu. Sinovac buatan China yang sekarang banyak dipakai di Indonesia dijual dengan harga Rp 200 ribu. Novavax dijual Rp 226 ribu per dosis. Pfizer-BioNTech buatan Amerika-Jerman dijual Rp 283 ribu per dosis. Dan yang paling mahal adalah Moderna buatan Amerika yang dibanderol Rp 526 ribu per dosis, hampir sepuluh kali lipat harga Astra Zenica.
Dari daftar harga itu sudah bisa dibayangkan betapa mahalnya hak paten. Komponen biaya hak paten bisa jauh lebih mahal dibanding biaya produksi. Karena itu ketika Gilbert tidak mengutip biaya paten, maka harga jual Astra Zenica bisa sepuluh kali lipat lebih murah dari vaksin buatan Amerika.
Bisa dibayangkan betapa super crazy rich para pemegang hak paten itu. Setelah mematenkan temuannya mereka akan menikmati royalti seumur hidup. Diproduksi di mana pun di ujung dunia, royalti harus dibayar kepadanya. Itulah yang terjadi pada para inventor seperti Thomas Alfa Edison penemu listrik, maupun inventor modern seperti Bill Gates, yang kekayaannya mencapai USD 125 miliar atau Rp 1.700 triliun.
Orang-orang seperti Gates menjadi terkaya di dunia karena dia mempertahankan hak paten produk-produknya di Microsoft. Kalau Anda memakai produk bajakan Microsoft, maka Anda adalah kriminal yang pasti ditangkap polisi setiap kali ada operasi. Karena itu kemudian muncul produk perlawanan, seperti Open Source sebagai operating system gratis, untuk membongkar monopoli produk kapitalis liberal seperti punya Bill Gates itu.
Dalam kondisi pagebluk global seperti sekarang–ketika semua manusia di seluruh dunia yang jumlahnya 7 miliar orang–dipaksa untuk melakukan vaksinasi dua kali suntikan, berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk membeli vaksin sebanyak 14 miliar dosis. Siap yang menyedot keuntungan raksasa di tengah penderitaan dunia?
Sebagian besar uang itu lari ke Amerika. Sebagian lainnya lari ke China. Tapi, Amerika tetap akan menjadi pemenang yang paling besar dari pagebluk global ini. Selama ini, dengan berlindung di balik globalisasi dengan mantra perdagangan bebas, Amerika mengeruk 90 persen keuntungan dari hak paten dan 95 persen seluruh biasa lisensi dunia.
Kapitalisme Amerika membanggakan ‘’American Dream’’, Mimpi Amerika. Anda bisa menjadi apa saja. Anda bisa menjadi sekaya apa saja. Tidak ada yang akan mengusik Anda. Jalan apa yang Anda pakai untuk mengeruk kekayaan itu, terserah Anda. Mimpi Amerika bisa diraih oleh siapa saja, dengan cara apa saja.
Salah seorang founding father Amerika, Benjamin Franklin pun punya sejarah gelap di masa hidupnya. Ia terlibat banyak pemalsuan dan penipuan besar sepanjang perjalanan hidupnya. Toh itu tidak menghalanginya untuk menjadi pahlawan Amerika.
Ia menjadi salah satu penulis proklamasi Amerika, The Declaration of Independence, dan gambar Franklin terpampang di setiap lembar mata uang Dolar, lengkap dengan jargon ‘’In God We Trust’’. Menipu dan memalsu atas nama Tuhan sah-sah saja untuk mengejar Mimpi Amerika.
Perlindungan hak paten adalah bagian dari Mimpi Amerika itu. Karena perlindungan hak paten yang sangat ketat–sampai ke tingkat sakral–maka Amerika menjadi surga bagi para inventor. Hak cipta dilindungi sebagai hak sakral individual. Karena itu Amerika bisa membusungkan dada sebagai negara dengan jumlah inovator dan inventor terbesar di seluruh dunia.
Orang-orang seperti Bill Gates, Warren Buffet, atau George Soros bisa menjadi super crazy mega-rich karena hidup dalam sistem Amerika. Mereka bisa mengeruk dan menumpuk harta sebanyak mungkin, sampai akhirnya mereka kebingungan bagaimana cara menghabiskannya.
Karena itu, orang-orang seperti Gates, Buffet, dan Soros beralih menjadi filantropis, orang-orang dermawan, yang membagi-bagikan uang mereka untuk kegiatan amal sosial ke seluruh dunia. Rasanya sungguh ironis. Mereka menyedot uang dengan rakus dari seluruh dunia, lalu setelah kekenyangan, mereka memberikannya sebagai amal saleh kepada warga dunia yang sudah mereka sedot darahnya.
That’s the beauty of global capitalistic system, itulah cantiknya sistem kapitalis yang berlindung di balik globalisasi sekarang ini. Sistem yang licik dan culas itu dijaga oleh tiga institusi dunia WTO (Organisasi Perdagangan Dunia), IMF (Dana Moneter Internasional), dan World Bank (Bank Dunia). Ketiganya adalah institusi buatan Amerika dan Eropa, yang menjadi penjaga kepentingan imperialisme global mereka.
Sekarang ini, ketika dunia sedang dilanda pagebluk global, institusi kesehatan dunia seperti WHO harusnya menjadi penyelamat keadaan. Tapi, kenyataannya WHO masih belum bisa berbuat banyak. Malah banyak yang menuduh WHO justru menjadi bagian dari konspirasi besar pandemisasi dunia sekarang ini.
Para pengritik globalisasi seperti Joseph Stiglitz sudah lama mengendus bau busuk praktik ini. Dia tidak menentang globalisasi, tetapi menghendaki globalisasi yang lebih adil bagi negara-negara yang lebih miskin. Dalam ‘’Making Globalization Work’’ (2007) Stiglitz mengecam keras WTO dan gengnya, termasuk WHO.
Kasus AIDS maupun Ebola dan penyakit pandemi lainnya, tidak bisa dituntaskan bukan karena tidak ada obat yang ditemukan, tapi karena rezim kapitalis global sengaja menyimpannya supaya tetap mahal dan sulit dicari. Korban AIDS paling besar adalah Afrika. Separoh penduduk benua itu bisa musnah karena AIDS. Obat AIDS sudah ditemukan di Amerika, tapi harganya tetap tidak terjangkau oleh rakyat Afrika.

Dalam skala yang lebih kecil, di Indonesia Siti Fadilah Supari, juga mengendus praktik miring korporasi farmasi dunia yang berlindung di balik WHO. Ketika menjadi menteri kesehatan di era Susilo Bambang Yudhoyono, Siti Fadilah ingin membongkar kecurangan praktik global yang ingin mencuri vaksin flu burung dari Indonesia, untuk diperjual belikan menjadi komoditi internasional, semacam jual beli vaksin Corona sekarang ini.
Siti Fadilah berbicara di mana-mana mengenai kecurangan itu. Ia membayar mahal pemberontakannya itu dengan masuk penjara karena tuduhan korupsi alat-alat kesehatan. Sekarang Fadilah bebas, dan ia kembali menyuarakan perjuangannya untuk membongkar persekongkolan internasional ini.
Tidak semua orang percaya kepada Siti Fadilah. Tidak semua teori konspirasi yang diungkapkan Fadilah sepenuhnya benar. Tetapi ketidakadilan dan ketimpangan global itu nyata adanya.
Kemunculan Sarah Gilbert membuka mata dunia, bahwa di puncak derita pandemi global, ternyata ada kekuatan raksasa yang menangguk untung sebesar-besarnya. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi