Oleh: Ferry Is Mirza
Wartawan Utama, Pengurus PWI Jawa Timur
KEMPALAN: Sudah lebih dari 15 abad malam Nuzulul Qur’an dilalui oleh kaum Muslim. Hal ini semestinya menjadi acuan untuk mengaca diri. Sudahkah Alquran menjadi bahan literasi bagi segenap komponen Negeri ?
Nuzulul Qur’an yang secara harfiah berarti turunnya Al Qur’an (kitab suci agama Islam) adalah istilah yang merujuk kepada peristiwa penting penurunan wahyu Allah pertama kepada Nabi dan Rasul terakhir agama Islam Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alayhi Wasallam.
Dalam pembahasan Nuzulul Qur’an menurut berbagai Madzhab kita telah mengetahui bahwa Al-Qur’an diturunkan ke Baitul Izzah secara langsung. Dari Baitul Izzah itulah, Al-Qur’an kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wasallam.
Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah surat Al Alaq ayat 1-5 yang bila diterjemahkan menjadi :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.
Saat wahyu diturunkan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alayhi Wasallam sedang berada di Gua Hira, ketika tiba-tiba Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu tersebut.
Nuzulul Qur’an yang kemudian diperingati oleh sebagian kaum muslimin mengacu kepada tanggal pertama kali Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah di gua Hira. Sebagian besar umat Islam di Indonesia meyakini 17 Ramadhan sebagai tanggal Nuzulul Qur’an.
Nuzulul Qur’an dalam arti turunnya Al-Qur’an kepada Rasulullah secara bertahap atau berangsur-angsur itu memiliki beberapa hikmah sebagai berikut :
1. Meneguhkan hati Rasulullah dan para sahabat
Dakwah Rasulullah pada era Makkiyah penuh dengan tribulasi berupa celaan, cemoohan, siksaan, bahkan upaya pembunuhan. Wahyu yang turun secara bertahap dari waktu ke waktu menguatkan hati Rasulullah dalam menapaki jalan yang sulit dan terjal itu.
Di era Madaniyah, hikmah ini juga terus berlangsung. Ketika hendak menghadapi perang atau kesulitan, Al-Qur’an turun menguatkan Rasulullah dan kaum muslimin generasi pertama.
2 Tantangan dan Mukjizat
Orang-orang musyrik yang berada dalam kesesatan tidak henti-hentinya berupaya melemahkan kaum muslimin. Mereka sering mengajukan pertanyaan yang aneh-aneh dengan maksud melemahkan kaum muslimin.
Pada saat itulah, kaum muslimin ditolong Allah dengan jawaban langsung dariNya melalui wahyu yang turun. Selain itu, Al-Qur’an juga menantang langsung orang-orang kafir untuk membuat sesuatu yang semisal dengan Al-Qur’an.
Walaupun Al-Quran turun berangsur-angsur, tidak seluruhnya, toh mereka tidak mampu menjawab tantangan itu. Ini sekaligus menjadi bukti mukjizat Al-Qur’an yang tak tertandingi oleh siapapun.
3. Memudahkan Hafalan dan Pemahamannya
Dengan turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur, maka para kaum muslimin menjadi lebih mudah menghafalkan dan memahaminya. Terlebih, ketika ayat itu turun dengan latar belakang peristiwa tertentu atau yang diistilahkan dengan asbabun nuzul, maka semakin kuatlah pemahaman para sahabat.
4. Relevan dengan Pentahapan Hukum dan Aplikasinya
Sayyid Quthub menyebut para sahabat dengan “Jailul Qur’anil farid” (generasi qur’ani yang unik). Diantara hal yang membedakan mereka dari generasi lainnya adalah sikap mereka terhadap Al-Qur’an. Begitu ayat turun dan memerintahkan sesuatu, mereka langsung mengerjakannya.
Interaksi mereka dengan Al-Qur’an bagaikan para prajurit yang mendengar intruksi komandannya, langsung dikerjakan segera. Diantara hal yang memudahkan bersegeranya para sahabat dalam menjalankan perintah Al-Qur’an adalah karena Al-Qur’an turun secara bertahap.
5. Menguatkan bahwa Al-Qur’an benar-benar dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Ketika Al-Qur’an turun berangsur-angsur dalam kurun lebih dari 22 tahun, kemudian menjadi rangkaian yang sangat cermat dan penuh makna, indah dan fasih gaya bahasanya, terjalin antara satu ayat dengan ayat lainnya bagaikan untaian mutiara, serta ketiadaan pertentangan di dalamnya, semakin menguatkan bahwa Al-Qur’an benar-benar kalam ilahi, Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.
Demikianlah, sebagian hikmah Nuzulul Qur’an, diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur kepada Rasulullah
Hikmah Nuzulul Quran
Dalam Alquran disebutkan:
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(Qs. Al-‘Alaq:1)
“Bacalah !”, demikian malaikat Jibril mengulang-ulang perintah kepada Baginda Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alayhi Wasallam menyampaikan wahyu Allah Ta’ala. untuk yang pertama kali kepada manusia pilihan, Rasul akhir zaman. Disampaikan pada waktu yang mulia yakni di bulan Ramadhan. Tepat pada malam ke tujuh belas yang dikenal hingga saat ini dengan malam Nuzulul Qur’an.
Alquran adalah mukjizat besar yang Allah berikan kepada Rasulullah petunjuk bagi segenap manusia. Kabar gembira bagi setiap yang beriman. Maka turunnya Alquran merupakan peristiwa penting yang tidak akan lekang oleh zaman.
Ya, bukan sekedar membaca. Tapi juga memahami bahkan mengamalkan setiap yang terkandung dalam ayat-ayatNya. Tersebab Alquran adalah mukjizat, maka sudah pasti kebaikan demi kebaikan yang akan tercurah darinya. Tidak ada keraguan lagi untuk itu.
Karenanya, di momen Nuzulul Quran ini mari kita sejenak merenungi carut-marut kondisi sosial maupun perpolitikan Bangsa. Karena sangat mungkin, kegaduhan yang ada adalah akibat kita lupa membaca, memahami dan mengamalkan isi Alquran. Sehingga berkah dan rahmat tidak tercurah bagi negeri tercinta.
Semoga, Nuzulul Qur’an tahun ini tidak sekedar diperingati sebatas seremoni. Melainkan menjadi sarana untuk bermuhasabah bagi segenap komponen negeri. Bahwa dalam peristiwa turunnya Alquran, ada titah Illahi yang harus ditaati. Yakni berkhidmat sebagai hamba, kaffah dalam menjalankan syari’atNya. Sehingga Baldatun Thayibatun wa Rabbul Ghafur bisa terwujud di Bumi Pertiwi NKRI. Aamiin yaa rabbal alaamiin. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi