Senin, 25 Mei 2026, pukul : 01:38 WIB
Surabaya
--°C

Tobat Itu Pintu yang Boleh Dimasuki Saban Waktu

KEMPALAN: Tobat pada dasarnya mempunyai sebab-sebab, bagian-bagian yang spesifik dengan struktur tertib, yang menggugah kesadaran hati nurani dari kealpaan seorang hamba.

Introspeksi diri akan keburukan perilaku sampai pada hal-hal yang berkaitan dengan etika ruhani di hadapan al-Haq.

Tobat identik dengan “pintu” Allah, dimana setiap hamba berhak mengetuknya, seburuk apapun yang dilakukan.

Tobat merupakan pintu masuk bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri pada Allah Azza wa Jalla. Di dalam tobat ada penyesalan atas perbuatan dosa di masa lalu, dan ikhtiar untuk berbuat baik di masa kini dan akan datang.

Tobat berarti kembali dari perbuatan-perbuatan tercela menuju pada tingkah laku terpuji dalam syariat. Tobat merupakan tahap awal bagi penempuh jalan spiritual.

BACA JUGA  Mengakhiri Paradoks Ekonomi Dengan Akselerasi Pemerataan (Bag-2)

Hakikat tobat secara sederhana bisa dimaknai “kembali”, yaitu kembali dari sesuatu yang dicela oleh syariat menuju sesuatu yang dipuji syariat.

Para penempuh jalan tobat, telah melepaskan diri dari ikatan kemaksiatan menuju jalan lurus, berharap sampai pada keabadiaan hakiki, sebagaimana petunjuk al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya.

“Penyesalan itulah tobat,” sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wassallam, sebagaimana riwayat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhum (bisa dijumpai dalam Musnad-nya Imam Ahmad).

Tobat dianggap memenuhi kriteria yang ditetapkan, jika memenuhi tiga syarat: menyesal atas dosa-dosanya, menyadarinya, dan tidak mengulanginya. Bahkan jika pun mengulangi perbuatan dosa, tobat seorang hamba tetap diterima-Nya.

Sebuah hadits riwayat Abu Hurairah Rhadiyallahu Anhum, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam bersabda,  “Sungguh Allah bahagia dengan tobat dari seorang hamba, dibanding kebahagiaan seseorang yang menemukan barangnya yang hilang.” (HR Muslim).

BACA JUGA  Ali Ahmad Baktsir: Sang Sastrawan Surabaya yang Abadi di Prangko Yaman

Pintu tobat itu terus dibuka-Nya saban waktu, non stop 24 jam sehari semalam, dan akan ditutup-Nya saat sakaratul maut tiba.

Semua berpulang pada kita, siap memasuki “pintu” tobat, atau bahkan menutup diri dari “pintu” tobat-Nya. Pilihan ada pada kita. Wallahu a’lam. (Ady Amar)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.