Rabu, 15 April 2026, pukul : 07:53 WIB
Surabaya
--°C

Jangan Ragukan Nasionalisme LNM

Catatan: Prof Dr Sam Abede Pareno,MM,MH.

KEMPALAN: Sudah bagai takdir, presiden Indonesia sejak pertama (Ir Soekarno) sampai dengan saat ini (Joko Widodo) adalah seorang nasionalis. Jabatan presiden pernah diduduki oleh seorang ketua umum ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) sebagai presiden ke-3 yaitu Prof Dr BJ Habibie, dan presiden ke-4 mantan ketua umum PBNU yaitu K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ternyata kedua presiden ini tak kalah nasionalismenya dibanding presiden-presiden Indonesia lainnya. Habibie yang sudah nyaman dengan gaji besar di Jerman, rela pulang ke Indonesia ketika diminta Presiden Soeharto untuk mengabdi dan berkiprah di tanah air, yang pada gilirannya menjadi menteri kemudian menduduki wakil presiden, dan akhirnya menjadi presiden. Beliau sangat mencintai bangsa dan tanah airnya. Beliau nasionalis sejati. Presiden ke-4 Gus Dur lahir dan tumbuh di tengah pondok pesantren, namun beliau tak menyukai pandangan kalangan muslim sempit yang tumbuh di kalangan umat Islam.

Wawasannya luas yang disampaikan dalam berbagai kesempatan. Beliau seorang nasionalis tulen yang penuh toleransi.

Sekarang muncul nama-nama bakal calon presiden yang digadang-gadang oleh sejumlah parpol untuk diusung sebagai bakal capres. Di antaranya Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Puan Maharani. Di antara mereka, hanya Anies Baswedan yang punya hubungan dekat dengan kalangan muslim ideologis meskipun kakek beliau seorang nasionalis yang ikut memerjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dikotomi Islam-Nasionalis seharusnya tidak boleh ada, namun pemikiran masa lalu tentang golongan Islam dan golongan Nasionalis dalam penyusunan dasar negara dan UUD 1945 masih membayangi kehidupan politik di Indonesia, bahkan tesis Clifford Geertz (1953) tentang Priyayi, Santri, Abangan yang sebenarnya sudah tidak relevan itu masih membayangi pola pikir para politisi kita.
Lepas dari itu, muncul tokoh alternatif bernama La Nyalla Mahmud Mattalitti (LNM).

Tokoh yang satu ini lain dari yang lain. Beliau tidak digadang-gadang oleh parpol, malainkan diajukan pada mulanya oleh kaum milenial dari ormas Pemuda Pancasila, disusul oleh sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan organisasi profesi. Kemunculan beliau sebagai bakal capres menandai bentuk perlawanan baru terhadap amandemen UUD 1945 tahun 1999, 2000, 2001, 2002.

Karena selain posisi LNM sebagai ketua DPD, alasan yang dikemukakannya sangat jelas dan rasional. Beliau tidak beroposisi melainkan mengajukan solusi. Pendapat LNM out of box dari opini yang dibentuk oleh pejabat negara lainnya. Itulah nasionalisme LNM yang tentunya diperoleh dari aktivitasnya dalam Pemuda Pancasila. Nasionalismenya berpijak seutuhnya pada Pancasila. Pergaulannya dengan para ulama juga kian memperkokoh jiwa nasionalismenya. Insya Allah.

Surabaya 8 Juni 2021.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.