Senin, 18 Mei 2026, pukul : 09:55 WIB
Surabaya
--°C

Tabah Sampai Akhir

KEMPALAN: Motto itu tiba-tiba saja viral setelah KRI Nanggala resmi dinyatakan tenggelam dan seluruh awaknya dinyatakan gugur. Nanggala berada dalam patroli abadi, On Eternal Patrol.

Kisahnya menggetarkan dunia meskipun detail perjuangan pada detik-detik terakhir masih belum semuanya terungkap. Jargon Tabah Sampai Akhir seperti sebuah ungkapan perpisahan yang ngelangut pedih. Ada rasa kesetiaan yang total terhadap pengabdian, ada rasa keteguhan yang tidak kenal menyerah terhadap segala kesulitan dan kekurangan, tapi juga tersirat kepasrahan yang total terhadap penderitaan.

Ungkapan semacam ini sudah sering kita dengar tapi tidak banyak yang tahu bahwa itu adalah motto Korps Hiu Kencana yang sudah dipakai sejak 1959. Ungkapan semacam itu terdengar jargonis dan sangat khas Orde Lama dan Orde Baru. Sangat khas Jawa karena terasa sekali ketaatan dan pengabdian tanpa protes terhadap keadaan. Seperti filosofi Jawa yang nerima ing pandum, menerima apa yang menjadi haknya, menjalani apa yang menjadi tugasnya sebagai bagian dari lakon hidup.

Motto ini tersirat dalam Brevet Hiu Kencana yang disematkan saat tradisi pengangkatan Warga Kehormatan Kapal Selam.
Dalam Brevet Hiu Kencana itu, tergambar dua hiu berhadapan yang berarti tekad mempertahankan kehadiran kapal selam di lautan sebagai bentuk kemampuan dan supremasi di laut. Ada lambang periskop yang menyimbolkan sikap selalu waspada mengamati setiap jengkal perairan negara. Kemudian gambar tujuh gelombang mewakili samudera di dunia, serta lima buah garis insang pada leher hiu pertanda Warga Hiu Kencana bernapas dengan lima azas dalam Pancasila.
Semua tugas akan dilaksanakan dengan penuh keberanian dan ketabahan serta sanggup mengemban tugas sampai titik darah penghabisan.

Selama ini yang lebih populer dan sering terdengar adalah motto TNI Angkatan Laut, Jalesveva Jayamahe, Di Laut Kita Jaya, yang diambil dari tradisi angkatan laut zaman Majapahit yang menguasai perairan Nusantara pada abad ke-14. Kekuatan angkatan laut Majapahit menjadi kekuatan regional yang disegani dengan wilayah kekuasaan yang membentang sampai ke Semenanjung Malaya dan  Tumasek, wilayah Singapura sekarang. Nama besar Majapahit dikenal dan dihormati di mancanegara sehingga Kaisar Yongle dari Dinasti Ming China menugaskan Laksamana Cheng Ho untuk melakukan ekspedisi muhibah ke Nusantara pada 1405. Ini adalah ekspedisi laut terbesar dalam sejarah pelayaran dunia. Cheng Ho membawa 27 ribu awak kapal yang ditampung dalam aramada sebanyak 300 kapal besar dan kecil, mulai dari kapal bertiang layar tiga hingga bertiang layar sembilan. Kapal terbesar mempunyai panjang sekitar 400 kaki atau 120 meter dan lebar 160 kaki atau 50 meter, dengan rangka layar kapal terdiri dari bambu Tiongkok.

Dengan kekuatan raksasa sebesar itu Cheng Ho bisa memimpin misi militer yang perkasa. Tapi misi Cheng Ho ini tidak punya tujuan militer dan lebih fokus pada misi budaya. Nama besar Majapahit menjadi daya tarik bagi China untuk mengirim misi damai itu.

Dr Tan Ta Sen, presiden International Cheng He Society di Singapura menulis penelitian yang detail mengenai ekspedisi Cheng Ho ke Nusantara dalam buku “Cheng Ho, Penyebar Islam dari China ke Nusantara” (Penerbit Kompas, 2010). Disebutkan bahwa dalam ekspedisi itu Laksamana Cheng membawa misi budaya dan dakwah dengan menyebarkan Islam ke wilayah Nusantara dan Asia Tenggara. Dakwah dilalukan dengan mengajarkan dan memperkenalkan Islam kepada penduduk lokal. Beberapa awak kapal terpilih kemudian menetap di beberapa wilayah Nusantara untuk menyebarkan Islam. Dari proses itulah terjadi akulturasi budaya Islam, China, Jawa, dan Nusantara.

Ekspedisi Cheng Ho ke Nusantara

Ekspedisi Cheng Ho adalah ekspedisi global yang menjangkau seluruh perairan Asia dan semenanjung Afrika. Ini adalah ekspedisi damai yang tidak punya muatan misi kolonialisme maupun imperialisme seperti yang dilakukan oleh ekspedisi Eropa. Ekspedisi Columbus ke Amerika pada 1492 hanya membawa tiga kapal kecil Santa Maria, Pinta, dan Nina. Tidak ada apa-apanya dibanding armada Cheng Ho. Tapi Columbus langsung mengkalim sebagai penemu dunia baru dan kemudian bangsa Eropa menguasai wilayah itu.

Cheng Ho bisa menjangkau seluruh dunia dan menguasai banyak wilayah. Tapi, hal itu tidak dilakukan. Hal ini menyisakan pertanyaan besar dalam sejarah. Dr Tan mengambil kesimpulan bahwa China memang bukan kekuatan imperialis seperti Eropa karena China tidak pernah punya wilayah jajahan diluar wilayah China. Hal ini beda dengan negara-negara Eropa yang berlomba-lomba mencari negara jajahan di Asia, Afrika, dan Amerika.

Kondisi geopolitik mutakhir sekarang berubah. Kolonialisme Eropa berakhir setelah Perang Dunia Kedua, 1945. Amerika Serikat menjadi penguasa dunia bersama Uni Soviet di era Perang Dingin sampai 1990. Setelah Soviet ambruk giliran Amerika menjadi penguasa tunggal dunia.

Memasuki dekade kedua milenium kedua sekarang ini tanda-tanda penurunan kekuatan ekonomi-politik mulai makin terlihat. Krisis pandemi internasional membuktikan bahwa Amerika gagal menjadi pemimpin internasional dalam penanganan pandemi global. Amerika justru menjadi negara paling brengsek dalam penanganan pandemi, terbukti sampai sekarang Amerika menjadi negara dengan kasus tertinggi dan masih jauh dari tanda-tanda pemulihan.
Sebaliknya, China memanfaatkan krisis ini untuk memainkan perannya sebagai pemimpin dunia internasional dengan terlebih dahulu membereskan urusan pandemi di dalam negeri dan kemudian, dengan langkah cepat, menghasilkan vaksin yang didistribusikan ke seluruh dunia. Kasus pandemi global menunjukkan bahwa China sudah semakin dekat untuk menyalip Amerika dan mengambil alih kepemimpinan dunia.

Apakah China akan menjadi imperialis ala Eropa dan Amerika di masa lalu? Tidak. Sejarah sudah menunjukkan bahwa China bukan kolonis dan imperialis ala Eropa dan Amerika. Tetapi, jangan salah, karena tidak berarti bahwa China tidak punya ambisi menguasai dunia.

Martin Jaques, profesor geostrategi dari Inggris dalam bukunya “When China Rules the World: The End of the Western World and the Birth of a New Global Order” (2009) menegaskan bahwa  secara filosofis China mempunyai cita-cita menjadi penjadi penguasa tunggal dunia. China bukan sekadar sebuah nation-state, negara-bangsa, tapi sebuah peradaban yang superior dari peradaban dunia lainnya. Filsafat konfusianisme menyebut China sebagai pusat dunia dan negara-negara diluar China sebagai bagian dari pusat dunia. Bangsa China menganggap diri sebagai bangsa unggul dan diaspora China di seluruh dunia adalah bagian dari bangsa China.
Sebagai pusat dunia, China berkewajiban menyejahterakan seluruh dunia. Komunisme China sekarang ini adalah manifestasi konfusianisme modern untuk menyejahterakan seluruh dunia melalui politik ekspansionisme.

Kapal Perang Amerika di Laut China Selatan

Jalan politik China untuk menjadi penguasa dunia sudah semakin lempang dengan melemahnya Amerika akibat bencana pandemi. Salah satu kunci utama yang sedang direbut dengan sengit oleh China adalah penguasaan terhadap jalur Laut China Selatan. Jika wilayah ini bisa direbut oleh China maka sejarah akan berbalik kepada China untuk menjadi penguasa dunia.

Jalur Laut China Selatan akan membawa China menguasai jalur Samudera hindia dan Pasifik yang menjadi jalur 80 persen perdagangan dunia. Laut China Selatan ibarat kerongkong tenggorokan bagi China. Sekali laut itu dikuasi China maka sejarah akan berulang seperti ketika Amerika menguasai Laut Karibia pada 1914 setelah mengalahkan Spanyol. Setelah kemenangan itu Amerika membangun Terusan Panama yang menjadi tenggorokan menuju Samudera Atlantik dan Pasifik.

Laut China Selatan akan menjadi Laut Karibia baru bagi China untuk mendominasi dunia. Karena itu Amerika akan melawan habis-habisan supaya China tidak bisa menguasai Laut China Selatan.
Perang tanding ini sangat dahsyat karena melibatkan dua kekuatan raksasa dan banyak negara di sekitar Laut China Selatan yang sama-sama mengklaim sebagai pemilik pulau-pulau di wilayah itu. Robert Kaplan menyebut Laut China Selatan sebagai “Asia’s Cauldron” (2014), Kawah Candradimuka yang menentukan masa depan stabilitas dunia.

China berebut wilayah itu dengan Taiwan, Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Amerika dan Australia mengawasi dengan waspada. Indonesia tidak secara langsung terlibat dalam perebutan wilayah, tapi sebagai negara dengan wilayah perairan terbesar di Asia Indonesia menjadi bagian tak terpisahkan dari konflik ini. Indonesia berada pada pusat pusaran konflik perebutan kekuasaan global.

Presiden Jokowi tidak menampakkan antusiasme yang serius dalam konflik ini. Wawasan geopolitiknya tidak cukup mumpuni untuk melihat posisi strategis Indonesia dalam menentukan masa depan peradaban dunia.

Ungkapan untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia yang diucapkan dalam kampanye, rupanya hanya sekadar layanan bibir saja. Kasus tenggelamnya KRI Nanggala menunjukkan betapa memprihatinkannya kekuatan Angkatan Laut kita. Betapa miskinnya wawasan Nusantara kelautan kita.

Jargon Tabah Sampai Akhir menjadi ironis, karena sebagai negara maritim yang punya potensi hebat, kita harus selalu nerima ing pandum, sak derma ngelakoni, pasrah dan tabah sampai akhir. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.