Pengirim:
Nasmay L. Anas
KEMPALAN: Presiden Soekarno pernah ‘menyerang’ ulama besar di masanya, Buya Hamka.
Bersama Mohammad Yamin, Soekarno
melalui headline beberapa media cetak
asuhan Pramoedya Ananta Toer
melakukan pembunuhan karakter
atas diri Hamka, namun tak sedikit pun
fokus Hamka bergeser dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar..
Sebab terlalu kuatnya karakter Hamka, di tahun 1964, Soekarno tak sungkan-sungkan menjebloskan ulama besar asal Minangkabau ini ke dalam penjara tanpa melewati persidangan..
2 tahun 4 bulan lamanya Hamka dipenjara, apakah lantas ia bersedih,
mendendam dan mengutuk-ngutuk
betapa jahatnya Soekarno padanya..?
Tidak..!
Hamka justru bersyukur bisa masuk
penjara..
Di dalam terali besi itu ia punya waktu yang banyak untuk menyelesaikan 30 juz
Tafsir Alqur’an yang dikenal dengan Tafsir Al-Azhar..
Lantas, bagaimana dengan ketiga tokoh
tadi..?
Pramoedya, Mohammad Yamin
dan Soekarno..?
Ternyata Allah masih sayang pada mereka, Pramoedya, Mohammad Yamin
dan Soekarno..
Kekejian mereka pada Buya Hamka tidak
harus diselesaikan di akhirat..
Allah mengizinkan masalah ini
diselesaikan di dunia..
Di usia senja, Pramoedya mengakui
kesalahannya di masa lalu. Ia mengirim
putrinya, Astuti dengan calon suaminya, Daniel yang mualaf untuk belajar Islam pada Hamka sebelum mereka menjadi suami istri..
Apakah Hamka menolak..?
Tidak..!
Justru dengan hati yang sangat lapang
Hamka mengajarkan ilmu agama pada
anak dan calon menantu Pramoedya
tanpa sedikit pun mengungkit-ungkit
kekejaman Pramoedya..
Astuti, anak perempuan Pramoedya pun
menangis haru melihat kebesaran
hati ulama besar ini..
Hamka juga yang menjadi saksi atas
pernikahan anak Pramoedya..
Saat Mohammad Yamin sakit keras, ia
meminta orang terdekatnya untuk
memanggil Hamka..
Dengan segala kerendahan hati dan
penyesalannya pada ulama besar ini,
Mohammad Yamin meminta maaf atas
segala kesalahannya..
Dalam kesempatan nafas terakhirnya,
tokoh besar Indonesia, Mohammad Yamin pun meninggal dunia
dengan ucapan kalimat-kalimat tauhid
yang dituntun oleh Hamka..
Begitu juga dengan Soekarno, Hamka
justru berterima kasih dengan hadiah
penjara yang diberikan padanya
karena berhasil menulis buku yang
menjadi dasar umat Islam dalam
menafsirkan Alqur’an..
Tak ada marah, tak ada dendam, ia malah merindukan tokoh besar Indonesia, proklamator bangsa karena telah membuat ujian hidup sang Buya menjadi semakin berliku namun sangat indah..
Hamka ingin berterima kasih untuk
itu semua..
Tanggal 16 Juni 1970, seorang ajudan
Soekarno datang ke rumah Hamka
membawa secarik kertas bertuliskan
pendek :
“Bila aku mati kelak, aku minta kesediaan Hamka untuk menjadi
imam shalat jenazahku..”
Hamka langsung bertanya pada sang
ajudan..
Di mana..?
Di mana beliau sekarang..?
Dengan pelan dijawab :
“Bapak sudah wafat di RSPAD, jenazahnya sedang dibawa ke
Wisma Yoso..”
Mata sang Buya menjadi sayu dan
berkaca-kaca..
Rasa rindunya ingin bertemu dengan
tokoh besar negeri ini malah berhadapan dengan tubuh yang kaku tanpa bisa berbicara..
Hanya keikhlasan dan pemberian maaf yang bisa diberikan Hamka pada Soekarno..
Untaian do’a yang lembut dan tulus
dipanjatkannya saat menjadi Imam Shalat Jenazah Presiden Pertama Indonesia..
Terima kasih Buya, atas pembelajaran kehidupan dari cerita hidupmu..
“Berpolitiklah Tanpa Kebencian”
(Moh. Natsir )

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi