JAKARTA-KEMPALAN: PT. Kimia Farma Tbk melalui anak perusahaannya, PT Kimia Farma Diagnostik sedang melakukan penyelidikan bersama dengan aparat penegak hukum. Mereka memberikan dukungan penuh pada upaya penyelidikan oknum petugas pelayanan Rapid Test dari Kimia Farma Diagnostik Bandara Kualanamu.
Oknum tersebut diduga menyalahgunakan Rapid Test Antigen dengan memakainya kembali untuk melakukan pengecekan virus corona.
“Kita mendukung sepenuhnya investigasi yang dilakukan oleh pihak berwajib terhadap kasus tersebut. Tindakan yang dilakukan oknum petugas layanan Rapid Test Kimia Farma Diagnostik tersebut sangat bertentangan dengan Standard Operating Procedure (SOP) perusahaan dan meruapakan pelanggaran sangat berat atas tindakan dari oknum petugas layanan Rapid Test tersebut,” ujar Adil Fadhilah Bulqini, Direktur Utama PT Kimia Farma Diagnostika dalam sebuah pernyataan.
Ia juga menambahkan jika terbukti bersalah, maka para oknum petugas layanan Rapid Test tersebut akan diberikan sanksi berat dan tindakan tegas sesuai dengan ketentuan yang berlaku di PT Kimia Farma Diagnostik.
“Kimia Farma memiliki komitmen yang tinggi sebagai BUMN Farmasi terkemuka yang telah berdiri sejak jaman Belanda, untuk memberikan layanan dan produk berkualitas serta terbaik, lebih mendekatkan pelayanan kepada masyarakat serta terus melakukan evaluasi secara menyeluruh dan penguatan monitoring pelaksanaan SOP di lapangan sehingga hal tersebut tidak terulang kembali,” tambah Adil.
Adapun kasus penggunaan Rapid Test Antigen bekas ini telah meraup untung sekitar 1,8 miliar rupiah menurut Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Panca Putra pada Jumat (30/4), seperti yang dikutip dari Antaranews.
Penggunaan antigen bekas ini dilakukan oleh tersangka dengan inisial PM, DP, SP, MR, dan RN yang sudah mereka lakukan semenjak Desember 2020. Ketika penangkapan, kepolisian mengamankan barang bukti sejumlah 149 juta rupiah dari tersangka. (Press Release Kimia Farma/Antaranews, reza m hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi