Oleh: Dr. Nawiroh Vera
Dosen Universitas Budi Luhur, Jakarta
KEMPALAN: Idul fitri, di Indonesia dan beberapa negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam sering diidentikkan dengan halal-bihalal dan saling memaafkan. Perayaan idul fitri atau Lebaran merupakan tradisi di seluruh pelosok negeri untuk menyambut hari kemenangan setelah satu bulan penuh berpuasa dibulan Ramadhan. Jika dikaitkan dengan halal-bihalal maka terkandung makna silaturrahim didalamnya. Sedang halal-bihalal adalah satu istilah khas yang digunakan di Indonesia. Jadi makna sebenarnya dari halal-bihalal itu adalah silaturrahim, adapun menurut akar katanya silaturrahim berarti menyambung tali kasih sayang.
Idul fitri terdiri dari dua kata yang berasal dari bahasa Arab yaitu “Id” yang berarti kembali dan “Fithrah” yang berarti kesucian. Idul fitri adalah suatu raga yang kembali ke keadaan semula yaitu kesuciaan, bukankah semua orang yang lahir itu suci? Jika kita renungkan lebih dalam makna kesuciaan itu akan terasa bila kita benar-benar menghayati dan memikirkannya.
Bahwa sebenarnya manusia itu mahluk yang kecil lagi lemah di hadapan Tuhannya. Betapa tidak berdayanya manusia jika tanpa pertolongan Allah, apapun yang didapat didunia ini semua atas izin Allah. Harta, kedudukan dan pangkat, kecantikan, semua milik Allah. Jika Allah menghendaki perubahan pada diri seseorang maka saat itu juga akan terjadi.
Maka sebagai hamba yang lemah dan kecil ini seyogyanya kita selalu mengagungkan Asma Allah. “Allahu Akbar” “Allahu Akbar” Allahu Akbar”, itulah yang selalu dikumandangkan setiap malam Idul fitri, pengakuan hamba yang lemah atas ke Maha Agungan Allah SWT.
Pengakuan atas kebesaran Allah yang benar-benar tertancap di hati nurani menjadikan seseorang hanya bergantung kepada Allah bukan pada unsur-unsur lain. Tiada tempat bergantung, tiada tempat memohon, tiada tempat berharap, Dan tiada tempat mengabdi kecuali hanya panda Allah SWT.
Menurut Quraisy Shihab dalam bukunya “Membumikan Al-quran” (1994) kesucian adalah gabungan dari tiga unsur yaitu: benar, baik, dan indah. Sehingga orang yang beridul-fitri dalam arti “kembali ke kesucian” maka ia akan selalu berbuat yang baik, indah dan benar.
Dengan kesucian jiwanya ia akan memandang segala sesuatu dengan positif, tidak akan mudah berburuk sangka. Ia selalu mencari sisi yang baik, benar, dan indah. Mencari yang indah melahirkan seni, mencari yang baik melahirkan etika, dan mencari yang benar menghasilkan ilmu. Seseorang yang berpandangan demikian maka ia akan menutup mata terhadap kejelekan, kesalahan, dan keburukan orang lain. Kalaupun terlihat ia selalu mencari sisi positif dalam kenegatifan orang lain. Dan kalaupun itu tak ditemukannya, ia akan memberinya maaf bahkan berbuat baik pada yang melakukan kesalahan.
Kalau Allah yang maha dari segala maha itu selalu terbuka pintu maaf bagi siapa saja yang memintanya, alangkah sombongnya manusia kalau ia tak mau memaafkan kesalahan orang lain. Idul-fitri merupakan saat yang tepat bagi setiap muslim dan muslimat untuk saling memaafkan, membuka lembaran baru dan mengisinya dengan sesuatu yang bermanfaat baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi