Sabtu, 14 Maret 2026, pukul : 12:06 WIB
Surabaya
--°C

KRI Nanggala (Bangga dan Malu Aku Jadi Orang Indonesia)

KEMPALAN: Malu Aku Jadi Orang Indonesia:
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga,
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa,
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya,
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia,
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia,
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda,
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya,
Kagum dia pada revolusi Indonesia,
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama,
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya Dadaku busung jadi anak Indonesia,
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University,
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army,
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini,
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak,
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs lyses dan Mesopotamia,
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala,
Malu aku jadi orang Indonesia
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja sementara mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
kabarnya dengan sepotong SK
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pertunjukan teror penonton antarkota cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
yang disetujui bersama, Di negeriku rupanya sudah diputuskan
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
Nipah, Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan
yang merupakan dusta terang-terangan
di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs lyses dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.(Taufiq Ismail, 1998).
* * *

Penyair Taufiq Ismail, Malu Aku Jadi Orang Indonesia.

Kalau penyair Taufiq Ismail mengupdate puisi itu sekarang, tentu deretan cerita yang membuat malu itu akan menjadi setebal ensiklopedia, karena hal-hal memalukan itu terjadi nyaris setiap hari setelah 20 tahun puisi itu dibuat.

Korupsi masih merajalela. Uang bantuan sosial untuk korban pandemi ditilap dan disunat, menteri kelautan menjualbelikan izin ekspor hasil laut, ada anggota DPR jadi calo kasus suap penyidik KPK.

Orang-orang elite kelas dewa-dewa menerima aliran duit sunatan korban pandemi, mulai dari anggota DPR, anak Pak Lurah, sampai Madame Bansos. Tapi para dewa itu tidak tersentuh, mereka The Untouchables.

Menteri kelautan harusnya menjadikan laut sebagai sumber devisa yang membanggakan. Indonesia adalah negeri maritim. Wilayahnya delapan puluh persen berada di laut, garis pantainya membentang seukuran Eropa. Katanya digembar-gemborkan akan menjadi poros maritim internasional, tapi praktiknya menjadi boros maritim internasional. Hasil laut dijarah dari luar dan dalam negeri. Malah menteri kelautan pilihan Prabowo Subianto sendiri yang menjadi pencoleng izin ekspor benur. Menteri-menteri memamerkan gaya hidup yang memuakkan, minum wine, mengoleksi perempuan-perempuan cantik, dan menyewa jet pribadi untuk pelesiran.

Gubernur dan istrinya berjamaah korupsi. Kepala daerah dan anaknya mencuri uang bantuan korban pandemi. Anggota DPR yang terhormat ikut menikmati sunatan uang bansos. Dan sekarang ada anggota DPR yang menjadi markus, makelar kakus, lebih busuk dari makelar kasus. Anggota DPR itu membidangi hukum, dan ternyata dia mengangkangi hukum. Dia pertemukan penyidik KPK dengan terduga koruptor di rumah dinasnya, lalu cincailah, satu setengah miliar meluncur untuk uang pelicin dan penghapus kasus. Ketika makelaran kakus ini terendus si anggota DPR bilang, Bismillah, Alfatihah.

Anak pejabat dan anak para dirjen diperlakukan seperti anak presiden. Sekarang, anak dan menantu presiden dijadikan walikota. Partai-partai politik berebut mendukung. Karena tidak ada lagi yang menjadi lawan dibikinlah lawan dagelan supaya tidak malu melawan bumbung kosong.

Sang anak mbarep menjadi putra mahkota. Belum genap sebulan jadi walikota para petinggi partai sudah berebutan sowan dan meminang untuk menjadi calon gubernur ibukota.
Seperti Ande-Ande Lumut yang ngunggah-unggahi, sang putra raja cukup duduk manis dan para pelamar antre menemuinya.

Akhir masa jabatan masih beberapa tahun lagi. Tapi berbagai skenario sudah disiapkan jauh-jauh hari. Bila perlu tambah satu periode lagi. Bila gagal, coba-coba dorong untuk mencalonkan sang istri. Oposisi sudah dikuliti dan dihabisi. Ada yang berteriak KAMI, Koalisi Aksi Menyelematkan Indonesia, sempat lantang beberapa saat, lalu menghilang dalam sekejap, beberapa aktivisnya dibui dan dilandrat, sisanya pun hanya bisa tiarap. Benteng-benteng terakhir perlawanan sudah diruntuhkan. HTI dan FPI dibubarkan, Habib Rizieq diadili dalam sepi sendirian.

Keluarga awak kapal Nanggala.

Kabar duka muncul dari samudera. KRI Nanggala hilang dalam tugas Missing In Action di kedalaman 700 meter di dasar samudera. Awak kapal 53 orang itu manusia pemberani yang perkasa. Tidak mudah punya nyali untuk berani menyelam di kedalaman dengan taruhan nyawa setiap saat seperti mereka. Bangga kita terhadap kepahlawanan mereka. Di dalam kapal selam yang umurnya sudah terlalu uzur tua dan teknologi yang sudah ketinggalan zaman para awak itu berbakti kepada pertiwi dengan rela hati, meninggalkan istri dan anak yang merengek berfirasat tak merelakan bapaknya pergi.

Mata seluruh dunia sekarang tertuju ke Indonesia. Sepuluh negara bersama-sama membantu mencari keberadaan Nanggala, berburu dengan waktu yang makin tidak menentu. Detik-detik semakin dekat ketika cadangan oksigen habis dan Naggala akan remuk ditelan keganasan dasar samudera.

Indonesia negara maritim, negara lautan. nenek moyangku seorang pelaut
gemar mengarung luas samudra,
menerjang ombak tiada takut
menempuh badai sudah biasa. Begitu lagu yang kita hafalkan di sekolah. Tapi kali ini ombak dan badai yang dihadapi bukan biasa tapi luar biasa karena ada di kedalaman yang tidak terjangkau. Kita, bangsa maritim yang di masa lalu jaya, tidak punya cukup alat untuk menyelamatkan prajurit-prajurit kita.
Untuk apa membangun ibukota baru, untuk apa menyalonkan diri menjadi tuan rumah Olimpiade, membeli kebanggaan dengan harga mahal, sementara untuk operasi penyelamatan itu kita menengadahkan tangan mengandalkan belas kasihan.
Bangga dan malu aku jadi orang Indonesia. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.