Menu

Mode Gelap

Kempalanart · 8 Jul 2021 15:14 WIB ·

Sri Masih Simpan Alasan, Mengapa Enggan Jual ‘Kanjeng Ratu Kidul’


					Sri Sedjatiningsih bersama lukisannya 'Kanjeng Ratu Kidul' yang enggan dijualnya sampai sekarang. Perbesar

Sri Sedjatiningsih bersama lukisannya 'Kanjeng Ratu Kidul' yang enggan dijualnya sampai sekarang.

KEMPALAN: HAMPIR 30 tahun terakhir ini Sri Sedjatiningsih menekuni dunia lukis. Coretan-coretan warnanya cenderung ke aliran naturalis surealis. “Saya beranggapan seni lukis berawal dari natural, dan akan kembali ke natural juga,” alasan perempuan kelahiran Kebumen (Jawa Tengah), 79 tahun ini. “Karena itulah saya memilih aliran tersebut,” lanjutnya.

Kebetulan dia mendapat dukungan dari teman-temannya di Akademi Seni Rupa Yogyakarta, di antaranya Narto PR, Aziz Ghofur, Andi Adam, dan Sabri Jamal. Ibu 9 orang anak ini juga banyak mendapat suntikan moral dari pelukis top Basuki Abdullah.

Apalagi banyak orang menilai lukisan Sri dipengaruhi oleh guratan kuas Basuki Abdullah. Bagi Sri sendiri, penilaian tersebut sah-sah saja. “Mungkin ada benarnya pendapat itu, karena saya memang mengidolakan almarhum,” katanya. “Jadi, lukisan saya ‘terbawa’ gaya Pak Basuki,” sambung dia.

Sri mengaku, sejak kecil suka menggambar. Lantaran itulah setamat SMA dia ingin melanjutkan kuliah di akademi seni rupa. Namun, keinginan tersebut dipatahkan oleh orangtuanya. “Ibu melarang saya ke akademi seni rupa. Jadi, saya terpaksa melanjutkan pendidikan ke Fakultas Hukum Universitas Diponegoro,” kenangnya.

Namun pada akhirnya keinginan Sri untuk menekuni dunia lukis menjadi kenyataan. Sebab, suaminya mengizinkan Sri untuk melukis di sela-sela waktu senggangnya. “Saya belajar otodidak. Bahkan sampai sekarang saya masih merasa belajar,” ungkapnya.

Sri tidak membantah pendapat, jika dia memiliki ikatan batin dengan Pantai Selatan. Karena itulah tidak mengherankan jika dia banyak melukis tokoh-tokoh legenda yang sangat populer. Di antaranya Kanjeng Ratu Kidul, Prabu Siliwangi, Ken Dedes, Dewi Sri, Dewi Kwan Om, Dewi Rantan Sari, Dewi Tunjung Biru, dan Tribuana Tungga Dewi.

Dia masih ingat lukisan pertamanya yang menampilkan Kanjeng Ratu Kidul dibeli oleh seorang bankir swasta nasional dengan harga Rp 5 juta (1993). “Benar-benar senang sekali, ketika lukisan pertama saya dihargai jutaan rupiah,” kenangnya.

Pada 2014, lukisannya –lagi-lagi– berjudul Kanjeng Ratu Kidul laku Rp 36 juta. Pembelinya biasa dipanggil dengan nama Bu Asih, kolektor lukisan yang berdomisili di Singapura.

Selain Bu Asih, beberapa lukisan Sri dikoleksi oleh Megawati Soekarno Putri, KGPH Hadi Suryo, Sofyan Wanandi, Budi Setiawan (Direktur Agama Budha Kementerian Agama RI), dan beberapa tokoh penting di negeri ini. “Saya sangat bersyukur, karena banyak orang penting yang mengapresiasi karya saya,” kata Sri.

Dia juga merasa tersanjung lantaran pada akhir 1995 pernah ikut Pameran Lukisan Bersama 100 Pelukis Wanita Indonesia di Kemayoran, Jakarta. “Ada kebanggaan tersendiri, karena ikut acara yang diprakarsai oleh Bu Dewi Motik itu,” tuturnya. Dia juga pernah menggelar pameran tunggal di Wisma Tingal (Candi Borobudur) pada 1995 dalam rangka Hari Raya Waisak atas dukungan dari Kementerian Agama RI.

LELAKU KHUSUS

Sri Sedjatiningsih.

Sri tak membantah, jika dia melaksanakan tirakat khusus sebelum melukis tokoh spiritual atau legenda. Misalnya, berpuasa, shalat hajat, bermeditasi dan wajib menjaga wudlu. “Agar apa yang saya hajatkan juga direstui oleh tokoh-tokoh tersebut,” alasan Sri.

Dia mengaku sering mengalami peristiwa gaib, selama menyelesaikan lukisan-lukisan ‘khusus’ tadi. “Namun, mohon maaf…. apa yang saya alami tersebut tidak layak untuk dipublikasikan. Cukup untuk diri saya saja,” paparnya.

Ada sebuah lukisan Kanjeng Ratu Kidul yang sengaja disimpannya sebagai koleksi pribadi. Ukurannya 1,3 x 1,8 meter. Lukisan ini dibikinnya selama 3 bulan pada 1993.

“Saya tak berniat menjualnya sama-sekali. Biarlah saya simpan saja,” ucapnya, serius.

Sayangnya Sri enggan menceritakan, mengapa lukisan itu enggan ditukarnya dengan uang.
“Banyak kolektor yang sudah menawarnya. Tetapi, saya sudah berjanji untuk tidak menjualnya ke siapa pun,” lanjut dia.

Dia mengaku bakal melukis hingga ajal telah menjemputnya. “Kalau sekarang ini paling banyak saya bisa membuat 2 lukisan saja dalam sebulannya,” jelas warga Desa Kawungcarang, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas (Jawa Tengah) ini. M Taufiq

Artikel ini telah dibaca 1,707 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Puisi-Puisi Minggu Ini, dari buku “Mengabdi Tiada Henti”

27 November 2022 - 20:59 WIB

Launching Buku Mengabdi Tiada Henti

27 November 2022 - 20:50 WIB

Puisi Minggu Ini

27 November 2022 - 11:25 WIB

Ngaji Literasi Puisi di Rumah Budaya Malik Ibrahim

27 November 2022 - 10:21 WIB

Sigit Widyanto, Purna Guru Ingin Terus Melukis

26 November 2022 - 17:52 WIB

Perupa Arif Wong Siap Berpameran Tunggal

26 November 2022 - 12:21 WIB

Trending di Kempalanart