Sabtu, 7 Maret 2026, pukul : 03:31 WIB
Surabaya
--°C

Uji Klinis CoronaVac, Kemanjuran Sampai 83,5%

KEMPALAN: Dalam sebuah studi baru yang dipresentasikan pada Kongres Mikrobiologi Klinis & Penyakit Menular Eropa ke-31, para ilmuwan melaporkan vaksin CoronaVac menawarkan perlindungan 83,5% terhadap COVID-19 yang bergejala, berdasarkan hasil uji coba sementara fase 3.

Melansir Medical News Today, para ilmuwan juga menemukan vaksin tersebut menawarkan perlindungan 100% terhadap perawatan di rumah sakit dengan COVID-19. Namun, karena hasil ini adalah hasil sementara, tingkat kepastian atas tingkat perlindungan yang tepat terhadap rawat inap relatif rendah.

Vaksin CoronaVac adalah vaksin yang tidak aktif. Hal ini berarti vaksin itu mengandung bentuk SARS-CoV-2 yang tidak aktif, yang tidak dapat mereplikasi dirinya sendiri. Meskipun demikian, sistem kekebalan masih mampu melatih antibodi berdasarkan virus yang tidak aktif. Ini berarti jika seseorang kemudian terkena virus, tubuh mereka memiliki peluang lebih baik untuk melawan infeksi atau mengurangi tingkat keparahannya.

CoronaVac telah menerima otorisasi darurat di 37 negara berdasarkan hasil sebelumnya, dan diberikan otorisasi penggunaan darurat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 1 Juni 2021. Hasil terbaru datang dari uji coba fase 3 di Turki. Ini adalah uji coba terkontrol plasebo ganda acak tersamar yang melibatkan 10.029 peserta yang menerima dua dosis CoronaVac dengan jarak 14 hari atau plasebo.

Partisipan penelitian adalah relawan berusia 18-59 tahun. Para peneliti mengecualikan orang yang memiliki riwayat COVID-19 atau menggunakan pengobatan imunosupresif. Orang yang sedang hamil atau menyusui, memiliki alergi terhadap bahan vaksin, atau memiliki kondisi autoimun juga tidak dilibatkan.

Para ilmuwan terutama menyelidiki apakah vaksin tersebut dapat mencegah COVID-19 yang dikonfirmasi oleh tes PCR setidaknya 14 hari setelah vaksinasi kedua dari peserta. Tindak lanjut berlangsung selama 43 hari. Para ilmuwan mengharapkan tindak lanjut lebih lama, tetapi ini dihentikan ketika CoronaVac diberikan otorisasi darurat untuk digunakan di Turki. Dalam keadaan seperti ini, terus memberi peserta plasebo potensial akan menjadi tidak etis.

Setelah menganalisis data, para ilmuwan menemukan bahwa CoronaVac menawarkan perlindungan 83,5% terhadap gejala COVID-19. Dari 6.559 orang dalam kelompok vaksin, sembilan di antaranya mengembangkan gejala COVID-19 14 hari setelah vaksinasi kedua mereka, dibandingkan dengan 32 dari 3.470 peserta dalam kelompok plasebo.

Menurut data ini, vaksin menawarkan perlindungan 100% terhadap rawat inap karena COVID-19. Namun, sedikitnya jumlah orang yang dirawat di rumah sakit membuat perkiraan dampak sebenarnya pada rawat inap menjadi tidak pasti. Hanya enam orang yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19 dalam kelompok plasebo, dan tidak ada seorang pun dari kelompok vaksin yang dirawat di rumah sakit.

CoronaVac juga terbukti sangat aman. Hanya di bawah 19% dari kelompok vaksin dan 17% dari kelompok plasebo melaporkan reaksi yang merugikan. Namun, lebih dari 90% di antaranya ringan, dan sekitar setengahnya tidak bertahan lebih dari sehari.

“Hasil kami menunjukkan bahwa CoronaVac memiliki kemanjuran tinggi terhadap infeksi SARS-CoV-2 yang bergejala dan [rawat inap], bersama dengan profil keamanan yang sangat baik pada populasi berusia 18–59 tahun,” ujar para peneliti vaksin itu.

Namun, mereka juga menyarankan data lebih banyak perlu dikumpulkan mengenai durasi kemanjuran dari perlindungan yang disediakan CoronaVac dan guna menilai keamanan dan kemanjuran pada penduduk lansia, dewasa, anak-anak, dan individu dengan penyakit kronis, karena penelitian yang mereka laksanakan hanya melibatkan populasi yang muda dan beresiko rendah dan dalam jangka waktu yang sangat singkat.

Sementara itu, menurut bukti dari Chili yang mana 10,2 juta penduduknya disuntik CoronaVac, efektivitas vaksin di antara orang-orang yang diimunisasi lengkap adalah 65,9% untuk pencegahan COVID-19 dan 87,5% untuk pencegahan rawat inap. Studi di Chili itu diterbitkan dalam The New England Journal of Medicine (NEJM).

Meskipun angka-angka ini lebih rendah daripada yang ada dalam analisis sementara, penulis studi NEJM menyimpulkan, “Hasil kami menunjukkan bahwa vaksin SARS-CoV-2 yang tidak aktif secara efektif mencegah COVID-19, termasuk penyakit parah dan kematian.” (MNT, reza hikam)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.