Cerbung Prof Budi Santosa PhD & Dra Hersis Gitalaras (Seri 51)

Sebuah Pertaruhan

  • Whatsapp

KEMPALAN: Hera melamun menganalisa tentang kepribadian Danang. Walaupun tidak terlalu berharap banyak, pikiran dan hati Hera diam-diam jadi mengarah kepada teman SMAnya yang satu ini. Hera mengingat kembali perjalanan kisahnya sejak awal perkenalannya kelas satu SMA, saat Danang menitipkan kaset dan surat kepada ponakannya. Lalu disambut getaran yang luar biasa. Peristiwa itu tak terasa sudah berlalu sembilan tahun. Waktu yang cukup panjang dan lama dengan segala ujian yang mengiringinya. Hera banyak pilihan, Danang mungkin juga banyak pilihan. Setidaknya ada beberapa pilihan yang disodorkan orang tuanya. Tetapi Danang konsisten pada satu tujuan, yaitu terus berjuang untuk mendapatkan Hera seorang sebagai pendamping hidupnya.

Hera merenung, teringat akan segala kebaikannya, ketulusannya, dan kesederhanaannya dalam berpikir serta konsistensinya dalam mempertahankan sesuatu yang dicintainya. Dengan caranya sendiri. Cara yang berbeda dengan yang dilakukan oleh Larso maupun Agung. Dari segi pendidikan Danang ketinggalan dibanding Larso, Agung maupun Hera sendiri. Tetapi dari segi soft skil lain yang masih misteri  dan hard skil, Danang punya keunggulan. Akhirnya Hera akan membiarkan cinta mencari muaranya sendiri. Hera menganggap soal Danang belum final.  Berbeda dengan dua cowok yang lain Larso dan Agung, keputusan mereka sudah final. Ini ditandai dengan surat- surat mereka yang monumental. Dua-duanya putus melalui surat. Sedangkan Danang putus melalui lisan disampaikan secara langsung pelan lembut atas perintah ortunya, jelang Hera hijrah ke IKIP Jakarta. Walau itu tetap saja membuat hati Hera teriris sakit. Dampak dari putusnya hubungan mereka, membuat  Danang seperti frustrasi, sehingga kabur ke Sumatra. Akhirnya kembali setelah beberapa tahun. Pertemuannya kembali di kota Semarang yang tiba-tiba, diantar oleh temannya Waluyo, membuat benih-benih cinta mereka tumbuh kembali. Hal itu tidak bisa dipungkiri oleh hati Hera di tengah kehadiran Agung, Larso dan mas Bagas.

*

Jauh di Kota Kembang, di kamar kosnya di dekat kampus Ganesha, ada seonggok hati menjerit, seusai membaca surat dari seorang gadis pujuaannya sejak SD hingga dewasa. Pupus sudah harapan si cowok itu. Dialah Larso. Dia meratapi surat balasan Hera atas suratnya yang panjang dan detail, jawaban PR nya dan sekaligus memuat keputusannya. Segala pertanyaan dan kegundahan berkecamuk di hati dan kepala Larso yang terasa berat.

Mengapa di suratnya Hera tidak protes? Mengapa Hera tidak marah?? Apakah pertanda Hera tidak serius mencintainya?? Ataukah ada ketersinggungan, atau kehinaan pada diri Hera di suratnya yang tragis itu sehingga mengalahkan rasa cintanya?? Larso sungguh tidak bisa berpikir lagi. Seandainya dia hidup tidak tergantung pada para pinisepuh, pada  paman-pamannya yang merasa sudah memberikan jasanya dan oleh ibunya diwajibkan membalas, mungkin nasib cintanya tidak akan kandas dan terkoyak seperti ini.

Larso menghargai sikap Hera. Benar sikap Hera jika hubungan dilanjutkan akan banyak pinisepuhnya terlukai hatinya, takut membuat hidupnya tidak berkah. Biarlah waktu yang akan menjawabnya. Larso mengalami guncangan hebat akan keputusan Hera ini. Dia sudah sangat hati-hati dan sabar membina hubungan dengan Hera. Semua dilakukan dengan penuh perhitungan. Tapi demikian hasilnya.

Hera menekuni lagi skripsinya dan masih ada beberapa mata kuliah perbaikan. Semester depan ditarget harus selesai. Harapannya selesai kuliah sudah ada kepastian siapa pilihannya. Jika belum ada juga Hera akan tunggu sampai dengan usia 28 tahun. Dalam hati kecil Hera menetapkan semacam sumpah jika tidak ada yang pasti hingga umur itu, dia tidak ingin berumah tangga. Jika perasaan Hera diibaratkan gelombang, alunnya sejenak sudah tenang. Hera sudah bisa konsen pada studinya.  Ia ingin cepat lulus dan bekerja. Sudah ada yang menampungnya jika Hera mau bekerja menjadi guru di sekolah swasta. Hera pun tergoda untuk pergi ke Kalimantan, ngelamar di perusahaan tempat Danang melalui kantor pusatnya yang di Jakarta. Karena di basecamp Kalteng ada sekolahan dari TK hingga STM atau SMA, dan sangat membutuhkan tenaga guru. Begitu menurut cerita Danang.

Suatu siang alun yang tenang itu bergolak  hebat. Saat pulang dari kampus, di ruang tamu kosnya ada sosok tamu sedang duduk menunggunya. Hera seperti biasa lewat pintu samping. Melihat Siti di dapur, Hera menghampiri dan menanyakan siapa tamu di ruang tamu itu karena dari samping tidak jelas.

“ Itu mbak yang dulu itu lho, yang ganteng berkumis.”

Hati Hera mak deg, nratap. Benarkah Danang? Kok pulang tiba-tiba tanpa berita?! Ada apa?? Apakah dia kabur dari tempat kerjanya.Apakah dia tahu tentang rencana perjodohan oleh orang tuanya itu?? Hera bingung, keringat dingin membasahi kening dan lehernya. Sungguh dia sudah bosan dengan persoalan- persoalan yang rumit dan tidak mutu itu. Hera mencoba tidak berprasangka. Hera akan menyambutnya dengan riang.  Dengan mengendap-endap, Hera mendekat.

“Maaass Danang..!!!. benarkah ini Mas Danang? Aku tidak sedang mimpi kan?” pekik Hera dan Danang bangkit dari duduknya. Mereka saling berpelukan.

“Iya dik, aku pulang. Maaf tidak kasih kabar. Mumpung ada barengan ke Semarang juga, mas Yon menejerku”, Danang menjelaskan.

“Mas kerjamu di hutan atau di kota sih, kok bersih tidak hitam dan malah sedikit berisi? ” kata Hera agak terkesima.

“Yo di hutanlah dik, kalau mau ke basecamp  nyebrang kali besar, serem pokoknya”,  jawab Danang.

“Ooh gitu, sekolah- sekolah yang dibangun itu juga di basecamp atau di kota?” tanya Hera lagi. Ini bagi Hera  penting untuk ditanyakan.

“Ya di basecamp, memang kenapa? Takut ya? Banyak kok sarjana-sarjana cewek yang kerja di sana” , jelas Danang lagi. Hati Hera senang dan besemangat, jika suatu saat kepepet sudah ada pelarian ke Kalimantan. Tapi pertanyaan basa-basi tadi sudah cukup. Hera ingin bertanya sesuatu yang serius tentang maksud kepulangan Danang itu.

“Mas aku mau tanya serius nih, jawab sungguh-sungguh ya. Dalam rangka apa mas Danang pulang kok mendadak nggak kasih kabar lebih dulu?”

“Banyak dik dalam rangkanya. Tapi sebaiknya kita makan dulu ke Resto Ayam Goreng yang gurih yang dulu dik Hera pernah traktir aku saat mau berangkat . Sudah lapar”, kata Danang memegang perutnya. Mereka lalu berjalan kali menuju resto yang tidak begitu jauh.

“Dik, aku pulang dalam rangka mau sowan simbah melamarmu”, kata Danang seraya meraih tangan Hera.

“Waah mas Danang awan-awan kok nglindur sambil mlaku”, jawab Hera. Sesungguhnya hatinya kaget.

“Ini serius dik,  besok kita beli cincin tunangan di Toko Nogo Delanggu. Aku punya waktu seminggu semoga cukup waktunya”, ucap Danang serius.

“Setelah seminggu terus aku balik dulu ke Kalteng”, lanjut Danang.

“Kok pakai dulu, memang terus mau kemana lagi setelah balik ke Kalteng?” Hera agak terusik dengan pernyataan ‘balik dulu’.

“Nanti sambil makan aku bercerita”, kata Danang. Mereka sudah sampai resto yang dituju. Lalu memesan es blewah dan es jeruk serta nasi ayam. Dalam posisi dudu berhadapan mereka memulai obrolan serius.

” Sekarang berceritalah mas yang komplit”, pinta Hera.

” Gini dik, aku ada tawaran pindah ke Jakarta, Holding Company yang di Jakarta ekspansi membuka Supermaket dan Department Store. Untuk tenaga- tenaganya,  ditawarkan dulu kepada orang-orang yang sudah lama di hutan Kalteng. Tapi anehnya banyak yang tidak tertarik. Menurutmu bagaimana dik, apa aku ambil aja ya kesempatan baik ini, dan alasannya juga tepat ?”  Danang menjelaskan tapi ada sesuatu  yang nampak terselubung yang Hera tidak ketahui. Tapi Hera tidak akan tanyakan kecuali Danang bercerita sendiri.

“Kantor yang di Jakarta dimana mas lokasinya? ” tanya Hera.

“Di Baypass Jalan A. Yani”, jawab Danang.

Hera kaget dan spontan menyaut,

“Lha itu kan dekat rumahku mas, paling cuma sepuluh menit dari rumah.  Ya sudah diambil saja tawarannya”.

Bagaimanapun di Jakarta akan lebih banyak kesempatan untuk lebih maju, dari pada di pedalaman, pikir Hera.

“Tapi rate gajinya lebih kecil, hanya setengahnya di Kalteng”, kata Danang.

“Nggak apa-apa mas, di Jakarta lebih banyak peluang jika ingin maju, asal kreatif”, Hera memberi pandangan.

“Baiklah aku akan mengajajukan lamaran untuk ambil posisi yang sesuai pekerjaanku di basecamp,yaitu bagian logistik atau gudang “, sahut Danang bersemangat. Dengan begitu pupus sudah cita- cita Hera untuk menjadi guru di pedalaman Kalteng.

Sambil menikmati makan siang mereka mengobrol. Hera kembali bertanya dengan serius

“Sungguh-sungguhkah, rencana mau sowan simbah melamarku?? Beranikah mas Danang matur ke bapak ibu mas Danang??” tanya Hera serius.

“Untuk kali ini harus berani. Ke hutan pedalanan Kalteng saja berani kok, masak ngomong soal jodoh ke orang tua sendiri nggak berani”, jawabnya berseloroh. Tapi Hera masih belum yakin. Bagaimana nanti reaksi bapak-ibu Mas Danang atas rencana itu.

“Mas jujur ya aku sudah lelah dengan urusan yang seperti ini, kalau tetap tidak direstui, aku tetap tidak mau menjalani lho. Maaf ya mas. Menikah itu harus dengan restu kedua pihak orang tua”, tegas Hera.

“Kali ini aku optimis dik, bapak ibu akan merestui!” jawab Danang mantap. Hera lega tetapi belum yakin. Apakah Danang sudah berkirim surat lebih dulu ke orang tuanya tentang rencananya itu atau dia akan nekat.

“Ya semoga saja ya mas aku sudah lelah. Kalau mas Danang serius  dan sungguh-sungguh aku manut tapi dengan syarat direstui tadi”, kata Hera dengan penuh kesadaran.

Mereka berdua melanjutkan makan. Selang beberapa saat mereka kembali ke kos. Siap-siap lanjut pulang kampung bersama.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Berita Terkait