Sabtu, 11 Juli 2026, pukul : 22:15 WIB
Surabaya
--°C

Musuh Bersama yang Sesungguhnya

 

Hamid Abud Attamimi

 

 

KEMPALAN: Bersama-sama memusuhi seseorang sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa, artinya fenomena seperti itu sudah sejak lama ada. Tetapi sesuatu yang ada sejak lama tak serta merta lalu harus dianggap lumrah, apalagi dibenarkan dan bahkan dilestarikan.

Dalam Al-Qur’aan, kita bisa runut membaca dan fahami bagaimana ketika Allah mengirim dan mengutus seorang Nabi pada suatu kaum. Dimana tidak sedikit dari kaum tersebut yang menolak, memusuhi dan bahkan membunuh para utusan Allah tersebut.
Dan perilaku permusuhan tersebut terus berulang hingga utusan atau Nabi terakhir yaitu Rasulullah ShallAllah Alaihi Wassalam.

Sikap apriori pada Utusan Allah tersebut punya banyak alasan, misalnya karena Utusan tersebut bukan dari kalangan berpunya (kaya), berbeda golongan atau suku, membawa sesuatu yang tidak sejalan dengan agama atau keyakinan mereka dan leluhurnya, bahkan cuma karena khawatir mengusik dominasi bisnis mereka.

Kebodohan menggiring mereka untuk selalu mengukur sebuah ajakan dari sisi kepentingan diri dan kelompoknya, bukan pada ruh atau essensi dari ajakan tersebut, hatta sekalipun ketika ajakan tersebut menyangkut hubungan mereka dengan Yang Maha Mencipta.

Mereka para pembenci Nabi dan Rassul pada masanya bukanlah masarakat yang terbelakang secara budaya dan ilmu pengetahuan, sekalipun dalam perilaku keseharian sering mengabaikan hak asasi, penghormatan pada perempuan, dan curang dalam perniagaan.

Masarakat modern ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, seiring dengan kreatifitas manusia dalam berinovasi.
Ilmu pengetahuan yang mendasarkan temuan demi temuan, juga menyandarkan pada penelitian dan oleh karenanya sangat menghargai akal.

Menjadi miris jika saat ini kita menemukan suatu kecenderungan yang menjurus pada pembodohan intelektual, dan bahkan usaha-usaha tersebut dilakukan secara sistematis dan terstruktur oleh seseorang atau sekelompok orang. Masarakat digiring untuk tidak menyukai atau membenci seseorang semata karena orang yang harus dibenci tersebut berbeda secara keyakinan, suku, ras, kelompok, organisasi.

Masyarakat tidak diajak untuk membandingkan, memilih lalu memutuskan, berdasar input pengetahuan, sodoran data tentang prestasi, rekam jejak, kompetensi, visi dan misi, dari orang-orang yang harus dipertimbangkan untuk dipilih.

Kita bahkan merasa jijik dengan perilaku kelompok-kelompok tersebut. Mengapa??
Karena mereka menghalalkan segala cara, termasuk didalamnya memfitnah, mengkriminalisasi, merekayasa aib, dengan menggunakan kecanggihan teknologi dan manipulasi media sosial.

Seseorang yang diakui mayoritas warga Bangsa sebagai Ulama, tokoh Panutan, santun, jujur, justru dicaci, diumpat, difitnah bahkan dipersekusi.
Sebaliknya, mereka yang terbukti secara hukum bersalah, bertabiat kasar, ucapannya tak senonoh, mendukung aliran sesat, malah disanjung, dibela dan dinominasikan sebagai pejabat publik.

Sejatinya bukan perbedaan-perbedaan tersebut diatas yang membuat mereka tidak suka, tetapi mereka sangat yakin bahwa rencana dan agenda mereka akan buyar dan berantakan jika harus berhadapan dengan sosok yang memiliki Religiusitas dan Nasionalisme.

Karenanya, jika warga Bangsa ini mau merenung dan jujur, kelompok ini adalah Common Enemy (musuh bersama), mereka adalah musuh dalam selimut yang berteriak lantang paling NKRI dan Pancasilais, namun paling pertama akan menjual habis negeri ini pada antek asing. (*)

Penulis, adalah aktivis dakwah dan pendidikan, tinggal di Cirebon

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.