Taliban Klaim Pengurangan Kekerasan Sebagai Prakarsa Mereka, Persiapan untuk Serangan Musim Semi

waktu baca 2 menit
Anggota delegasi Taliban: mantan Gubernur Herat barat Khairullah Khairkhwa, anggota tim negosiasi Suhail Shaheen dan juru bicara kantor politik Taliban Mohammad Naeem menghadiri konferensi pers bersama di Moskow, Rusia, 19 Maret 2021/Reuters.

ISLAMABADKEMPALAN: Pejabat senior Taliban mengklaim bahwa organisasinyalah yang mengajukan proposal untuk pengurangan kekerasan selama tiga bulan berasal dari mereka, bukan dari Amerika Serikat.

“Kami telah melayangkan rencana di mana semua pihak terkait akan mengurangi kekerasan. Tapi ini bukan gencatan senjata, ”kata juru bicara Taliban Mohammad Naeem seperti yang dikutip Kempalan dari VoA. Namun, dia tidak memberikan rincian lebih lanjut. Pejabat Taliban lainnya mengatakan bahwa proposal tersebut telah dibicarakan dengan AS dan Taliban di Qatar dalam beberapa waktu.

“Kedua belah pihak bahkan mengadakan diskusi lebih lanjut selama pertemuan baru-baru ini di Doha antara Taliban dan Perwakilan Khusus AS untuk Rekonsiliasi Afghanistan, Zalmay Khalilzad,” kata pejabat Taliban yang tidak mau disebutkan namanya. Ia juga menambahkan bahwa selain juru bicara resmi mereka, tidak boleh untuk berbicara dengan media, jadi mereka hanya berbagi informasi dalam kondisi anonim, menurut VoA.

Adapun juru bicara Zabihullah Mujahid mengatakan pada Minggu (21/3) bahwa mereka sedang mempertimbangkan gagasan itu dan masih ada satu bulan sebelum pengumuman resmi atas Serangan Musim Semi dari Emirat Islam Afghanistan, nama resmi Taliban.

“Kami menunggu kemajuan dalam proses politik. Tetapi jika negosiasi [dengan pemerintah Afghanistan dan lainnya] tidak berjalan, maka kami akan memutuskan dalam sebulan apakah akan meluncurkan Serangan,” tutur Mujahid.

Adapun seorang pejabat Taliban juga menyampaikan bahwa mereka tidak membunuh satupun pasukan Amerika semenjak perjanjian Doha ditandatangani di depan banyak perwakilan negara lain.
“Jika mereka melanggar kesepakatan, kami berhak membela rakyat kami. Keputusan seperti itu juga akan memperumit negosiasi yang sedang berlangsung. AS harus memperhatikan sensitivitas situasi. Opsi militer digunakan selama 20 tahun dan AS harus berpikir sebelum melanggar perjanjian,” kata pejabat tersebut.

Pejabat Taliban itu mengklaim telah ada “kemajuan” dalam negosiasi Qatar yang katanya akan dilanjutkan dalam beberapa hari setelah para delegasi telah kembali dari Moskow.

Kekerasan yang terus terjadi di Afghanistan hingga sekarang membuat AS berpikir ulang untuk menarik pasukannya dan Joe Biden meninjau kembali Perjanjian Damai di Doha pada 2020, tindakan yang sangat ditolak oleh Taliban yang terus mendesak agar seluruh pasukan asing segera ditarik dari Afghanistan sehingga perundingan damai intra-Afghanistan berlanjut dengan lancar. (VOA/RezaMaulana Hikam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *