KEMPALAN: Buaya (crocodylidae) adalah jenis reptil air tawar yang dikenal sebagai predator dan aligator paling kuat dari jenis reptil air tawar lainnya. Semua hewan air tawar atau air payau menjadi santapan utama buaya, mulai dari hewan-hewan bertulang belakang sebangsa ikan, reptil dan mamalia, sampai jenis moluska dan krustasea. Bahkan hewan berkaki empat seperti kambing, rusa, dan sapi pun bisa disantap buaya.
Buaya merupakan hewan purba, yang hanya sedikit mengalami perubahan evolusi sejak zaman dinosaurus jutaan tahun yang lalu. Buaya menjadi raja air karena badannya sangat kuat dan taringnya mematikan.
Hewan-hewan reptil lain akan lari menghindar dari buaya kalau tidak mau disantap untuk makan siang.
Selain kuat dan kejam buaya juga identik dengan hewan yang cerdik dan licin. Ia bisa mengendap dengan diam-diam dan menyergap dengan cepat ke darat. Seekor sapi yang lengah bisa diseret kedalam air oleh buaya lalu diendapkan beberapa hari sebelum disantap.
Buaya punya satu sifat baik, yaitu setia kepada pasangan. Sepanjang hidup buaya hanya punya satu pasangan. Tapi, kata Ustad Abdul Somad, buaya akan setia kepada pasangannya selama dia tinggal di air. Kalau sudah pindah ke darat menjadi buaya darat, ceritanya akan lain lagi.
Cicak atau cecak adalah hewan reptil yang biasa merayap di dinding atau pohon. Cecak berwarna abu-abu, tetapi ada pula yang berwarna coklat kehitam-hitaman. Cicak biasanya berukuran sekitar 10 sentimeter. Cicak bersama dengan tokek dan sebangsanya tergolong ke dalam suku Gekkonidae. Meskipun sama-sama jenis reptil yang merayap dan punya kesamaan bentuk tubuh, tapi cicak bukan lawan yang sepadan bagi buaya. Karena itu kalau ada pertarungan antara cicak lawan buaya tentu pertarungannya akan tidak seimbang dan si cicak akan mudah dilahap buaya.
Pada 2009 Indonesia diramaikan oleh berita mengenai perang cicak vs buaya. Ketika itu Kabareskrim Polri Komjen Susno Duadji bersitegang dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), karena dugaan adanya aliran dana Rp 10 miliar kepada Susno. Aliran dana itu diduga ada kaitannya dengan kasus korupsi Bank Century.
Susno mengibaratkan KPK sebagai cicak yang mau melawan institusi Polri yang powerful yang disebutnya sebagai buaya. Kontan pernyataan cicak vs buaya ini menjadi kontroversi nasional. KPK yang mungil seperti cicak tidak akan bisa melawan Polri yang kuat laksana buaya.
Pernyataan Susno ini memunculkan public outcry, protes publik, karena menganggap ada upaya Polri untuk meremehkan dan melemahkan KPK. Upaya KPK untuk membongkar megaskandal korupsi Bank Century membentur tembok karena dana korupsi itu diduga mengalir sampai jauh sampai ke beberapa tokoh elite politik.
Upaya penyadapan terhadap Susno ditanggapi dengan pernyataan cicak akan melawan buaya. Masyarakat pendukung KPK memprotes dengan berbagai macam demonstrasi dengan poster bertuliskan “Saya cicak, berani melawan buaya”, karena buaya dianggap mau melindungi tikus yang dipersonifikasikan sebagai lambang koruptor.

Presiden SBY ketika itu ikut meramaikan situasi dengan mengatakan KPK tidak boleh dibiarkan too powerful and unchecked, terlalu kuat dan tidak terkontrol. Mungkin SBY mulai merasa gerah dan gatal-gatal karena kasus korupsi Bank Century menyerempet ke sekitar Istana.
KPK yang dibentuk semasa pemerintahan Megawati 2003 tumbuh menjadi superbody yang bergerak cepat menangani kasus-kasus mega-korupsi yang macet. Manuver KPK ini membuat gerah banyak orang. Lalu Antasari Azhar, Ketua KPK ketika itu, ditangkap karena dianggap terlibat dalam skandal seks dan pembunuhan. Hal ini dianggap sebagai kriminalisasi untuk melemahkan KPK.
Pimpinan lain KPK juga mengalami kasus kriminalisasi dengan skala yang berbeda-beda, mulai dari Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah yang dituduh memeras, sampai kepada Abraham Samad dan Bambang Widjojanto yang dituduh memalsukan dokumen dan memberi keterangan palsu di pengadilan. Semua tuduhan itu tidak terbukti dan akhirnya dideponeer, dihentikan.
Masyarakat mencatat semua sebagai tarung cicak vs buaya jilid satu, jilid dua, jilid tiga, dan seterusnya. Penyidikan polisi terhadap ketua KPK Agus Rahardjo atas tuduhan penyalahgunaan wewenang pada 2017 juga disebut sebagai lanjutan dari episode cicak vs buaya.
Konflik itu praktis berakhir pada 2019 ketika jenderal polisi Komjen Firli Bahuri terpilih sebagai ketua KPK. Sang buaya sudah berhasil sepenuhnya menaklukkan si cicak. Bersamaan dengan itu legislatif melakukan amandemen terhadap UU KPK yang menghilangkan beberapa kewenangan KPK yang membuat ngeri para tikus koruptor, yaitu penyadapan dan penggeledahan. Keinginan SBY yang tidak mau melihat KPK too powerful and left unchecked pun keturutan dengan dibentuknya Dewan Pengawas. Kewenangan KPK untuk mengeluarkan SP3 (Surat Penghentian Penyidikan dan Penuntutan) disambut dengan kepalan tangan dan teriakan yes oleh Sjamsul Nursalim dan calon penerima SP3 lainnya.
Penyadapan dan penggeledahan harus seizin Dewan Pengawas. Ini membuat kerja KPK lambat dan target lolos. Kasus Harun Masiku dan hilangnya barang bukti dugaan penggelapan pajak di Kaltim menjadi bukti keterlambatan gerak itu. Meski begitu KPK masih bisa mendapat dua tangkapan kelas kakap, yaitu menteri kelautan dan perikanan Eddy Prabowo dari Gerindra dan menteri sosial Juliari Batubara dari PDIP.
Dua partai penguasa itu dibikin malu oleh gerakan KPK. Dalam kasus korupsi bansos dana haram disebut mengalir sampai jauh ke anak pak lurah, dua anggota DPR dari PDIP, dan sampai ke madame bansos. Semuanya masih misterius sampai sekarang. Bahkan, dua nama yang sebelumnya muncul di BAP mendadak raib.
Ternyata masih banyak cicak-cicak pemberani di KPK yang belum dibersihkan. Mereka disebut, dengan serampangan, sebagai faksi taliban yang diasosiasikan kepada penyidik KPK Novel Baswedan yang mengalami cacat sebelah mata seumur hidup karena serangan fajar orang tidak dikenal dengan air keras.
Faksi taliban ini tetap menjadi nuisance, pengganggu, mirip kerikil dalam sepatu yang membuat jalan tidak nyaman. Harus ada final blow, hantaman terakhir, untuk membersihkan faksi itu. Maka screening dilakukan dengan melakukan tes wawasan kebangsaan sebagai syarat peralihan status seluruh karyawan KPK menjadi pegawai negeri.
Kabar terbaru menyebutkan penyidik senior Novel Baswedan tidak lolos seleksi. Kalau kabar ini benar berarti institusi Polri bisa disebut kebobolan karena Novel adalah mantan anggota Polri lulusan Akpol 1998. Kalau Novel tidak lolos tes bagaimana dengan Stepanus Robin Pattuju, penyidik yang terjerat kasus suap bupati Tanjung Balai. Belum diketahui apakah Stepanus sempat ikut tes atau tidak.

Tes wawasan kebangsaan ini, mungkin, akan menjadi episode terakhir pertarungan cicak vs buaya, dan cerita akan berakhir dengan very very happy ending untuk sang buaya.
KPK praktis akan kehilangan taji dan pemberantasan korupsi akan jalan di tempat kalau bukan malah mundur. Indeks persepsi korupsi Indonesia yang ada di posisi buncit bersama negara seperti Gambia pantas membuat prihatin. Jangan dibandingkan dengan Singapura yang selalu ada di tiga besar, dibanding Timor Leste pun peringkat Indonesia lebih buruk.
Singapura secara konsisten selama 20 tahun terakhir menjadi negara yang paling bersih dari korupsi. Ini salah satu legacy besar dari Lee Kuan Yew yang punya visi jelas mengenai arah pembangunan negerinya. Pada masa-masa awal kemerdekaan 1965 Singapura jorok dan banyak masalah korupsi. Etnis China yang menjadi mayoritas dikenal jorok dan suka berjudi dan menyuap.
Di tangan Lee Kuan Yew dalam tempo 30 tahun Singapura disulap menjadi sentra perdagangan dunia paling bersih dan paling efisien di dunia. Bandar Singapura nomor satu di dunia dan pelabuhan lautnya menjadi salah satu yang paling sibuk di dunia.
Dalam memoar “The Singapore Story: From Third World to First” (2000) Lee mengatakan bahwa satu-satunya kekayaan Singapura adalah penduduknya, tidak ada sumber daya alam, tidak ada hasil bumi. Dengan sumber minim itu dalam 30 tahun Lee mentransformasi negaranya dari negara miskin menjadi negara termakmur di dunia.
Kuncinya adalah pemberantasan korupsi dan keteladanan. Seorang wartawan senior mewawancarai Lee pada 2015. Setelah lima tahun tidak bertemu Lee wartawan senior itu kaget melihat Lee masih mengenakan baju dan celana yang sama dengan yang dipakai lima tahun yang lalu. Barang-barang yang ada di rumah pribadinya tidak ada yang baru dalam lima tahun terakhir. Lee memberi contoh nyata hidup sederhana dan bersih dari korupsi.
Di China pemberantasan korupsi dijalankan dengan keras dan konsisten. Sama dengan Singapura di masa lalu China marak dengan suap dan korupsi. Di bawah Zhu Rongji pemberantasan korupsi dilakukan dengan tegas dan hukuman mati diberlakukan tanpa pandang bulu siapa.
China bertransformasi menjadi negara adidaya baru dunia dan korupsi bisa dikendalikan melalui hukum yang keras. Pada 2012 Zhu Rongji terkenal dengan ungkapannya, “beri saya 100 peti mati, 99 untuk koruptor dan satu untuk saya kalau saya melakukan korupsi”.
Di Indonesia pengadaan peti mati untuk koruptor mungkin malah dikorupsi atau disunat dananya. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi