AUCKLAND-KEMPALAN: Lumba-lumba Māui adalah hewan endemik yang hanya ditemukan di lepas pantai barat Pulau Utara Selandia Baru, dan sekarang menjadi salah satu subspesies lumba-lumba paling langka dan terkecil didunia.
Dengan hanya 63 lumba-lumba yang tersisa di lepas pantai barat Selandia Baru, perusahaan perikanan Sanford, Moana, Pemerintah Selandia Baru, WWF-Selandia Baru, ilmuwan, dan pakar teknologi telah bergabung untuk mendanai dan mengembangkan drone yang mampu menemukan dan melacak lumba-lumba Māui menggunakan kecerdasan buatan.
Mereka berharap dapat mengumpulkan data tentang habitat, ukuran populasi, dan perilaku lumba-lumba, yang kemudian dapat digunakan untuk menginformasikan perubahan kebijakan pemerintah untuk menghentikan penurunan populasi.

Melansir dari Aljazeera, dikembangkan oleh organisasi nirlaba MĀUI63, pengujian awal yang dimulai pada 2019 menunjukkan teknologi AI dapat membedakan lumba-lumba Māui dari spesies lain dengan akurasi lebih dari 90 persen. Terbang di ketinggian 120 meter (393 kaki) dengan kamera zoom optik 50x, drone dapat menemukan, mengikuti, dan merekam film hingga enam jam.
Uji coba pertama dimulai pada Januari 2021. Penerbangan selama beberapa bulan mendatang akan digunakan untuk memberikan wawasan tentang habitat dan perilaku mamalia.
Proyek ini dimulai pada 2018 ketika ilmuwan kelautan University of Auckland Rochelle Constantine menyadari para peneliti tidak lagi dapat melacak lumba-lumba setelah sebuah pesawat yang digunakan untuk menyelesaikan survei tahunan dijual ke Australia.
Alasan memilih drone karena peaawat dan perahu terlalu mahal dan tidak efisien, dan tidak ada yang bisa mengumpulkan data di musim dingin karena kondisi cuaca. Drone akan lebih murah, lebih aman bagi manusia dan ekosistem, dan – secara teori – data yang mereka kumpulkan bisa lebih luas. (Aljazeera, Abdul Manaf Farid)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi