DUSHANBE-KEMPALAN: Sejumlah tentara Afghanistan melarikan diri ke negara tetangganya, Tajikistan untuk menghindari pertempuran dengan Taliban yang memuncak semenjak pasukan asing ditarik dari wilayah negara Asia Tengah itu.
Pimpinan unit perbatasan dari distrik Khwhan, Mohammad Zaher, menyampaikan bahwa melarikan diri ke Tajikistan adalah satu-satunya cara ia bisa selamat. Ia adalah salah satu dari ratusan pasukan Afghanistan yang menyeberang ke Tajikistan guna mengamankan diri pada Juni lalu.
Ia menambahkan bahwa melawan Taliban adalah pertempuran yang sudah pasti kalah karena sejumlah personel dari Kelompok Pemberontak Publik bergabung dengan kelompok militan itu serta melawan pasukan pemerintah Afghanistan. Pasukan pemerintah ini termasuk sukarelawan yang bertarung di bawah pemerintah untuk menjaga keamanan di sejumlah wilayah.
Melansir Radio Free Europe/Radio Liberty, Zaher mengutarakan kelompok itu memiliki sejumlah amunisi.
“Kelompok Pemberontak Publik menyita senjata pemerintah dan bekerja sama dengan Taliban. Kami tidak lagi memiliki kekuatan untuk melawan dan lari ke Tajikistan,” ujar Zaher seperti yang dikutip Kempalan dari RFE/RL.
Selain Zaher, ada juga Mohammad Vali yang merupakan tentara Afghanistan mengatakan bahwa bertempur dengan Taliban tanpa dukungan sama dengan “bunuh diri.”
Keduanya menyampaikan hal ini pada kantor cabang RFE/RL di Tajikistan pada 5 Juli lalu, tapi mereka kemungkinan besar sudah kembali ke Afghanistan.
Penasehat Keamanan Nasional Afghanistan Hamdullah Mohib mengatakan pada 6 Juli bahwa 2.300 personel yang lari ke Tajikistan telah kembali ke Pasukan Keamanan dan Pertahanan Nasional Afghanistan, sementara pejabat keamanan Tajikistan pada 7 Juli menyampaikan sekitar 600 personel Afghanistan telah dikirimkan kembali ke negaranya.
Anggota parlemen Massouda Karokhi menyampaikan, di beberapa distrik, para pasukan negaranya menganggap bertempur dengan Taliban ialah tindakan yang tidak masuk akal.
“Tentara di sana tidak memiliki dukungan yang cukup: mereka tidak menerima makanan dan tidak dilengkapi dengan fasilitas apapun sehingga mereka berkata ‘kenapa saya harus duduk di sini tidak memiliki apa-apa dan melawan Taliban – lebih masuk akal ketika saya menyerahkan senjata saya dan pergi’,” ujar Karokhi ketika diwawancarai Noor TV.
Enayat Najafizada, CEO Institute of War and Peace mengatakan pada RFE/RL, penarikan pasukan Amerika Serikat berdampak kepada moral pasukan Afghanistan.
“Kepemimpinan militer yang buruk dan tata kelola pemerintahan yang buruk di tingkat daerah adalah beberapa faktor di balik kejatuhan pos dan distrik tentara,” tambahnya.
Namun ia menambahkan, di sejumlah daerah yang mana penduduknya bergabung dengan pasukan pemerintah, Taliban tidak hanya tidak berhasil mengambil alih wilayah itu, tapi pasukannya juga dikalahkan. (RFE/RL, reza hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi