KEMPALAN: Radhar Panca Dahana adalah seorang sahabat yang sangat istimewa bagi saya, seorang yang mempunyai kepekaan sosial dan rasa toleransi dan kesetiakawanan yang sangat tinggi.
Bila berada di Jakarta, saya selalu sempatkan untuk bertemu Mas Radhar. Biasanya saya menemuinya di Rumah Sakit Cipto sambil menemaninya menjalani cuci darah. Kemudian, kami akan bertualang kuliner untuk makan siang, entah itu di kawasan Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Bulungan, atau di tempat lain. Sambil makan, kami berdiskusi mengenai hal-hal yang sedang hangat, ataupun membicarakan rencana penerbitan buku baru Mas Radhar. Memang, beberapa bukunya saya pernah terbitkan.
Begitu pula, jika Mas Radhar ada acara ke Surabaya, dia selalu menghubungi saya untuk mencarikan rumah sakit untuk keperluan cuci darah, yang harus rutin dilakukannya di mana pun dia berada.
Apa yang saya tangkap dari sosoknya adalah semangatnya yang luar biasa. Radhar Panca Dahana adalah pemikir budaya, yang banyak memberi masukan tentang kehidupan berkesenian, baik di bidang sastra, teater, maupun seni rupa.
Mas Radhar juga merupakan tokoh pergerakan moral. Integritasnya dikenal di kalangan budayawan, media, akademisi, maupun masyarakat umum. Pemikirannya di dunia kesenian sangat monumental, tak jarang melampaui zamannya. Dia selalu memandang segala sesuatu dengan kaca mata sosial budaya, termasuk dalam persoalan politik. Tulisan-tulisannya di ranah budaya, sosial, politik, sangatlah mendalam dan menarik. Itu sebabnya saya tidak pernah ragu dan menolak apa pun bukunya yang diajukan kepada saya untuk dicetak dan diterbitkan.
Pernah pada suatu saat dia bercerita sambil menangis, ketika melihat keadaan di tanah air, tentang mental bangsa yang rusak, meningkatnya korupsi dan nepotisme. Saya juga masih teringat ketika Mas Radhar mengatakan bahwa bangsa ini berada pada titik nadir, dengan mimik miris, sampai dia tak mampu melanjutkan bicaranya.
Radhar sangat peduli pada apa yg terjadi di masyarakat, dan keprihatinannya sangat mendalam melihat kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Rasa nasionalismenya tak diragukan lagi.
Sebagai seorang sahabat, dia banyak memberi masukan yang sangat berharga untuk pengembangan diri saya, khususnya di bidang seni rupa dan sastra.
Mas Radhar juga mengapresiasi lukisan-lukisan saya, yang disampaikannya dalam tulisan.
Dalam obrolan melalui telepon, dia juga memuji cerpen saya “Sang Badut dan Penyair”. Ini sesuatu banget buat saya, karena saya tahu Mas Radhar tidak pernah berbasa-basi dalam mengapresiasi sebuah karya.
Saya tidak menduga itulah kontak saya yang terakhir dengannya. Sekitar dua minggu setelah menyampaikan apresiasinya, pada malam tanggal 22 April, beberapa teman mengabarkan kepergiannya. Betapa sedih saya mendengarnya, saya merasa sangat kehilangan sahabat sejati. Walau sulit percaya, tapi itulah kenyataannya.
Kita menyadari, sebetulnya negri ini membutuhkan pemikiran dan sosok semacam Radhar. Kritikan-kritikannya yang selalu jujur, obyektif, tanpa memihak, dan tanpa kepentingan atau agenda tertentu, akan dirindukan.
Mas Radhar pernah memberikan tulisan kepada saya di secarik kertas. Tulisan itu berbunyi: “Untuk sahabatku Hamid Nabhan. Seberapa pun waktu diberkahkan pada kita, isilah untuk manfaat orang lain dengan ikhlas, di situlah martabat kita ada.” Tulisan itu saya bingkai dan saya gantung di dekat meja kerja saya, sebagai spirit buat saya. Ketika saya memandang tulisan itu, kenangan indah bersamanya kembali terbayang.
Radhar Panca Dahana kini telah pergi dan sulit rasanya kita mencari penggantinya.
19 Juni 2021
Hamid Nabhan
Penulis adalah pemerhati seni dan budaya yang tinggal di Surabaya

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi