Menu

Mode Gelap

Kempalanart · 25 Apr 2021 15:15 WIB ·

Ertugrul: Habis Film Seri, Terbitlah Buku


					Ertugrul: Habis Film Seri, Terbitlah Buku Perbesar

Judul buku: Ertugrul
Penulis: Muhammad Khulaif Ats-Tsunayyan
Penerjemah: Masturi Irham dan Ahmad Atabik
Peresensi: Reza Maulana Hikam
Penerbit: Al-Kautsar
Tebal buku: xxvi+374 Halaman
Tahun terbit: 2021

KEMPALAN: Nama sebuah dinasti atau kerajaan seringkali memakai nama pendiri dinasti tersebut, maka jika berbicara mengenai Dinasti Utsmaniyah, maka Utsman I Ghazi, the Bone-Breaker adalah pendirinya. Namun banyak yang melupakan peletak dasar atau peletak batu pertama dari Kerajaan Utsmaniyah yang berasal dari daerah Suku Qayigh. Terkadang kita tidak mendengar nama Ertugrul, yang pada awalnya membawa Suku Qayigh masuk ke daerah Kesultanan Saljuk Turki yang menguasai Anatolia. Tanpa inisiatif Ertugrul untuk bermigrasi, mungkin tidak ada imperium besar bernama Utsmaniyah.

Ertugrul salah-satu figur sohor Suku Qayigh. Suku ini dipimpin oleh ayah Ertugrul, Sulaiman Shah. Ertugrul berinisiatif memimpin migrasi 400 orang menuju wilayah Sogut di Kesultanan Saljuk Turki, berbatasan dengan Kekaisaran Bizantium. Sedangkan saudaranya, Gundoglu, tetap bertahan di lokasi awal Suku Qayigh. Gundoglu segera dilupakan oleh sejarah, sebaliknya keturunan Ertugrul sukses membangun imperium yang bertahan hingga 1924.

Buku ini dimulai dengan falsafah kehidupan Suku Qayigh yakni kabilah dimana mereka hanya tunduk kepada kepala kabilah, mereka adalah bangsa pengembara yang menguasai stepa layaknya bangsa Mongol. Ertugrul terlahir dari Suku Qayigh yang masuk ke dalam Klan Oghuz yang lebih besar berisikan banyak suku. Penulis menjelaskan genealogi dari Ertugrul mulai dari nenek moyangnya bahkan hingga anaknya, Al-Ghazi Utsman bin Ertugrul.

Utsman adalah pejuang yang tangguh, bahkan dalam beberapa literatur ia disebut sebagai bone-breaker (pematah tulang) dan aliansi yang dibangun oleh ayahnya juga turun di masa Utsman. Selama hidupnya, sang pendiri dinasti ini memperluas kekuasaannya dengan mengumpulkan dan mendistribusikan komandan hebat yang ikut bersamanya, salah satunya adalah sang anak, Orkhan bin Utsman.

Usai masa Utsman, tampuk kekuasaan turun ke anaknya, Orkhan yang melanjutkan ekspansinya hingga mendapatkan Bursa agar ayahnya bisa dimakamkan di kota tersebut. Penaklukan Bursa adalah penanda kemenangan Kekaisaran Utsmaniyah menurut Ats-Tsunayyan. Hal ini juga dijelaskan oleh Herbert Adam Gibbons dalam bukunya Jejak Awal Khilafah Utsmani yang membahas pemimpin dinasti tersebut dari masa Utsman hingga Bayazid. Bahkan disampaikan oleh Gibbons bahwa kemampuan terbesar Utsman bukan karena ia mengambil seluruh penaklukan untuk dirinya, melainkan menugaskan orang yang berkemampuan untuk melakukannya, salah satunya adalah Orkhan.

Kemenangan Orkhan di Bursa membuka jalan Utsmaniyah untuk memperluas wilayahnya hingga dilanjutkan oleh cucu Utsman, Murad I. Anak Orkhan tersebut sebenarnya bukanlah putra mahkota, namun kakaknya, Sulaiman, wafat ketika berperang, sehingga Orkhan mengangkat Murad I sebagai pemimpin selanjutnya dari kekaisaran ayahnya.

Murad I mampu mendesak dan membangun aliansi dengan Kekaisaran Bizantium maupun Kerajaan Bulgaria, namun kedua kerajaan non-Muslim itu selalu berusaha memperlemah kekuasaan Utsmaniyah supaya tidak mengancam kedaulatan wilayah mereka.

Satu hal yang membedakan Utsmaniyah dengan dinasti Muslim lainnya seperti Umayyah, Abbasiyah atau Seljuk adalah keberlanjutan ekspansi yang dilakukan turun-temurun. Ekspansi ini, menurut Erhan Afyoncu dalam bukunya Ottoman Empire Unveiled, tidak selalu dilakukan dengan peperangan. Banyak pula wilayah yang ditaklukan Utsmani karena penerapan sistem Jizyah untuk non-Muslim yang tidak membebani penduduk daerah taklukan ketimbang ketika dikuasai oleh musuh Utsmaniyah, bahkan rakyat Serbia mengundang Utsmaniyah untuk menaklukan kerajaannya agar terbebas dari despot mereka.

Pada masa anak Murad I, Bayazid, kekuasaan Utsmaniyah masuk ke dataran Eropa Tenggara yang mana Serbia menjadi kedatuan dari kerajaan tersebut. Pemimpinnya, Stefan Lazarevic, tetap menjadi pangeran berdaulat yang harus datang apabila Dinasti Utsmaniyah memintanya untuk membantu dalam peperangan.

Sistem penaklukan yang tidak terikat ini membuat kekuasaan Utsmani terus berkembang hingga masa Sulaiman Al-Qanuni (Sulaiman the Magnificent) yang mencakup Serbia, Bulgaria, hingga Hongaria. Meskipun nama Mehmet II termaktub sebagai penakluk Konstantinopel (yang nanti berubah menjadi Istanbul), namun Utsmaniyah mencapai puncak kejayaannya pada masa Sulaiman the Magnificent yang berusaha menaklukan Wina (Austria) namun gagal.

Karya Ats Tsunayyan ini merupakan penulisan sejarah Utsmaniyah yang berbeda karena memposisikan cerita awal dari Ertugrul yang memang memberi landasan kekuasaan Suku Qayigh di Anatolia, ketika ia bermigrasi ke sana. Dari wilayah tersebutlah, yang berbatasan dengan Bizantium, dinasti Utsmaniyah muncul dan berkembang sekaligus bertahan hingga ratusan tahun lamanya. Meskipun dihapuskan pada tahun 1924, nampaknya impian dan kenangan mengenai kekhalifahan itu masih bertahan hingga sekarang.

Buku ini tersedia dalam dua format, softcover (SC) dengan harga 95.000 dan hardcover (HC) 190.000, perbedaan juga terletak pada bagian dalam buku yang mana HC dalamnya berwarna, sementara SC dalamnya hitam putih. (*)

Artikel ini telah dibaca 93 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Festival Film Bandung Jadi Ajang Promosi Daerah

24 Oktober 2021 - 16:15 WIB

Teori yang Menjadi Dogma

24 Oktober 2021 - 14:33 WIB

Kunker ke Kuningan, Ketua DPD RI Kunjungi Petilasan Prabu Siliwangi

24 Oktober 2021 - 06:18 WIB

”Di Rumah Aja” Single Hits Yassin Bintang Family untuk Keluarga Indonesia

23 Oktober 2021 - 10:58 WIB

Wow! Petisi untuk Proses Hukum Rachel Vennya Tembus 13 Ribu

21 Oktober 2021 - 21:00 WIB

Keren! Ini Tampilan Perdana Optimus Prime di Reboot Transformers

21 Oktober 2021 - 16:00 WIB

Trending di Kempalanart