KOLOM

Garuda, Good and Reliable Under Dutch Administration

  • Whatsapp
Bung Karno menggunakan pesawat Garuda

KEMPALAN: Penyanyi balada Iwan Fals pernah menyindir buruknya pelayanan kereta api melalui lagu ‘’Kereta Tiba Pukul Berapa’’. Sampai stasiun kereta pukul setengah dua, duduk aku menunggu, tanya loket dan penjaga, kereta tiba pukul berapa, biasanya kereta terlambat dua jam mungkin biasa.

Masih mending hanya terlambat satu atau dua jam. Banyak yang mengolok-olok kereta api bisa terlambat sampai hitungan hari. Karena itu kepanjangan PJKA diplesetkan menjadi ‘’Pulang Jumat Kembali Ahad’’.

Itu cerita lama. PJKA sudah berubah dari perusahaan jawatan menjadi perseroan terbatas dan namanya berubah menjadi PT KAI. Dan di bawah direktur utama Ignatius Jonan PT KAI melakukan transformasi besar dan menjadi alat transportasi yang bisa diandalkan. Kondisi gerbong bersih, layanan sangat baik, dan yang paling penting, jadwalnya tepat.

Transformasi kereta api yang luar biasa ini menunjukkan bahwa sebuah perusahaan milik negara yang terlihat ruwet dan nyaris tidak bisa dibenahi, ternyata bisa berbalik 180 derajat menjadi sarana transportasi yang nyaman dan membanggakan. Kuncinya cuma satu, seorang direktur utama yang cakap dan profesional.

Ignatius Jonan membuktikan kapabilitas profesionalnya di balik transformasi fenomenal itu. Atas prestasinya ini Jonan dipromosikan menjadi menteri perhubungan dan kemudian menteri energi dan sumber daya mineral.

PT KAI menjadi contoh sukses penanganan perusahaan transportasi milik negara yang paling membanggakan. Sebaliknya, PT Garuda Indonesia menjadi contoh paling memilukan bagaimana sebuah perusahaan transportasi milik negara dikelola.

Garuda Indonesia sekarang terus-menerus rugi dan menumpuk utang sampai Rp 70 triliun rupiah. Tak pelak, berbagai ledekan pun muncul. Salah satunya memlesetkan ‘’Garuda’’ dengan kepanjangan ‘’Good Anda Reliable Under Dutch Administration’’, atau bagus dan terandalkan di bawah pemerintahan Belanda.

Dirut Garuda Ari Ashkara menggunakan pesawatnya untuk menyelundupkan barang-barang mewah

Ini bukan sekadar candaan kosong, tapi punya dasar yang relevan. Kata orang Jawa ‘’guyon parikeno’’ candaan yang mengena. Candaan ini didasarkan pada kenyataan sebenarnya, karena awalnya Garuda adalah maskapai milik pemerintah Belanda yang beroperasi di Indonesia, yaitu KNILM-IIB.

Setelah Konferensi Meja Bundar dan pengakuan kedaulatan pada 1949 maskapai ini kemudian diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Bung Karno kemudian menamai maskapai seserahan ini dengan Garuda.

Di bawah manajemen pemerintah Indonesia Garuda berkembang bagus. Maskapai ini pernah mendapat julukansebagai maskapai terbesar di belahan bumi bagian selatan” pada era 1970-1980-an, karena banyaknya armada yang dimiliki. Di era 2000-an Garuda juga sempat masuk dalam jajaran 10 besar maskapai terbaik di dunia versi lembaga survei berpengaruh Skytrax.

Tapi, anehnya semua itu bukan berarti Garuda adalah sebuah maskapai yang berhasil dan sehat. Terbukti pada setiap akhir tahun, hampir selalu laporan keuangannya membukukan kerugian. Ada beberapa tahun laba, namun jumlahnya masih kalah jauh dibanding kerugiannya.

Bongkar pasang direksi dan pengelolaan karyawan Garuda pun dilakukan dari dulu hingga kini. Dengan isu yang hampir selalu sama, untuk menyehatkan perusahaan Garuda, maskapai kebanggaan Indonesia, tapi hasilnya tetap jeblok.

Soal ledek-meledek adalah hal yang biasa. Bahkan di kalangan frequent flyer, para pelanggan terbang, banyak beredar joke-joke dan plesetan lucu. Perusahaan penerbangan milik Australia QANTAS dipelesetkan menjadi ‘’Quick And Nasty Terrible Australian Service (pelayanan Australia yang terburu-buru dan brengsek, buruk sekali). Kepanjangan Boeing dipelesetkan menjadi Broken Off Engines In Numerous Gardens (seringkali kejadian mesin rusak).

Tapi, candaan soal Garuda ini tidak main-main. Kabar terbaru yang viral menunjukkan surat terbuka komisaris Garuda Peter Gontha yang meminta supaya gajinya sebagai komisaris tidak usah dibayar dulu, supaya meringankan beban Garuda yang sampai sekarang masih merugi.

Dirut Garuda Emirsyah Satar ditangkap KPK

Gontha tidak mau menerima gaji sebagai komisaris karena prihatin dengan kondisi Garuda. Surat terbuka ini juga menjadi protes terbuka terhadap praktik manajemen Garuda yang dianggapnya tertutup. Kehadiran Gontha sebagai komisaris dirasakannya muspra, tidak ada gunanya, karena direksi tidak pernah mendengar saran dari komisaris dan terkesan tidak membutuhkan adanya komisaris.

Surat terbuka Gontha ini bisa jadi menjadi sindiran kepada komisaris lain di PT Garuda. Salah satunya adalah Yenny Wahid, putri mantan presiden almarhum Abdurrahman Wahid. Ketika Menteri BUMN Erick Thohir mengangkat Yenny sebagai komisaris independen Garuda banyak suara protes karena mempertanyakan kompetensi Yenny.

Kasusnya sama saja dengan K.H Said Agil Siradj yang diangkat menjadi komisaris PT KAI. Kompetensinya dipertanyakan dan diragukan. Bedanya dengan Yenny, Kiai Said lebih beruntung karena PT KAI berkinerja bagus dan selalu untung.

Kompetensi Yenny kembali diungkit karena surat terbuka Peter Gontha itu viral ketika masyarakat masih panas memperbincangkan Abdee Slank sebagai komisaris PT Telkom. Pengangkatan Abdee, dianggap sama dengan pengangkatan Yenny dan Kiai Said, sekadar bagi-bagi jabatan untuk para pendukung Jokowi.

Mengapa PT KAI yang awalnya ‘’nasty and terrible’’ bisa disulap menjadi perusahaan yang profesional dan profitable, sementara Garuda yang sudah punya pangsa bagus malah berubah menjadi ‘’nasty and terrible’’? Jawabnya adalah manajemen yang bersih dan jujur.

Garuda banyak digerogoti kasus korupsi. Mantan Direktur Utama Emirsyah Satar ditangkap KPK pada 2020 karena menerima sogok mark up pembelian pesawat . Emirsyah divonis hukuman delapan tahun penjara dan denda Rp 1 miliar terkait pengadaan pesawat dan mesin pesawat di PT Garuda Indonesia serta tindak pidana pencucian uang.

Garuda juga menjadi sorotan publik ketika Direktur Utama Ari Askhara ketangkap basah menggunakan pesawat Garuda untuk menyelundupkan motor Harley Davidson dan sepeda Brompton dalam penerbangan Paris-Jakarta. Menteri BUMN Erick Thohir langsung memecat Ari Askhara.

Yenny Wahid (kanan) komisaris Garuda dan Said Agil komisaris KAI

Pada masa kepemimpinan Ari Garuda mendapat banyak sorotan karena menerapkan larangan kepada penumpang untuk mengambil foto dan video dalam pesawat. Ini terjadi setelah seorang youtuber mengunggah video seorang pramugari yang menulis menu makanan untuk penumpang dalam secarik kertas. Video ini viral dan pelayanan Garuda banyak mendapat kritik karena tidak profesional.

Pada masa kepemimpinan Ari ini juga muncul ke publik kasus pelecehan seksual dan skandal yang melibatkan direksi terhadap karyawan maupun pramugari. Kasus yang sempat viral ini menguap begitu saja.

Yenny Wahid beralasan bahwa faktor pandemi menjadi penyebab Garuda rugi dan terpuruk. Itu adalah alasan. Kata arek Suroboyo ‘’alas’’ (hutan) itu luas. Tapi ‘’alasan’’ lebih luas karena bisa kemana-mana.

Pandemi adalah faktor eksternal yang memengaruhi semua lini bisnis, termasuk Garuda. Pandemi terjadi dalam dua tahun terakhir. Tapi Garuda sudah merugi selama 10 tahun terakhir. Jadi, tidak ada pandemi pun Garuda rugi, apalagi ada pandemi. Karena itu faktor eksternal tidak bisa dijadikan alasan.

Faktor internallah yang selama ini membuatnya keropos. Budaya organisasi yang tidak profesional dan budaya korupsi yang merajalela menjadikan Garuda nyaris bangkrut.

Mantan wakil ketua KPK Laode M. Syarif mengatakan Garuda bangkrut karena digerogoti korupsi dari dalam. Salah satu kasus yang ditangani KPK adalah mark up pembelian mesin pesawat dari perusahaan asal Inggris, Rolls-Royce pada 2018 yang akhirnya menyeret Dirut Garuda Emirsyah Satar.

Syarif berkata Garuda sebagai perusahaan milik negara seharusnya mencari harga yang lebih murah dari yang ditawarkan penjual. Namun, faktanya perusahaan membeli barang tersebut dengan harga yang sengaja dimahalkan, kemudian kelebihan harganya itu masuk ke kantong pribadi. dalam kasus ini Emirsyah terbukti mengantongi komisi haram sampai Rp 20 miliar. Emirsyah divonis delapan tahun.

Kasus Ari Ashkara yang ketahuan memakai pesawat Garuda untuk menyelundupkan barang-barang mahal juga membuktikan bobroknya budaya perusahaan di tubuh Garuda. Pelecehan dan skadal seks menjadi bukti yang makin membeber borok Garuda.
Daripada bikin malu bangsa, mungkin bagus juga kalau ada ide menjual kembali Garuda kepada Belanda, supaya kembali menjadi ‘’good and reliable’’. (*)

Berita Terkait