
KEMPALAN: Selepas simbah putri ber-ritual nginang yang terasa sangat nikmat di penglihatan Hera tetapi sungguh Hera tidak tahu dimana letak kenikmatannya, seperti juga penduduk Papua besar kecil, tua muda, mereka mengunyah pinang dengan nikmatnya dan juga para perokok semua pasti menemukan kenikmatan dari kegiatan tersebut. Mbah Kakung Hera juga sedang menikmati rokok Tingwe buatannya sendiri berupa mbako, uwur dan kertas sek pembungkus yang baunya harum. Hera ingat waktu kecil sering disuruh ke warung beli uwur dan sek. Hera senang jika disuruh membeli dua jenis barang itu karena sepanjang jalan pulang dia hirup- hirup dengan hidungnya, baunya wangi. Kertas sek beraroma cengkeh jika dijilat terasa manis, begitu pula uwur berupa serbuk cengkeh yang ditumbuk kasar dengan campuran semacam kayu manis. Mbako dan uwur itulah sumber kenikmatan mbah Kakung.
Hera duduk di kursi sedan mulai membuka pembicaraan tentang hasil pertemuan dengan orang tua Danang dan hasil pembicaraan dengan ibunya melalui telepon. Kesimpulannya adalah Orang Tua Danang mau melamar dan mengusulkan untuk Akad Nikah secara sederhana sebelum Danang kembali ke Kalimantan. Simbahnya kaget kok mendadak seperti itu. Hera lalu memberikan masukan kepada simbahnya agar tidak setuju dengan rencana pak Camat itu. Dan mengusulkan kepada orang tua Danang saat melamar agar tunangan saja dulu sampai menunggu Hera Wisuda. Hera juga menyampaikan pendapat ibunya, yang tidak setuju jika akad nikah dilaksanakan secepat itu. Sebaiknya tunangan dulu saja. Simbahnya setuju dengan usulan yang Hera sampaikan.
Keesokan harinya selepas Magrib, dengan naik dua motor pak Camat, Danang dan adik perempuannya berkunjung ke rumah simbah Hera. Waktu yang dipilih malam, selepas magrib, mungkin pak Camat tidak ingin diketahui atau dilihat oleh tetangga. Maklum bagaimana kerasnya pak Camat melarang hubungan Danang dan Hera dengan berbagai cara dilakukan sampai minta tolong beberapa dukun. Kenyataan yang pak Camat dapati adalah Danang anaknya tidak bisa lepas dari Hera. Pak Camat sudah pada titik kepasrahannya atau kepada kesadarannya tentang makna cinta yang hakiki yang tidak bisa diintervensi.
Suara motor terdengar memasuki halaman rumang mbah Mangun yang berhalaman luas melebihi luasnya halaman rumah pak Camat
” Assalamu ‘alaikum sugeng dalu mbah kulonuwun ”
Suara Pak Camat dan Danang. Hera Segera membuka pintu dan mempersilahkan masuk.
Pak Camat, Danang dan mbah Kakung duduk melingkar di kursi sedan. Sedang Hera dan adiknya danang duduk di tikar bawah dekat TV hitam putih 14 inc.
” Mbah kulo sowan mriki sepindah tuwi kawilujenganipun simbah sekalian, kaping kalihipun bade hangembun-embun enjang anjejawah sonten, waleh-waleh menopo anak polah bapa kepradah. Meniko wosipun bade nyuwun keng wayah Hera kangge anak kula Danang”. Demikian ndakik-ndakik ucapan pak Camat memakai bahasa Jawa kiasan yang biasa dipakai orang nglamar.
Simbah kakung yang sedikit bicara itu manggut-manggut.
” Lha nggih monggo menawi larenipun sampun cocok”, jawab mbah Kakung.
” Pinye nduk, wis mantab tho karo mas Danang. Kalau di ijinkan saya sekalian matur kalian simbah mbok bilih saget enggal diresmikan Akad nikah sebelum Danang balik Kalimantan”, lanjut pak Camat.
“Wah kalau bab peresmian Akad Nikah tidak bisa mendadak, wingi Hera sampun telepon orangtuanya dan orangtuanya hanya mengijinkan untuk acara pertunangan dulu saja. Boleh sebelum nak Danang kembali ke Kalimantan, nanti bapaknya Hera yang akan hadir”, jawab mbah Kakung.
” Oh ngaten nggih sampun nderek kemawon” lanjut pak Camat.
Lalu pembicaraan berlanjut ngobrol- ngobrol hal-hal yang ringan saja. Pak camat meghendaki agar Danang dan Hera nantinya tidak boleh berjauhan. Sebab menurutnya keduanya banyak yang mendekati. Makanya biar jalan tidak menggak- menggok cepat di resmikan saja.Dulu pak Camat menghendaki agar Danang terpisah dari Hera. Danang dicarikan calon dan Hera juga menerima alternatif lin, wajar dan logis. Sekarang pak camat yang ngebet. Mendengar ucapan pak Camat yang seperti itu Hera dan adik Danang saling pandang dan saling mencolek.
Pak Camat melihat itu langsung komentar.
“Satu hal yang membuat saya terharu dari kepribadian Hera adalah sifatnya yang semanak, cepat akrab dengan adik- adik Danang sehingga adik- adiknya Danang pun juga suka dan sayang pada Hera”.
Dalam hati Hera tersenyum, tapi adik Hera malah memeluknya. Mungkin bahagia dan lega, akhirnya Hera benar akan menjadi kakaknya tempat curahan hati kelak.
Pada pertemuan itu diputuskan bahwa hari Minggu akan diadakan pertunangan. Simbah butuh waktu persiapan tiga hari. Simbah memanggil simbok untuk menyiapkan segala kebutuhan belanjaan untuk hidangan dan lain- lainnya. Walaupun hanya keluarga dan tetangga sekitar yang diundang.
Hera dan Danang bisa dibilang orang yang paling bahagia di dunia ketika itu. Karena perjalanan kisah cintanya yang rumit sudah berakhir. Hera memiliki kesimpulan bahwa arogansi itu harus dilawan dengan cara yang elegan bukan dengan cara yang sama. Jika Hera melawan dengan cara macam Jimo Belong maka yang terjadi pasti berbeda dan itu bukan karakter keluarga Hera. Tidak sulit melawan arogansi gaya Jimo Belong. Hera bisa minta tolong pakdenya untuk melawannya. Karena istri Jimo adalah adik dari istri pakdenya Hera. Jimo akan sungkan dan takut. Pakde bisa Hera minta supaya datang dari Jakarta menemui Jimo Belong apa maunya. Tetapi Hera tidak bercerita apapun kepada pakdenya tentang Jimo dan tentang Pak Camat dan Danang. Hera berpikir makin banyak yang tahu makin banyak yang merasa sedih dan ujungnya ikut melarang, atau tidak setuju hubungan dilanjutkan karena telah dihinakan, atau menyarankan membalas. Jadilah pertikaian yang tidak ada ujungnya. Rekonsiliasi tidak akan terjadi, dan akan hanya sebagai wacana.
Hera setidaknya ingin menorehkan sejarah bahwa rekonsiliasi telah dirintis melalui kisah cintanya. Melalui jalan budaya bukan politik. Itulah kenapa dia tidak memilih Raharjo dan Purnomo yang mulus, mapan tidak bermasalah. Karena pada keduanya tidak perlu perjuangan dan tidak ada misi kemanusiaannya. Hera ber-eksperimen dengan hidupnya dan mempertaruhkan kehidupan masa depannya sendiri dengan memilih Danang.
Hari Minggu pas di tanggal 1 Oktober, Hera dan Danang bertunangan. Dihadiri keluarga besar Pak Camat, dan kerabat Hera yang ada di desa serta tetangga kiri kanan. Ayah Hera menghadiri acara tersebut di dampingi Hero adiknya. Arogansi memang salah satu watak manusia yang tidak bisa disembunyikan di saat manusia itu berada di atas. Demikian juga ketika pak Camat memberikan sambutan dan memperkenalkan kekuarganya siapa itu ibu Camat yang seorang putri saudagar kaya yang berhaji sejak Indonesia belum merdeka, dan kembali berhaji dengan putra-putranya yang menjadi pejabat kementerian agama dan lain-lain. Masyarakat desa Hera tentu tidak akan mengagumi sesorah semacam itu. Mereka lebih kagum jika pidatonya berisi bahwa kerabatnya adalah keturunan Dalang Kondang, atau tokoh seni yang terampil menabuh gamelan sekaligus tiga alat atau pemain wayang orang yang kondang misuwur. Sebab desa Hera sudah terkenal sebagai desa seni. Istilahnya lahir ceprot sudah bisa main gamelan. Seperti orang Jepara, yang lahir ceprot bisa mengukir kayu. Jadi yang mendengarkan bosan dan ngantuk. Saat acara pertunangan karena Hera dan Danang sangat bahagia, keduanya tidak bisa menyembunyikan wajah ceria dan selalu tersenyum dan gembira. Itupun Hera dan Danang mendapatkan bisikan agar anteng kalem, tidak banyak senyum atau tertawa. Batin hera, waduuh tertawa dan senyum kok dilarang. Padahal itu adalah ekspresi kejujuran dari seorang manusia. Usai acara Tunangan, Hera menyampaikan hal-hal yang menurut Hera aneh kepada Danang. Senyum dan ketawa kok dilarang katanya tidak sopan. Hera bilang yang tidak Sopan itu jika memfitnah orang baik-baik dan mendzolimi orang-orang mambu dan menghindari anak-anaknya karena takut hidupnya akan banyak hambatan. Memberi cap Eks Tapol pada KTP orang yang dulu ikut partai resmi. Memangnya Hera tidak boleh senang dan tidak pantas bahagia. Demikian Hera nerocos kepada Danang. Cara pandang dan sensitivitas orang memang beda-beda. Danang hanya menjawab ‘ya sudah jangan dimasukkan hati’. Jawaban yang bagi Hera tidak memuaskan. Hera punya pandangan soal kesopanan dan etika yang mungkin berbeda dengan pak camat dan keluarga.
Akhirnya Hera tidak mempersoalkan lagi hal-hal seperti itu. Hera cukup tahu dan belajar memaklumi, bahwa tingkat wawasan dan cara berpikir memang tidak sama. Tetapi tidak terhadap Danang, Hera menekankan bahwa Hera memiliki konsep dan prinsip hidup sendiri, tidak mau dilarang dan Hera menjamin itu untuk kebaikan dan kemajuan hidup bersama yang bermuara pada kesejahteraan keluarga. Danang diam saja entah setuju entah tidak. Hera tidak perlu jawaban. Waktu yang akan menjawab. Hera sudah terlanjur mempertaruhkan hidupnya dengan memilih Danang dengan segala konsekuensinya. Eksperimen hidup yang akan dijalani Hera.
(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi