KEMPALAN: Dalam drama Julius Caesar karya William Shakespeare digambarkan pemberontakan oleh orang sekitar istana. Julius Caesar terbunuh oleh pengkhianatan orang-orang terdekatnya. Caesar tidak menyangka sahabatnya, Brutus, ikut dalam komplotan konspirasi para senator dan menikamnya dari belakang sampai mati.
Pada tahun 44 Sebelum Masehi, penguasa Republik Romawi, Julius Caesar, ditikam hingga tewas oleh sejumlah senator, antara lain Marcus Junius Brutus, Gaius Cassius Longinus, Decimus Junius Brutus, dan beberapa Senator Romawi. Rencana itu bermula dari ketakutan para senator terhadap pemerintahan Julius Caesar yang semakin berkuasa.
Brutus, yang sebelumnya pernah dimaafkan Julius Caesar, dibujuk oleh para senator untuk menggulingkan Julius Caesar. Hari kematian Julius Caesar ditentukan ketika ia menerima undangan Senat. Istri Julius Caesar, Calpurnia, sempat melarang Julius Caesar. Toh, Julius Caesar tetap menerima undangan Senat. Brutus bersama anggota Senat menikam Julius Caesar puluhan kali. Kemudian jasad Julius Caesar dibakar.
Sejak itu Brutus dijadikan simbol untuk para pengkhianat politik dan pelaku konspirasi politik untuk menggulingkan teman atau pemimpin sendiri. Dalam berbagai cerita sejarah politik dunia selalu ada Brutus. Pun pula dalam sejarah politik Indonesia, banyak Brutus bermunculan datang dan pergi.
Siapa yang menjadi Brutus dan siapa yang menjadi Caesar? Beberapa waktu terakhir muncul spekulasi bahwa telah muncul Brutus di sekitar Jokowi. Orang-orang yang selama ini menjadi kepercayaan presiden ternyata melakukan plot untuk mengkhianati presiden.
Ini adalah spekulasi politik yang tidak mudah dibuktikan, tapi juga tidak mudah diabaikan begitu saja. Beberapa indikasi menunjukkan bahwa ada upaya-upaya menjadikan Jokowi sebagai Caesar yang bakal terkaget-kaget ketika meregang nyawa ditikam oleh Brutus.
Jokowi sebagai Caesar akan menjadi korban Brutus. Tapi, apa tidak mungkin ada skenario lain yang menjadikan Jokowi berperan sebagai Brutus? Lantas, siapa yang menjadi Julius Caesar?

Ada lagi spekulasi politik yang beredar beberapa hari terakhir yang mengatakan bahwa para petugas partai mulai mbalelo. Begitu kata para pengamat ketika menyaksikan Presiden Jokowi tidak menghadiri undangan pengukuhan Megawati sebagai profesor, dan lebih memilih bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Semarang.
Mega dikukuhkan sebagai profesor kehormatan oleh Universitas Pertahanan (Unhan) Jumat (11/6). Jokowi diundang untuk hadir, tapi dia hanya mengirim pidato sambutan via video. Dalam pidato pengukuhan, Mega tidak menyebut nama Jokowi. Ia hanya menyebut nama Menhan Prabowo Subianto dan Mendikbud Nadiem Makarim.
Jokowi dan Ganjar adalah dua petugas partai di PDIP. Jokowi boleh menjadi presiden dan Ganjar menjadi gubernur. Tapi, di mata Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Jokowi dan Ganjar hanyalah petugas partai yang ditugaskan untuk menjadi presiden dan gubernur.
Karena itu ketika Jokowi si petugas partai tidak datang pada acara ketua partai yang sangat penting, ia telah mengirim sinyal politik yang jelas. Jokowi menganggap acara itu tidak penting. Sebaliknya Jokowi memilih bertemu Ganjar di Semarang. Ini menjadi sinyal yang tegas bahwa Jokowi lebih memprioritaskan Ganjar ketimbang Mega.
Ini bisa dianggap sebagai sinyal mbalelo, menentang ketua partai. Atau, mungkin, sudah terlihat ada proses ‘’brutuisasi’’ atau pembrutusan di antara dua kekuatan. Mega dengan tegas mengatakan, siapapun yang tidak menjalankan kebijakan partai harus out dari partai. Meskipun Mega tidak menyebut nama, tapi isyarat itu menunjukkan bahwa Mega menyindir Ganjar.
Sebagai ketua umum partai, Mega merasa mempunyai kuasa untuk menentukan siapa yang layak ditugaskan untuk mengisi pos-pos eksekutif, mulai dari level kabupaten-kota sampai ke level presiden. Mega ingin menjadi ‘’the king maker’’ yang tidak tersaingi.
Tapi, Jokowi punya pikiran lain. Ia juga ingin menjadi the king maker untuk memilih siapa yang menjadi suksesornya. Karena itu Jokowi menjadi gerah ketika PDIP memutuskan untuk berkoalisi dengan Gerindra dengan mengusung pasangan Prabowo-Puan pada pilpres 2024.

Ketika Prabowo bersedia bergabung dalam kabinet Jokowi pasca pilpres yang panas pada 2019, banyak yang mempertanyakan kompensasi apa saja yang bakal diterima Prabowo sebagai mitra koalisi. Kompensasi dua pos menteri, yaitu menteri pertahanan dan menteri perikanan dan kelautan, dianggap terlalu murah bagi Prabowo.
Karena itu muncul spekulasi bahwa Prabowo akan menerima kompensasi yang lebih besar dari sekadar dua pos menteri. Tidak lama berselang bocorlah informasi bahwa Megawati telah menyepakati ‘’Perjanjian Batutulis Part II’’ yang berisi kesepakatan untuk menduetkan Prabowo Subianto dengan Puan Maharani.
Dengan tawaran yang cukup menggiurkan itu wajar jika Prabowo tertarik dan dengan cepat menyambar tawaran itu. Perjanjian Batutulis Part I ditandatangani pada 2009 berisi pernyataan Megawati akan mendukung Prabowo pada pilpres 2014. Alih-alih memenuhi janji itu Mega meninggalkan Prabowo dan menyerahkan rekom PDIP kepada Joko Widodo.
Kali ini Mega bertekad untuk memenuhi janjinya. Duet Prabowo-Puan akan membuka jalan bagi trah Sukarno untuk kembali memimpin Indonesia, meskipun harus melewati tangga wakil presiden.
Kesepakatan ini tidak memuaskan semua pihak. PDIP adalah partai pemenang dengan elektabilitas yang konsisten di puncak tangga di setiap survei. Sebagai partai pemenang dan partai penguasa, the ruling party, seharusnya PDIP mengincar kursi RI 1 dari pada hanya menjadi ban serep di posisi RI 2.
Kesepakatan itu, mungkin, tidak memuaskan Jokowi karena dia tidak bisa menentukan siapa yang akan menjadi penggantinya. Sangat penting bagi Jokowi untuk mempunyai pengganti yang bisa dipercaya untuk mengamankan masa pensiunnya setelah lengser. Tanpa pengamanan politik yang memadai dari presiden mendatang, Jokowi akan menjadi telur di ujung tanduk.
Jokowi juga ingin mengamankan posisi trah politiknya–Gibran di Solo dan Bobby di Medan—yang masih membutuhkan proteksi politik karena political positioning-nya yang masih belum mantap.
Karena itu Jokowi ingin memilih suksesornya sendiri. Karena itu Jokowi ingin menjadi the king maker yang bisa memilih the next king sebagai suksesornya. Di sisi lain Mega juga punya kepentingan yang sama, menjadi the king maker sekaligus mengamankan dan memuluskan jalan trah politiknya.
The show down, perang terbuka, antara Jokowi melawan Mega tidak terhindarkan. Siapa mengkhianati siapa. Siapa yang menjadi Caesar dan siapa yang menjadi Brutus, belum bisa diketahui sekarang.
Baru nanti di akhir episode akan terungkap ketika Caesar meregang nyawa dan baru menyadari bahwa Brutus telah bersekongkol dengan beberapa senator dan menikamnya dari belakang. Dalam tarikan nafas terakhir Caesar yang kaget berkata, “Et tu Brute?”, Bahkan, engkau Brutus? (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi