Perusahaan Teknologi

Perusahaan Teknologi Digital di China Serentak Menambah Pengeluaran, Apa Alasannya?

  • Whatsapp
Ilustrasi perusahaan Meituan. Meituan adalah perusahaan teknologi terbesar ketiga di China.

JAKARTA-KEMPALAN: China dewasa ini menjelma sebagai negara dengan tingkat penggunaan teknologi tertinggi di dunia. Tidak hanya bertindak sebagai konsumen semata, namun China juga sebagai negara yang memiliki perusahaan teknologi dengan daya inovasi tinggi di dunia.

Baru-baru ini diketahui, bahwa ada beberapa perusahaan di China yang fokus pada pengembangan teknologi digital sedang melakukan penambahan pengeluaran. Ketika ditelisik, ternyata hal ini ditengarai dari kebijakan pemerintah China yang sempat membatasi bisnis digital, seperti bisnis fintech hingga e-commerce.

Pada awal tahun ini, pemerintah China membuat regulasi terkait aturan praktik monopoli di industri digital. Hal ini terlihat dari munculnya sosialisasi dan kampanye “anti-monopoli” yang merebak di permukaan. Tupoksi dari hal adalah untuk membatasi perilaku anti-persaingan dari korporasi besar ini.

Perusahaan besar China, seperti Alibaba Group, Tencent Holdings, hingga Meitun yang sempat ditegur oleh pemerintah, menghimbau agar para investor untuk inklusif dalam memberikan modal dalam bentuk investasi. Dimana skema ini ditujukan untuk memaksimalkan beberapa sektor, seperti komputasi awan, mengemudi otonom, dan artificial intelligence.

Hal-hal seperti ini yang diharapkan dalam secara konkret mengubah sekaligus mentransformasi dimensi digital. Dimana nantinya dapat menyalurkan dan menjembatani modal ke dalam bidang atau sektor teknologi dan infrastruktur yang mendasar.

Perusahaan Meituan adalah korporasi raksasa yang tendensi main aman atau hati-hati. Perusahaan yang bergerak di jasa pengiriman makanan ini, sempat mengalami kemerosotan yang linear dengan angka kerugian yang lumayan. Hal ini kemudian yang menstimulus Meituan untuk bertingkah hati-hati.

Meituan sebagai perusahaan teknologi terbesar ketiga di negara itu akan melaporkan pendapatan kuartal Maret pada hari Jumat. Pendapatan mereka diperkirakan mencapai 35,7 miliar yuan atau setara dengan US$ 5,6 miliar. Sementara itu kerugian bersih diproyeksikan akan meningkat lebih dari dua kali lipat dari kuartal Desember menjadi 5,2 miliar yuan.

Selain adanya regulasi yang mengatur persaingan, fintech, dan pengumpulan data, kabarnya pihak berwenang juga sedang mempertimbangkan untuk mendirikan usaha patungan untuk mengawasi sejumlah besar data pengguna yang dikumpulkan oleh perusahaan swasta. (Rafi Aufa Mawardi)

Berita Terkait