Senin, 18 Mei 2026, pukul : 09:47 WIB
Surabaya
--°C

Menelisik Kiai Sadrach dan Injil Arab Pegon dalam Misi Zending di Jawa

KEMPALAN: The Yeshiva Institute telah menyelenggarakan Web Seminar atau yang biasa disebut Webbinar dengan nama Shiur Shabbat ke-15nya. Pada episode kali ini mengangkat topik “Kiai Sadrach dan Injil Arab Pegon: Menelusuri Jejak Misi Zending di Jawa Abad XIX.” Webbinar ini diselenggarakan di platform online Zoom Meeting pada hari Jumat (2/4) pukul 20.00 WIB.

Pada episode kali ini Webbinar dipimpin oleh Zuchra Zakariya dari The Yeshiva Institute sebagai Moderator dengan empat pemateri diantaranya; Sam Ardi, Kajian Sejarah dari The Yeshiva Institute, Airlangga Pribadi dari Studi Orientalis FISIP Universitas Airlangga, Yuangga Kurnia Yahya dari Studi Agama-agama UNIDA Gontor, Menachem Ali dari Kajian Filologi FIB Universitas Airlangga.

Pada Materi pertama, yang disampaikan oleh Sam Ariadi membawakan empat narasi berupa data-data dari literatur yang ia sampaikan melalui share screen. Pada materi ini lebih menjelaskan asal-usul dari Kiai Sadrach yang dikatakan pada awalnya adalah seorang pesantren dari pondok pesantren Tebu Ireng Jombang dan Gontor di Ponorogo yang kemudian bertemu dengan missionaris dan memeluk kristen.

Beberapa info yang disampaikan oleh Sam Ariadi, Kiai Sadrach adalah seorang yang lahir di desa dukuh sekti di Jawa dan lahir dengan nama Radin pada tahun 1841. Pada saat sedang menimba ilmu di Jombang ia bertemu dengan Jellesma, seorang missionaris kristen. Kemudian dia menuntut ilmu di Gontor dan kemudian menuju semarang setelah merasa cukup ilmu. DI Semarang inilah Radin, menambahkan nama “Abas” di belakang namanya.

Pada pembahasan yang disampaikan oleh Sam Ariadi bukanlah kekristenan dia, namun terkait kebenaran informasi bahwa dia adalah santri dari Gontor dan Tebu Ireng yang menjadi perbincangan.

Diakatakan dalam karya L. Adriaanse, seorang misionaris yang bertemu dengan Sandrach dan masih satu zaman dengan dia dan Jellesman mengatakan, terdapat keterangan mengenai pendidikan di jombang, dan dia posisinya tidak jauh dengan Sadrach dan dekat dengan sekolah muslim dan bertemu dengan Jellesma di Jombang. Setelah mendapatkan ilmu tentang islam, dia kemudian melakukan perjalanan ke Semarang dan berusaha untuk belajar dengan orang aarab dan yang sudah haji untuk belajar tentang ajaran islam. Dalam Karya Adriaanse tidak disebutkan nama ponpes tempat Sandrach menimba ilmu dan disebutkan juga di catatannya bahwa Sandrach menambah “Abas” pada namanya.

Sementara itu menurut Sam Ariadi melalui karya J.F.G. Brumund, Het Volksonderwijs Onder de Javanen (1857)/Pendidikan Rakyat Jawa menyebutkan, pesantren dan lembaga” kusus di jawa disebutkan bahwa ada pondok pesantren di Ponorogo, namun tidak disebutkan namanya hanya disebutkan nama kepala ponpes nya yaitu Kyai Ageng.

Sumber buku yang mencantumkan bahwa Sandrach dari Tebu Ireng dan Gontor adalah buku “Sandrach Pencari Kebenaran (1974)” karya Sumanto WP dan mendapatkan kritik dari karya C. Guillot, L’Affaire Sandrach (1981) bahwa dalam buku ini disebutkan Sumanto salah menyebutkan secara spesifik tentang pesantren Gontor dan Tebu Ireng karena pesantren tersebut belum eksis karena perintis ponpes tebu ireng yaitu Kyai Hasyim Asy’ari belum lahir.

Pada pembahasan selanjutnya Menachem Ali mengatakan bahwa Dari dokumen-dokumen belanda yang dikeluarkan memang terdapat pesantren yang dipimpin oleh seorang kyai Hasan Besari seorang alim di jawa dan juga terdapat garis keturunan dengan keraton Surakarta yaitu dengan Raden Ronggo Warsito. Disebutkan juga Sadrach lebih intens belajar dengan zending daripada dengan islam, dia baru belajar islam secara utuh bersama para kyai dan haji saat disemarang itupun dia juga bertemu dengan zending.

Menurut Menachem, Sandrach adalah sosok misterius yang digambarkan belanda sebagai cara untuk memisahkan antara kejawen dan keislaman. Keislaman dengan arabnya dan kejawen dengan aksara jawa nya. Sementara itu, meskipun nama Sandrach sangat terkenal dalam literatur barat sebagai seorang santri, ternyata sosoknya sangat asing dalam kepustakaan Jawa dan sangat tidak dikenal di literatur pesantren.

Wacana Kristen Barat diwilayah Arab dan Nusantara dapat dikaji melalui kajian “Orientalisme” sebagaimana digagas oleh Edward Said. Hal tersebut dapat dianalisis berdasar pada penerjemahan alkitab. Alkitab bahasa Arab versi Smith dan Van Dyck dan Alkitab bahasa Arab-Pegon versi Sandrach ternyata keduanya merupakan representasi dari Kristen Barat berwajah Arab sebagai “bayang-bayang” dari hegemoni barat, dalam hal ini para kolonialis yang ingin menyingkirkan potensi kekuatan kaum pribumi dan inginn menguasai Jawa.

Dengan demikian ada dua kemungkinan yang dapat dikaji secara akademik; Yang pertama, Sadrach diwacanakan sebagai santri jebolan Gontor yang menilis injil Arab-Pegon pada masa awal dan dianggap sebagai perintis Kristen Arab di Jawa pada masa Kolonial. Yang kedua, Sadrach diwacanakan sebagai penganut “Islam Abangan” sekaligus perintis Kristen Barat “berwajah Arab” di Jawa pada Masa Kolonial. (Abdul Manaf Farid)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.