Jumat, 13 Maret 2026, pukul : 15:09 WIB
Surabaya
--°C

Menjelang PTM, Mengapa Harus Takut? Waspada Harus!

Isa Ansori

KEMPALAN: Sejarah mencatatkan hanya penjajah dan antek anteknya yang takut kalau bangsa in harusi sehat dan pinter. Massa tanam paksa dan penjajahan tahun 1900 an kaum pribumi Nusantara diperlakukan sebagai budak, kerja untuk memenuhi hasrat penjajah, diberi makan seadanya, kesempatan pendidikan tak berikan . Maka dimasa pandemi tak boleh sekolah berhenti, sekolah harus jalan dan berlangsung dan menjalankan protokol kesehatan. Sekolah dan belajar adalah hak konstitusi, bukan politik etis yang ditarik ulur alasan pandemi.

Sekolah , tempat beribadah, rumah adalah tempat yang tertib dan baik dibanding tempat tempat diluar itu, apa yang harus kita katakan lagi, hari ini disinyalir ada cluster keluarga, lalu apakah kelurga akan kita beraikan atau kita pisah pisahkan ? Tentu tidak, Covid seperti virus yang lain lainnya, tidak harus kita takuti, tapi perlu kita waspadai, bukankah pemerintah sudah menegaskan kehidupan new normal ? Menganggap sekolah, tempat ibadah dan keluarga sebagai sesuatu yang berpotensi terjadinya penyebaran covid 19, sama saja mengnggap sekolah , tempat ibadah dan keluarga tempat yang tidak baik dan tidak tertib, sungguh ini nalar terbalik yang tidak ada dasar rujukannya. Bukankah sekolah, rumah dan tempat ibadah sudah terbukti dalam sejarah mampu melahirkan generasi generasi yang tangguh dan handal.

Melihat data data yang ada, penanganan covid 19 saya kira sudah on the track dan on progress, dibanding awal pandemi tahun 2020, hari ini 29 Juni 2021, tingkat kesembuhan kita sudah pada angka. Memang pada periode 28 – 29 Juni 2021 terjadi peningkatan kasus sebanyak 21.423 dan jumlah kematian 423. Dari data tergambar tingkat kematian sekitar 2% dan itu artinya tingkat kesembuhan nya sebesar 98 %. Apa artinya ? Progress penanganan covid 19 sudah baik dan benar. Nah kalau progress nya sudah baik dan benar maka kebijakan lain juga harus menyesuaikan, meski tetap harus ditekankan memenuhi protokol kesehatan.

Pada tingkat yang lebih makro sampai tanggal 28 Juni 2021, jumlah kesembuhan di negara RI sudah mencapai angka kisaran diatas 90 % an. Jumlah kasus tercatat 2.12 juta, angka kesembuhan 1.85 juta , angka kematian sebeaar 57.138 atau sekitar 2.5 %. Gap potensi kesembuhan dari kasus yang ditangani kalau melihat data berkisar pada kisaran 97 % an. Artinya ada trend positif kesembuhan yang harus disambut dengan optimisme. Memang terjadi lonjakan kasus dan berimbas pada penumpukan layanan, Karena memang jumlah angka layanan tetap tapi jumlah permintaan meningkat, wajar terjadi penumpukan, itulah hukum ekonomi. Agar tak terjadi penumpukan layanan maka yang harus dilakukan menambah jumlah okupasi tempat atau menambah jumlah rumah sakit rujukan.

Pembukaan mall dan tempat tempat wisata dan hiburan bisa dipahami karena pemerintah melihat penanganan pandemi sudah baik, mengapa tempat ibadah dan sekolah masih belum beranjak kebijakannya seperti awal awal pandemi ? Terjadi inkonsistensi. Pemerintah tak boleh gamang oleh suara suara anti PTM dan anti sekolah dibuka, Karena dibalik itu, silent voice yang menghendaki sekolah tatap muka dibuka jauh lebih besar.

Langkah pemerintah memastikan bahwa sekolah sebagai tempat yang baik dan tertib serta terjaga dengan prokes, melakukan vaksinasi kepada tenaga pendidik, memastikan arus pulang pergi siswa, menyediakan instrumen instrumen protokol kesehatan di sekolah dan meminta persetujuan orang tua serta menjalankan proses belajar dengan ketentuan prokes, patut diapresiasi dan didukung, Karena ini adalah bagian dari kewajiban konstitusi yang harus dijalankan, mencerdaskan kehidupan bangsa, selain menjadikan bangsa ini sejahtera termasuk didalamnya membentuk masyarakat yang sehat.

Menjelang tahun ajaran baru, saya kira hendaknya kita semua bisa menahan diri untuk tidak menambah kegaduhan, biarlah pemerintah bekerja dengan kapasitas yang dimiliki, kita bantu dengan ketenangan dan tidak menyebarkan berita ketakutan yang cenderung menutupi progress baik yang sudah dijalankan dan lebih banyak hoaksnya, menebar ketakutan.

Contoh baik bagaimana meredam ketakutan dan kepanikan dengan cara memberikan edukasi yang baik dan peningkatan layanan, dilakukan oleh Reni Astuti, Wakil Ketua DPRD Surabaya dari Fraksi PKS dan Kepala Dinas Kesehatan Surabaya. Dalam akunnya, Reni bersama Kepala Dinas Kesehatan Surabaya, menyerukan masyarakat tetap tenang dan meningkatkan protokol kesehatan, serta meningkatkan jumlah tempat layanan bagi mereka yang terindikasi positif. Terimakasih mbak Reni Astuti dan Kepala Dinas Kesehatan Surabaya.

Bangsa ini menghadap persoalan penting bagaimana mencerdaskan bonus demografi sebesar 90 juta jiwa yang kelak akan mewarisi kelanjutan bangsa ini. Kalau mereka tak mendapat asupan pendidikan yang baik, bermutu dan maksimal, mereka akan jadi beban negara dan bisa dipastikan bangsa ini akan mudah dijajah dan dipermainkan oleh kepentingan asing dan antek anteknya.

Nah sejarah selalu mencatatkan keberulangan , ketika penjajah Hindia Belanda berusaha mementahkan upaya upaya kemerdekaan yang dilakukan oleh para pejuangnya, maka muncullah gerakan gerakan perlawanan kemerdekaan dari mereka yang terdidik dan berjiwa patriotik. Semoga kita ditakdirkan oleh Allah menjadi bagian dari bangsa ini dari kalangan yang terdidik dan belajar serta patriotik. Pada akhirnya …. Tidak boleh sekolah dan belajar itu berhenti hanya karena pandemi, belajar dan sehat itu saling beriringan untuk membebaskan negeri ini dari cengkraman penjajahan.

Selamat pagi dan salam sehat serta merdeka

Surabaya, 29 Juni 2021

M. Isa Ansori
Dosen Psikologi Komunikasi STT Malang dan Anggota Dewan Pendidikan Jatim

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.